وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَ

Dan apabila melihat mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat,”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَٰؤُلَاءِ لَضَالُّونَwa-idzaa ra'awhum qaaluu inna haa'ulaa'i la-dhaalluunadan apabila melihat mereka, mereka berkata, sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. رَأَوْهُمْra'awhummelihat mereka
  3. قَالُواqaaluumereka berkata
  4. إِنَّinnasesungguhnya
  5. هَٰؤُلَاءِhaa'ulaa'imereka ini
  6. لَضَالُّونَla-dhaalluunabenar-benar tersesat

Inti bacaan

Tuduhan yang berbalik menjadi ironi: 'dan apabila melihat mereka, mereka berkata: sesungguhnya mereka ini benar-benar orang-orang yang sesat', pelabelan yang pada akhirnya justru mengungkap kesalahan penuduh sendiri, ironi tajam yang akan terbalik total.

Penjelasan pilihan kata

"Haa'ulaa'i" (dekat, jamak) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan "mereka ini": draf sudah tepat. Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi verba "qaaluu" (akar q-w-l) via morfologi: Tidak berlanjut ke 83:33 yang murni komentar narator orang ketiga.

Kata (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:26 dan 83:32. Di 68:26 kata yang sama diucapkan pemilik kebun yang mengira dirinya tersesat jalan.

Jadi dua tempat memakai kata yang sama, dan yang di 68:26 diucapkan orang tentang dirinya sendiri sedangkan yang di sini diucapkan orang tentang orang lain. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) di sini didahului huruf penegas di dalam ucapan itu.

Kata kerja (قَالُوا, qaaluu) berasal dari akar yang berarti mengatakan. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan ayat ini. Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda.

Kata (هَٰؤُلَاءِ, haa-ulaa-i) menunjuk yang dekat, sama seperti kata penunjuk di 83:17. Jadi dua kutipan di dalam surah ini memakai kata penunjuk yang menyatakan kedekatan, dan yang di 83:4 justru menyatakan jarak.

Kata (إِذَا, idzaa) diulang dari 83:30 dan 83:31, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama. Jadi tiga tahap ejekan disusun dengan rangka yang sama persis.

Huruf lam di dalam (لَضَالُّونَ, la-dhaalluun) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam ucapan itu. Jadi tuduhan mereka diucapkan dengan penegasan ganda, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di bagian ini.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Orang yang mendustakan hari pembalasan menuduh orang beriman tersesat, dan tuduhan itu diucapkan dengan penegasan yang paling kuat. Jadi keyakinan mereka atas kekeliruan orang lain justru yang paling tegas dinyatakan.

Ayat ini bagian keempat dari lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:33 memberi komentar. Jadi kutipan itu ditutup di dalam ayatnya sendiri, dan yang menyusul bukan lanjutan ucapan melainkan penilaian.

Kata (رَأَوْهُمْ, ra-auhum) berasal dari akar yang berarti melihat dan menimbang. Akar itu dipakai di 297 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk pandangan yang berakhir dengan tuduhan, bukan dengan pengakuan.

Kata (إِنَّ, inna) di dalam kutipan itu huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam kata terakhirnya. Jadi ucapan mereka memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam kutipan mana pun di surah ini. Susunan itu merinci tahap ketiga ejekan mereka, yaitu tuduhan yang diucapkan dengan penegasan ganda. Al-Qur'an tidak menyebut di hadapan siapa tuduhan itu diucapkan maupun apa jawabannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma satu kutipan yang ditutup di ayatnya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini mencatat ejekan puncak mereka: menuduh orang beriman sebagai orang sesat, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:26 dan 83:32.

Di 68:26 kata yang sama diucapkan pemilik kebun yang mengira dirinya tersesat jalan. Jadi dua tempat memakai kata yang sama, dan yang di sana diucapkan orang tentang dirinya sendiri sedangkan yang di sini tentang orang lain.

Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan ayat ini. Jadi tiga ucapan dikutip di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda.

Kata kelimanya menunjuk yang dekat, sama seperti kata penunjuk di 83:17. Jadi dua kutipan di dalam surah ini memakai kata penunjuk yang menyatakan kedekatan, dan yang di 83:4 justru menyatakan jarak.

Kata pertamanya diulang dari 83:30 dan 83:31, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama. Akar kata keduanya dipakai di 297 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Kata keempatnya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam kata terakhirnya, sehingga ucapan mereka memuat dua penegas sekaligus. Jadi kutipan itu ditutup di dalam ayatnya sendiri, dan yang menyusul di 83:33 bukan lanjutan ucapan melainkan penilaian atasnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 68:26 dan 83:32. Di 68:26 kata yang sama diucapkan pemilik kebun yang mengira dirinya tersesat jalan, sedangkan di sini Allah mencatatnya sebagai tuduhan orang berdosa terhadap orang beriman. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang sama untuk diri sendiri dan orang lain. Tuduhan bahwa orang beriman tersesat diucapkan dengan penegasan yang paling kuat.
  • Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 83:13, 83:17, dan 83:32. Jadi tiga ucapan dikutip Allah di dalam surah ini, dan ketiganya diucapkan pihak yang berbeda tanpa satu kata penanda yang sama. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk tiga kutipan berbeda. Yang paling yakin di dalam surah ini justru orang yang paling keliru sangkaannya.
  • Huruf di dalam kata terakhirnya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di dalam ucapan itu. Jadi tuduhan mereka diucapkan dengan penegasan ganda, dan keyakinan mereka atas kekeliruan orang lain justru yang paling tegas dinyatakan di dalam surah Allah ini. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua penegas berdiri di dalam satu ucapan yang cuma tiga kata. Yang paling yakin di dalam surah ini justru orang yang paling keliru sangkaannya.
  • Kata kelimanya menunjuk yang dekat, sama seperti kata penunjuk di 83:17. Jadi dua kutipan di dalam surah ini memakai kata penunjuk yang menyatakan kedekatan, sedangkan yang di 83:4 justru menyatakan jarak, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu. Perbedaan jarak itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga kata penunjuknya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan masing-masing. Tuduhan bahwa orang beriman tersesat diucapkan dengan penegasan yang paling kuat.
  • Kata pertamanya diulang dari 83:30 dan 83:31, sehingga tiga ayat berturut-turut dibuka dengan penanda yang sama. Jadi tiga tahap ejekan disusun Allah dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma perbuatannya di masing-masing ayat. Kesejajaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan tiga ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian penanda yang sama. Tuduhan bahwa orang beriman tersesat diucapkan dengan penegasan yang paling kuat.
  • Ayat ini bagian keempat dari lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:33 memberi komentar. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika Allah menutup kutipannya lalu langsung menilainya di ayat berikutnya, bukan membiarkannya berdiri sendiri? Penutupan kutipan itu bisa diperiksa siapa pun lewat morfologi kata kerjanya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penilaian yang menyusul di ayat berikutnya. Yang paling yakin di dalam surah ini justru orang yang paling keliru sangkaannya.