Ayat 84:1

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Apabila langit terbelah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْidzaa s-samaa'u nsyaqqatapabila langit terbelah

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِذَاidzaaapabila
  2. السَّمَاءُs-samaa'ulangit
  3. انْشَقَّتْnsyaqqatterbelah

Inti bacaan

Pembukaan Al-Inshiqaq dengan tanda kosmik: 'apabila langit terbelah', awal rangkaian tanda kehancuran yang menjadi tema pembuka surah, konsisten dengan pola surah-surah eskatologis sebelumnya.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri.

Kata kerja (انْشَقَّتْ, insyaqqat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti terbelah. Ia dipakai di 25 ayat, antara lain 2:74, 19:90, 50:44, 54:1, dan 55:37. Di 54:1 akar itu dipakai untuk bulan yang terbelah.

Kesejajaran dengan 54:1 patut dicatat, sebab bulan disebut juga di dalam surah ini pada 84:18. Jadi satu akar mengikat langit yang terbelah di sini dan bulan yang terbelah di sana, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Bentuk (انْشَقَّتْ, insyaqqat) berpola ketujuh, sehingga artinya terbelah dengan sendirinya, bukan dibelah oleh pihak lain. Jadi pelakunya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan perbuatan itu dinyatakan seolah datang dari benda itu sendiri.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang pasti terjadi, bukan kemungkinan yang masih ditimbang. Jadi peristiwanya dinyatakan sebagai yang akan datang tanpa keraguan, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:3 serta 84:18.

Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi keterangan waktunya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan dengan penanda yang jelas. Jadi lima ayat pertama menggantung bersama, dan yang datang sesudahnya justru sapaan kepada manusia di 84:6.

Bentuk (انْشَقَّتْ, insyaqqat) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata yang mendahuluinya. Jadi langit dilukiskan sebagai pelaku yang mengerjakan sesuatu, bukan sebagai benda yang dikenai perbuatan, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Ayat ini membuka rangkaian lima ayat yang seluruhnya melukiskan tanda-tanda kehancuran. Jadi bagian pertama surah ini tidak memuat satu pun kalimat yang berdiri sendiri, dan seluruhnya bergantung pada apa yang menyusul sesudahnya.

Kata (السَّمَاءُ, as-samaa-u) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sedangkan di surah tetangga kata yang sejenis sering berbaris kasrah sesudah huruf sumpah. Jadi surah ini membuka dengan keterangan waktu, bukan dengan sumpah, dan perbedaan itu terbawa di dalam baris kata pertamanya sendiri tanpa satu kata penanda pun.

Bentuk (انْشَقَّتْ, insyaqqat) berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi. Jadi kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, bukan lewat kata penegas, dan cara yang sama dipakai lagi di 84:2 sampai 84:5. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan bentuk itu dengan satu kalimat pun di dalam surahnya. Susunan itu membuat pembacanya menunggu kalimat pokoknya, dan penantian itu berlangsung sampai lima ayat penuh. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang akan terjadi ketika langit terbelah, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma gambaran itu sendiri beserta empat gambaran lain yang menyusulnya tanpa satu kesimpulan pun.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian tanda kehancuran kosmis Hari Kiamat, pola serupa Surah 81 dan 82, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 2:74, 19:90, 50:44, 54:1, dan 55:37. Di 54:1 akar itu dipakai untuk bulan yang terbelah, dan bulan disebut juga di dalam surah ini pada 84:18.

Jadi satu akar mengikat langit yang terbelah di sini dan bulan yang terbelah di sana, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Bentuk kata kerjanya berpola ketujuh, sehingga artinya terbelah dengan sendirinya, bukan dibelah oleh pihak lain. Jadi pelakunya tidak disebutkan di dalam ayatnya.

