وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ
Padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang itu.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَwa-maa ursiluu 'alayhim haafizhiinapadahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang itu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- أُرْسِلُواursiluumereka diutus
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- حَافِظِينَhaafizhiinapara penjaga
Inti bacaan
Pengungkapan kurangnya otoritas moral: 'padahal mereka tidak diutus sebagai penjaga atas orang-orang itu', penegasan bahwa para pengejek tidak memiliki mandat untuk menghakimi orang lain, tindakan yang melampaui batas kewenangan mereka.
Penjelasan pilihan kata
Komentar narator orang ketiga, menandai kutip 83:32 telah tertutup: tidak ada penanda kutip pada ayat ini.
Kata (حَافِظِينَ, haafizhiin) muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 12:81, 21:82, 33:35, 82:10, dan 83:33. Kesejajaran dengan 82:10 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf.
Jadi dua surah yang bersebelahan memakai kata yang sama, dan yang di 82:10 menyatakan ada penjaga atas manusia sedangkan yang di sini menyatakan mereka bukan penjaga. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (حَافِظِينَ, haafizhiin) di sini berbaris fathah sebagai keterangan keadaan.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan keberadaan penjaga, di sini dipakai untuk menolak kedudukan itu bagi orang berdosa. Jadi satu kata dipakai untuk menetapkan dan untuk menyangkal. Kata (أُرْسِلُوا, ursiluu) mendahuluinya, dan bentuknya berbentuk penderita.
Kata kerja (أُرْسِلُوا, ursiluu) berasal dari akar yang berarti mengutus. Akar itu dipakai di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sini ia dipakai untuk orang berdosa, bukan untuk utusan Allah.
Jadi akar yang di ratusan ayat menamai pengiriman rasul, di sini dipakai untuk menyangkal bahwa orang berdosa dikirim sebagai pengawas. Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian itu dengan satu kalimat pun. Kata (وَمَا, wa maa) membuka ayatnya, dan ia huruf pengingkaran, bukan kata sambung.
Bentuk (أُرْسِلُوا, ursiluu) berbentuk penderita, sehingga yang mengirim tidak disebutkan. Jadi penyangkalannya berpusat pada kedudukan mereka, bukan pada pihak yang bisa mengirim, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya.
Kata (وَمَا, wa maa) di awal ayat huruf pengingkaran, sedangkan kata yang berbunyi sama di 83:14 kata sambung. Jadi satu bunyi berdiri dengan dua kedudukan yang berbeda di dalam surah ini.
Ayat ini menutup lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:34 membalikkan keadaan. Jadi komentar itu berdiri sebagai jeda di antara ejekan di dunia dan pembalikannya di akhirat.
Kata (عَلَيْهِمْ, 'alaihim) memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:32, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang seharusnya dijaga, dan Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya di dalam ayat ini.
Kata (حَافِظِينَ, haafizhiin) berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:31. Jadi dua ayat di dalam bagian ini melukiskan kedudukan lewat kata sifat yang menempel pada kata kerjanya tanpa satu kata penghubung. Susunan itu memberi penilaian atas tuduhan mereka tanpa membantah isinya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang berhak menilai maupun apa hukumannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang menutup lima ayat tentang ejekan di dunia.
Tafsiran
Ayat ini mengomentari bahwa orang-orang berdosa itu tidak memiliki wewenang untuk menghakimi orang beriman, dan kata terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 12:81, 21:82, 33:35, 82:10, dan 83:33.
Kesejajaran dengan 82:10 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai kata yang sama.
Yang di 82:10 menyatakan ada penjaga atas manusia, dan yang di sini menyatakan mereka bukan penjaga. Jadi satu kata dipakai untuk menetapkan dan untuk menyangkal.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sini ia dipakai untuk orang berdosa, bukan untuk utusan Allah.
Ayat ini menutup lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:34 membalikkan keadaan. Kata ketiganya memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman di 83:32, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Kata terakhirnya berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan susunan semacam itu dipakai juga di 83:31 pada kata yang berbeda. Jadi komentar itu berdiri sebagai jeda di antara ejekan di dunia dan pembalikannya di akhirat tanpa satu kata penghubung.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 12:81, 21:82, 33:35, 82:10, dan 83:33. Di 82:10 Allah menyatakan ada penjaga atas manusia, dan di sini Dia menyatakan mereka bukan penjaga. Jadi satu kata dipakai untuk menetapkan dan untuk menyangkal. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian kata yang sama di dua surah bersebelahan. Yang dibantah bukan isi tuduhan mereka melainkan hak mereka untuk menuduh.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 429 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sini ia dipakai untuk orang berdosa, bukan untuk utusan-Nya, dan penyangkalannya justru memakai kata yang menamai pengutusan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar pengutusan untuk penyangkalan ini. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan adanya penjaga, di sini menyangkal kedudukan itu.
- Bentuk kata keduanya berbentuk penderita, sehingga yang mengirim tidak disebutkan. Jadi penyangkalan Allah berpusat pada kedudukan mereka, bukan pada pihak yang bisa mengirim, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Ketiadaan pengirim itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menggeser pusat penyangkalan dari kedudukan mereka kepada pihak lain. Yang dibantah bukan isi tuduhan mereka melainkan hak mereka untuk menuduh.
- Kata pertamanya huruf pengingkaran, sedangkan kata yang berbunyi sama di 83:14 kata sambung. Jadi satu bunyi berdiri dengan dua kedudukan yang berbeda di dalam surah ini, dan Allah tidak menandai perbedaan itu dengan satu kata pun. Perbedaan kedudukan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian bunyi yang sama. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan adanya penjaga, di sini menyangkal kedudukan itu.
- Ayat ini menutup lima ayat tentang ejekan, dan sesudahnya 83:34 membalikkan keadaan. Jadi komentar Allah berdiri sebagai jeda di antara ejekan di dunia dan pembalikannya di akhirat, dan Al-Qur'an tidak menandai jeda itu dengan satu kata penghubung. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa bagian tentang ejekan sudah berhenti di sini. Kata yang di surah sebelumnya menegaskan adanya penjaga, di sini menyangkal kedudukan itu.
- Yang disangkal Allah bukan isi tuduhan mereka melainkan kedudukan mereka untuk menuduh. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika yang dibantah bukan benar atau salahnya, melainkan hak orang yang mengucapkannya untuk menilai sama sekali? Yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata itu, dan menambahkan hukuman bagi mereka berarti menaruh apa yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Yang dibantah bukan isi tuduhan mereka melainkan hak mereka untuk menuduh.