وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْ
Dan apabila bumi diratakan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا الْأَرْضُ مُدَّتْwa-idzaa l-ardhu muddatdan apabila bumi diratakan
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- الْأَرْضُl-ardhubumi
- مُدَّتْmuddatdiratakan
Inti bacaan
Tanda kedua tentang transformasi bumi: 'dan apabila bumi diratakan-dibentangkan', perubahan struktur permukaan bumi yang menegaskan skala peristiwa kosmik.
Penjelasan pilihan kata
Kata majemuk ganjil "diratakan-dibentangkan" disederhanakan menjadi "diratakan" saja. Kata (مُدَّتْ, muddat) di sini berbentuk penderita, bukan bentuk yang berdiri sendiri.
Kata kerja (مُدَّتْ, muddat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti memanjangkan. Ia dipakai di 29 ayat, antara lain 13:3, 15:19, 18:109, 31:27, dan 50:7. Di 13:3 dan 50:7 akar itu dipakai untuk bumi yang dibentangkan.
Jadi akar yang di dua tempat lain menamai pembentangan bumi pada penciptaannya, di sini menamai pembentangan bumi pada kehancurannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (الْأَرْضُ, al-ardh) mendahuluinya, dan ia berbaris damah sebagai pokok kalimat.
Bentuk (مُدَّتْ, muddat) berbentuk penderita, berbeda dari bentuk di 84:1 yang menyatakan perbuatan yang datang dari bendanya sendiri. Jadi langit terbelah sendiri dan bumi diratakan oleh pihak lain, dan pihak itu tidak disebutkan.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Dua ayat pembuka rangkaian memakai dua bentuk yang berlawanan arah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kata pun. Yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berdiri berdampingan.
Kata (وَإِذَا, wa idzaa) diulang dari 84:1 dengan tambahan kata sambung. Jadi ayat ini membuka bagian kedua rangkaiannya, dan susunan yang sama dipakai lagi di 84:18 pada rangkaian sumpah yang berbeda.
Kata (الْأَرْضُ, al-ardh) berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti kata pokok di 84:1. Jadi dua ayat pembuka dibangun dengan rangka yang sama: keterangan waktu, pokok kalimat, lalu kata kerjanya.
Ayat ini membuka tiga ayat tentang bumi, sedangkan dua ayat sebelumnya tentang langit. Jadi rangkaiannya terbagi dua dengan pembagian yang tidak sama besar, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun.
Kata (الْأَرْضُ, al-ardh) berasal dari akar yang berarti bumi. Akar itu dipakai di 440 ayat, antara lain 2:22, 7:54, 20:6, 31:20, dan 71:19, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk bumi yang diratakan pada hari kehancuran.
Bentuk (مُدَّتْ, muddat) berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, sama seperti bentuk kata kerja di 84:1. Jadi dua ayat pembuka dua bagian rangkaiannya memakai bentuk yang sama, dan yang berbeda cuma arah perbuatannya. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata pun. Susunan itu membuat pembacanya berpindah dari langit ke bumi tanpa satu kata penghubung selain huruf sambung, dan perpindahan itu tidak diberi keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang meratakan bumi maupun kapan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rangkaian tanda kehancuran dengan bumi yang diratakan, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 29 ayat, antara lain 13:3, 15:19, 18:109, 31:27, dan 50:7. Di 13:3 dan 50:7 akar itu dipakai untuk bumi yang dibentangkan pada penciptaannya.
Jadi akar yang di dua tempat lain menamai pembentangan bumi pada penciptaannya, di sini menamai pembentangan bumi pada kehancurannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita, berbeda dari bentuk di 84:1 yang menyatakan perbuatan yang datang dari bendanya sendiri. Jadi langit terbelah sendiri dan bumi diratakan oleh pihak lain, dan pihak itu tidak disebutkan.
Kata pertamanya diulang dari 84:1 dengan tambahan kata sambung, sehingga ayat ini membuka bagian kedua rangkaiannya. Akar kata keduanya dipakai di 440 ayat, antara lain 2:22, 7:54, 20:6, 31:20, dan 71:19, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Bentuk kata terakhirnya berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, sama seperti bentuk kata kerja di 84:1, sehingga dua ayat pembuka dua bagian rangkaiannya memakai bentuk yang sama. Jadi rangkaiannya terbagi dua dengan pembagian yang tidak sama besar: dua ayat untuk langit dan tiga ayat untuk bumi, dan Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kerjanya dipakai Allah di 29 ayat, antara lain 13:3, 15:19, 18:109, 31:27, dan 50:7. Di 13:3 dan 50:7 akar itu dipakai untuk bumi yang dibentangkan pada penciptaannya. Jadi akar yang menamai pembentangan pada awalnya, di sini menamai pembentangan pada akhirnya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua peristiwa yang berlawanan waktunya.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita, berbeda dari bentuk di 84:1 yang menyatakan perbuatan yang datang dari bendanya sendiri. Jadi langit terbelah sendiri dan bumi diratakan oleh pihak lain, dan Allah tidak menyebutkan pihak itu di dalam ayatnya. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pertentangan antara benda yang bergerak sendiri dan benda yang digerakkan. Bumi yang diratakan kehilangan seluruh tempat bersembunyi yang pernah ada padanya.
- Kata keduanya berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya, sama seperti kata pokok di 84:1. Jadi dua ayat pembuka dibangun Allah dengan rangka yang sama: keterangan waktu, pokok kalimat, lalu kata kerjanya, dan kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat pembuka dibangun dengan urutan kata yang sama persis. Bumi yang diratakan kehilangan seluruh tempat bersembunyi yang pernah ada padanya.
- Ayat ini membuka tiga ayat tentang bumi, sedangkan dua ayat sebelumnya tentang langit. Jadi rangkaiannya terbagi dua dengan pembagian yang tidak sama besar, dan Allah tidak menandai pembagian itu dengan satu kata penghubung pun di antaranya. Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan mengapa bumi diberi satu ayat lebih daripada langit. Akar yang menamai penciptaan dipakai lagi untuk kehancuran tanpa satu kata penghubung.
- Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 29 ayat. Jadi akar yang tersebar di puluhan ayat memberi satu bentuk yang berdiri di ayat ini saja, dan pembacanya cuma punya ayat ini untuk menimbang apa yang dimaksudkannya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan bentuknya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam susunannya. Akar yang menamai penciptaan dipakai lagi untuk kehancuran tanpa satu kata penghubung.
- Kata pertamanya diulang dari 84:1 dengan tambahan kata sambung, dan susunan yang sama dipakai Allah lagi di 84:18 pada rangkaian sumpah yang berbeda. Apa yang diikat sebuah kata waktu ketika ia muncul di dua bagian surah yang tidak berhubungan? Yang bisa dicatat cuma di mana kata itu dipakai, dan menyimpulkan tentang hubungan dua bagiannya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan surahnya. Bumi yang diratakan kehilangan seluruh tempat bersembunyi yang pernah ada padanya.