Kata pertamanya menandai waktu yang pasti terjadi, bukan kemungkinan yang masih ditimbang, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:3 serta 84:18. Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sedangkan di surah tetangga kata yang sejenis sering berbaris kasrah sesudah huruf sumpah. Jadi surah ini membuka dengan keterangan waktu, bukan dengan sumpah. Bentuk kata kerjanya berbentuk lampau, padahal peristiwanya belum terjadi, sehingga kepastiannya dinyatakan lewat bentuk waktu, bukan lewat kata penegas. Jadi lima ayat pertama menggantung bersama, dan yang datang sesudahnya justru sapaan kepada manusia di 84:6, bukan jawaban bagi keterangan waktunya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya dipakai Allah di 25 ayat, antara lain 2:74, 19:90, 50:44, 54:1, dan 55:37. Di 54:1 akar itu dipakai untuk bulan yang terbelah, dan bulan disebut juga di dalam surah ini pada 84:18. Jadi satu akar mengikat dua benda langit yang terbelah di dua surah yang berbeda. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftar tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua benda langit yang berjauhan letaknya.
  • Bentuk kata kerjanya berpola ketujuh, sehingga artinya terbelah dengan sendirinya, bukan dibelah oleh pihak lain. Jadi Allah tidak menyebutkan pelakunya di dalam ayatnya, dan perbuatan itu dinyatakan seolah datang dari benda itu sendiri tanpa satu kata penyebab pun. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh pola kata yang dipilih di dalam ayatnya. Lima gambaran tanpa kalimat pokok membuat pembacanya menahan napas sampai ayat keenam.
  • Kata pertamanya menandai waktu yang pasti terjadi, bukan kemungkinan yang masih ditimbang. Jadi Allah menyatakan peristiwanya sebagai yang akan datang tanpa keraguan, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:3 serta 84:18 pada dua bagian surah yang berbeda. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu kata waktu dipakai di dua rangkaian yang berbeda jenisnya di dalam surah ini. Langit yang terbelah sendiri tidak menunggu perintah yang terdengar.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata yang mendahuluinya. Jadi Allah melukiskan langit sebagai pelaku yang mengerjakan sesuatu, bukan sebagai benda yang dikenai perbuatan, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pilihan yang membuat langit terbaca sebagai pelaku, bukan sebagai benda yang dikenai.
  • Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi keterangan waktunya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan Allah dengan penanda yang jelas. Apa yang dikerjakan lima gambaran kehancuran pada pembacanya ketika tidak satu pun ditutup dengan kalimat yang lengkap? Yang tersedia bagi pembacanya cuma lima gambaran itu sendiri, dan menambahkan kalimat penutup berarti menaruh kesimpulan yang tidak disediakan susunan ayat-ayatnya. Langit yang terbelah sendiri tidak menunggu perintah yang terdengar.
  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 25 ayat. Jadi akar yang tersebar di puluhan ayat memberi satu bentuk yang berdiri di ayat pembuka surah ini, dan tidak ada tempat lain yang memakai bentuk itu untuk dibandingkan. Yang bisa diperiksa cuma di mana bentuk itu dipakai, dan menyimpulkan lebih jauh berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis di dalam ayat pembuka surah ini. Lima gambaran tanpa kalimat pokok membuat pembacanya menahan napas sampai ayat keenam.

Ayat 84:2

وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْwa-adzinat li-rabbihaa wa-huqqatdan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَأَذِنَتْwa-adzinatdan patuh
  2. لِرَبِّهَاli-rabbihaakepada Tuhannya
  3. وَحُقَّتْwa-huqqatdan sudah semestinya

Inti bacaan

Ketundukan total struktur kosmik: 'dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh', personifikasi langit yang menunjukkan ketaatan mutlak, model ketundukan yang seharusnya juga ditunjukkan makhluk berakal.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ, wa adzinat li-rabbihaa wa huqqat) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 84:2 dan 84:5. Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada satu surah lain pun yang memakainya.

Akar (وَأَذِنَتْ, wa adzinat) berarti telinga dan izin. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:5. Jadi akar itu tidak dipakai di ayat lain mana pun di dalam surahnya, dan kedua pemakaiannya berada di dalam rangkaian yang sama persis.

Akar (وَحُقَّتْ, wa huqqat) berarti benar dan pasti. Akar itu juga muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:5. Jadi dua akar sekaligus terkunci ke dalam satu rangkaian yang diulang, dan keduanya tidak muncul di tempat lain di surahnya.

Bentuk (وَحُقَّتْ, wa huqqat) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia memang sepatutnya begitu, bukan ia menuntut kepatutan. Jadi ada pihak yang menetapkan kepatutan itu, dan pihaknya tidak disebutkan di dalam ayatnya.

Kata (لِرَبِّهَا, li-rabbihaa) berasal dari akar yang berarti memelihara sampai matang. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 84:5, 84:6, dan 84:15. Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang sama menamai Tuhan yang dipatuhi langit, Tuhan yang dipatuhi bumi, Tuhan yang ditemui manusia, dan Tuhan yang mengawasinya. Jadi satu akar mengikat empat ayat yang tersebar di tiga bagian surahnya. Kata (وَحُقَّتْ, wa huqqat) di sini menutup ayatnya, dan letaknya sama persis di 84:5.

Huruf lam di depan (لِرَبِّهَا, li-rabbihaa) menyatakan kepada siapa kepatuhan itu diberikan, bukan untuk apa. Jadi arahnya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah hubungan antara langit dan Tuhannya.

