وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ
Dan memuntahkan apa yang di dalamnya lalu mengosong,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْwa-alqat maa fiihaa wa-takhallatdan memuntahkan apa yang di dalamnya lalu mengosong
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَلْقَتْwa-alqatdan mengeluarkan
- مَاmaaapa yang
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- وَتَخَلَّتْwa-takhallatdan mengosongkan diri
Inti bacaan
Pengosongan total isi bumi: 'dan memuntahkan apa yang di dalamnya lalu mengosong', citra dramatis bumi yang melepaskan seluruh kandungannya, termasuk jasad yang terkubur.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (وَتَخَلَّتْ, wa takhallat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kosong dan berlalu. Ia dipakai di 28 ayat, antara lain 2:14, 3:137, 13:6, 35:24, dan 46:21, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai berlalunya masa atau menyendiri.
Jadi akar yang di puluhan ayat menamai masa yang berlalu, di sini menamai bumi yang mengosongkan dirinya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (وَتَخَلَّتْ, wa takhallat) di sini berpola kelima, bukan pola pertama.
Kata kerja (وَأَلْقَتْ, wa alqat) berasal dari akar yang berarti menemui. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:6. Jadi satu akar menamai bumi yang melemparkan isinya dan manusia yang menemui Tuhannya.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Yang dilemparkan bumi keluar dari dirinya, dan yang ditemui manusia berada di ujung jalannya. Jadi satu akar dipakai untuk mengeluarkan dan untuk berjumpa, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu.
Kata (مَا, maa) di ayat ini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi isi bumi tidak dinamai sama sekali, dan menyisipkan namanya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya.
Bentuk (وَتَخَلَّتْ, wa takhallat) berpola kelima, sehingga perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri. Jadi bumi mengosongkan dirinya, bukan dikosongkan pihak lain, dan itu berbeda dari bentuk penderita di 84:3.
Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bumi yang disebut di 84:3. Jadi ayat ini melanjutkan kalimat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pelakunya. Kata (وَأَلْقَتْ, wa alqat) mendahuluinya, dan keduanya berbentuk perempuan tunggal.
Susunan ayat ini menaruh perbuatan mengeluarkan lebih dulu dan pengosongan belakangan. Jadi akibat disebut sesudah sebabnya, dan urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun.
Kata (فِيهَا, fiihaa) memakai kata ganti perempuan tunggal yang menunjuk bumi di 84:3. Jadi tiga ayat dari 84:3 sampai ayat ini terikat kepada satu pelaku, dan pelaku itu cuma disebut sekali di awalnya. Al-Qur'an tidak mengulang penyebutannya walau sekali di dua ayat sesudahnya.
Bentuk (وَأَلْقَتْ, wa alqat) berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu terlempar keluar. Jadi perbuatannya menuntut benda yang dilemparkan, dan benda itu disebut sesudahnya tanpa dinamai. Perbedaan pola itu terbawa di dalam huruf tambahannya sendiri tanpa satu kata keterangan pun. Susunan itu membuat pengeluaran isi dan pengosongan terbaca sebagai satu gerak, dan memisahkan keduanya akan memutus gambarannya. Al-Qur'an tidak menyebut apa isi bumi yang dilemparkan maupun ke mana ia dilemparkan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan bumi yang mengeluarkan seluruh isinya hingga kosong, dan kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:14, 3:137, 13:6, 35:24, dan 46:21, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai berlalunya masa atau menyendiri. Jadi akar yang menamai masa yang berlalu, di sini menamai bumi yang mengosongkan dirinya.
Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:6. Jadi satu akar menamai bumi yang melemparkan isinya dan manusia yang menemui Tuhannya.
Yang dilemparkan bumi keluar dari dirinya, dan yang ditemui manusia berada di ujung jalannya. Jadi satu akar dipakai untuk mengeluarkan dan untuk berjumpa.
Bentuk kata terakhirnya berpola kelima, sehingga perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri, berbeda dari bentuk penderita di 84:3. Kata ketiganya memakai kata ganti perempuan tunggal yang menunjuk bumi di 84:3. Jadi tiga ayat dari 84:3 sampai ayat ini terikat kepada satu pelaku, dan pelaku itu cuma disebut sekali di awalnya. Bentuk kata pertamanya berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu terlempar keluar dari tempatnya. Jadi susunan ayat ini menaruh perbuatan mengeluarkan lebih dulu dan pengosongan belakangan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:4 dan 84:6. Yang dilemparkan bumi keluar dari dirinya, dan yang ditemui manusia berada di ujung jalannya. Jadi Allah memakai satu akar untuk mengeluarkan dan untuk berjumpa tanpa satu kata penghubung. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat dua peristiwa yang berjarak dua ayat di dalam surah ini.
- Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 28 ayat, antara lain 2:14, 3:137, 13:6, 35:24, dan 46:21. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai berlalunya masa, dan di sini ia menamai bumi yang mengosongkan dirinya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang biasanya menamai masa yang berlalu. Isi yang tidak dinamai membuat pembacanya sendiri yang menghitung apa saja yang keluar.
- Kata ketiganya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi Allah tidak menamai isi bumi sama sekali, dan menyisipkan namanya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin. Apa yang dibayangkan pembaca ketika yang dikeluarkan sengaja tidak disebut? Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang sengaja dibiarkan seluas mungkin oleh kata sambungnya. Bumi yang mengosongkan dirinya tidak menyisakan apa pun yang pernah dikuburkan padanya.
- Bentuk kata terakhirnya berpola kelima, sehingga perbuatannya disandarkan kepada pelakunya sendiri. Jadi bumi mengosongkan dirinya, bukan dikosongkan pihak lain, dan itu berbeda dari bentuk penderita yang dipakai Allah di 84:3 pada ayat sebelumnya. Perbedaan pola itu terbawa di dalam huruf tambahannya, dan menggantinya dengan pola lain akan mengubah siapa yang mengerjakan perbuatan di dalam ayatnya. Bumi yang mengosongkan dirinya tidak menyisakan apa pun yang pernah dikuburkan padanya.
- Kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau dan berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bumi yang disebut di 84:3. Jadi ayat ini melanjutkan kalimat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pelaku yang disebut Allah. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat sebelumnya, dan memisahkan ayat ini berarti kehilangan pelaku yang sedang mengerjakan dua perbuatan itu. Isi yang tidak dinamai membuat pembacanya sendiri yang menghitung apa saja yang keluar.
- Susunan ayat ini menaruh perbuatan mengeluarkan lebih dulu dan pengosongan belakangan. Jadi Allah menyebut akibat sesudah sebabnya, dan urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun di dalam surahnya. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa pengosongan disebut sesudah pengeluaran di dalam susunan ayatnya sendiri. Bumi yang mengosongkan dirinya tidak menyisakan apa pun yang pernah dikuburkan padanya.