Ayat ini bagian dari rangkaian yang belum ditutup, sebab keterangan waktunya dibuka di 84:1 dan tidak dijawab. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa peristiwa yang diterangkannya.

Bentuk (وَأَذِنَتْ, wa adzinat) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti langit yang disebut di 84:1. Jadi ayat ini melanjutkan kalimat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pelaku yang dimaksudkan. Al-Qur'an tidak mengulang penyebutan pelakunya di dalam ayat ini walau sekali.

Kata (وَحُقَّتْ, wa huqqat) berdiri di ujung ayat sebagai penutup, dan letaknya sama persis di 84:5. Jadi dua ayat yang berjauhan empat baris ditutup dengan kata yang sama, dan kesejajaran itu membuat keduanya terbaca sebagai satu pengulangan yang disengaja. Susunan itu membuat kepatuhan dan kepatutan terbaca sebagai satu tarikan, dan memisahkan keduanya akan menghapus penguatan yang dibawa kata terakhirnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa bentuk kepatuhan langit itu, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang diulang persis empat baris kemudian.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kepatuhan penuh langit terhadap perintah Tuhannya, dan rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 84:2 dan 84:5.

Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada satu surah lain pun yang memakainya. Akar kata pertamanya muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:5, dan akar kata terakhirnya juga demikian.

Jadi dua akar sekaligus terkunci ke dalam satu rangkaian yang diulang, dan keduanya tidak muncul di tempat lain di dalam surahnya.

Bentuk kata terakhirnya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia memang sepatutnya begitu, bukan ia menuntut kepatutan. Jadi ada pihak yang menetapkan kepatutan itu, dan pihaknya tidak disebutkan.

Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 84:5, 84:6, dan 84:15. Bentuk kata pertamanya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti langit yang disebut di 84:1. Jadi ayat ini melanjutkan kalimat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pelaku yang dimaksudkan. Kata terakhirnya berdiri di ujung ayat sebagai penutup, dan letaknya sama persis di 84:5. Jadi dua ayat yang berjauhan empat baris ditutup dengan kata yang sama, dan kesejajaran itu membuat keduanya terbaca sebagai satu pengulangan yang disengaja.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 84:2 dan 84:5. Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan tidak ada satu surah lain pun yang memakainya. Allah mengulang kalimat yang sama persis untuk langit dan untuk bumi tanpa satu kata pembeda. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa satu kalimat diulang persis di dalam satu surah pendek.
  • Akar kata pertama dan akar kata terakhirnya sama-sama muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:2 dan 84:5. Jadi dua akar sekaligus terkunci ke dalam satu rangkaian yang diulang Allah, dan keduanya tidak muncul di ayat lain mana pun di dalam surahnya. Kesejajaran itu berlaku sampai ke akarnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua akar sekaligus tidak dipakai di ayat lain mana pun di dalam surahnya. Kalimat yang diulang persis empat baris kemudian mengikat langit dan bumi jadi satu.
  • Bentuk kata terakhirnya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia memang sepatutnya begitu, bukan ia menuntut kepatutan. Jadi ada pihak yang menetapkan kepatutan itu, dan Allah tidak menyebutkan pihaknya di dalam ayatnya sama sekali. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderita yang dipilih. Kepatuhan yang disebut sebagai kepatutan menutup ruang untuk bertanya mengapa.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 84:2, 84:5, 84:6, dan 84:15. Akar yang sama menamai Allah yang dipatuhi langit, yang dipatuhi bumi, yang ditemui manusia, dan yang mengawasinya. Jadi satu akar mengikat tiga bagian surahnya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik penyebaran satu akar di tiga bagian surahnya. Kepatuhan yang disebut sebagai kepatutan menutup ruang untuk bertanya mengapa.
  • Huruf di depan kata keduanya menyatakan kepada siapa kepatuhan itu diberikan, bukan untuk apa. Jadi arahnya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan mengubah hubungan antara langit dan Allah yang disebut sebagai Tuhannya. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah arah kepatuhan yang dinyatakan susunan katanya sendiri. Kepatuhan yang disebut sebagai kepatutan menutup ruang untuk bertanya mengapa.
  • Ayat ini bagian dari rangkaian yang belum ditutup, sebab keterangan waktunya dibuka di 84:1 dan tidak dijawab Allah. Apa yang berubah pada gambaran kepatuhan ketika ia diletakkan di dalam kalimat yang tidak pernah diselesaikan? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat pembuka yang mendahuluinya, dan memisahkan ayat ini berarti kehilangan peristiwa yang sedang diterangkan susunannya. Kalimat yang diulang persis empat baris kemudian mengikat langit dan bumi jadi satu.