وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ

Dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْwa-adzinat li-rabbihaa wa-huqqatdan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَأَذِنَتْwa-adzinatdan patuh
  2. لِرَبِّهَاli-rabbihaakepada Tuhannya
  3. وَحُقَّتْwa-huqqatdan sudah semestinya

Inti bacaan

Pengulangan ketundukan yang menegaskan pola: 'dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya ia patuh', repetisi yang sama dengan 84:2, kini diterapkan pada bumi, menegaskan bahwa seluruh elemen kosmik (langit dan bumi) sama-sama tunduk tanpa perlawanan.

Penjelasan pilihan kata

Frasa identik dengan 84:2, menegaskan kepatuhan langit dan bumi dengan pola refrain yang sama.

Rangkaian (وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ, wa adzinat li-rabbihaa wa huqqat) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 84:2 dan 84:5. Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan pengulangan sepersis itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di surahnya.

Kata (لِرَبِّهَا, li-rabbihaa) memakai kata ganti perempuan tunggal, dan di ayat ini ia menunjuk bumi, sedangkan di 84:2 ia menunjuk langit. Jadi satu kata ganti menunjuk dua benda yang berbeda di dua ayat yang sama bunyinya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Bunyi keduanya sama persis, tetapi yang ditunjuk berbeda, dan pembacanya harus melihat ayat sebelumnya untuk mengetahui siapa yang dimaksud. Al-Qur'an tidak menandai pergantian itu dengan satu kata pun.

Bentuk (وَأَذِنَتْ, wa adzinat) berbentuk lampau, sehingga kepatuhan itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi, padahal peristiwanya belum datang. Jadi waktunya tidak sejajar dengan keterangan waktu di 84:1, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Akar (وَحُقَّتْ, wa huqqat) berarti benar dan pasti. Akar itu cuma muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:2 dan ayat ini. Jadi akar itu terkunci ke dalam rangkaian yang diulang, dan ia tidak dipakai di ayat lain mana pun di surahnya.

Ayat ini menutup rangkaian lima ayat tanda kehancuran, dan sesudahnya 84:6 berpindah kepada sapaan langsung. Jadi bagian pertama surah ini berhenti tanpa satu kalimat pun yang berdiri sendiri.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 84:2 sampai ke hurufnya. Jadi kepatuhan langit dan kepatuhan bumi dinyatakan dengan kalimat yang tidak berbeda satu huruf pun, dan perbedaan keduanya cuma pada letaknya.

Bentuk (وَحُقَّتْ, wa huqqat) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bumi yang disebut di 84:3, sedangkan bentuk yang sama di 84:2 mengikuti langit. Jadi satu bentuk melayani dua pelaku yang berbeda di dua ayat yang sama bunyinya, dan pembacanya harus melihat ayat yang lebih awal untuk mengenalinya.

Kata (وَأَذِنَتْ, wa adzinat) berasal dari akar yang berarti telinga dan izin. Akar itu di tempat lain sering menamai perbuatan mendengar dan memberi izin. Jadi akar yang menamai telinga dan izin, di sini menamai kepatuhan bumi dan langit kepada Tuhannya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu. Susunan itu membuat pembacanya membaca kalimat yang sama untuk kedua kalinya, dan pengulangan itu yang menutup seluruh rangkaiannya. Al-Qur'an tidak menyebut mengapa kalimat itu diulang, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua tempat yang sama bunyinya dengan pelaku yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian tanda kehancuran dengan kepatuhan penuh bumi terhadap Tuhannya, dan rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 84:2 dan 84:5.

Jadi kedua kemunculannya berada di dalam surah ini, dan pengulangan sepersis itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di surahnya. Kata keduanya memakai kata ganti perempuan tunggal, dan di ayat ini ia menunjuk bumi, sedangkan di 84:2 ia menunjuk langit.

Jadi satu kata ganti menunjuk dua benda yang berbeda di dua ayat yang sama bunyinya, dan pembacanya harus melihat ayat sebelumnya untuk mengetahui siapa yang dimaksud.

Bentuk kata pertamanya berbentuk lampau, sehingga kepatuhan itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi, padahal peristiwanya belum datang. Jadi waktunya tidak sejajar dengan keterangan waktu di 84:1.

Ayat ini menutup rangkaian lima ayat tanda kehancuran, dan sesudahnya 84:6 berpindah kepada sapaan langsung. Bentuk kata terakhirnya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti bumi yang disebut di 84:3, sedangkan bentuk yang sama di 84:2 mengikuti langit. Jadi satu bentuk melayani dua pelaku yang berbeda di dua ayat yang sama bunyinya, dan pembacanya harus melihat ayat yang lebih awal untuk mengenalinya.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 84:2 dan 84:5. Jadi Allah menyatakan kepatuhan langit dan kepatuhan bumi dengan kalimat yang tidak berbeda satu huruf pun, dan perbedaan keduanya cuma pada letaknya di dalam surah. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa dua ayat yang sama bunyinya ditaruh berjarak tiga baris. Kalimat yang sama untuk langit dan bumi menyatakan dua kepatuhan tanpa tingkatan.
  • Kata keduanya memakai kata ganti perempuan tunggal, dan di ayat ini ia menunjuk bumi, sedangkan di 84:2 ia menunjuk langit. Jadi satu kata ganti menunjuk dua benda yang berbeda di dua ayat yang sama bunyinya, dan Allah tidak menandai pergantian itu dengan satu kata pun. Perbedaan sasaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat ayat yang lebih awal untuk mengenali siapa yang sedang dibicarakan. Pengulangan tanpa penanda menuntut pembacanya menengok ke ayat yang lebih awal.
  • Bentuk kata pertamanya berbentuk lampau, sehingga kepatuhan itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi, padahal peristiwanya belum datang. Apa yang dinyatakan sebuah kepatuhan yang disebut Allah dengan bentuk lampau untuk peristiwa yang belum tiba? Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk sekarang akan kehilangan kepastian yang dinyatakan bentuk lampaunya. Pengulangan tanpa penanda menuntut pembacanya menengok ke ayat yang lebih awal.
  • Akar kata terakhirnya cuma muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:2 dan 84:5. Jadi akar itu terkunci ke dalam rangkaian yang diulang Allah, dan ia tidak dipakai di ayat lain mana pun di dalam surahnya walau sekali. Kesejajaran itu berlaku sampai ke akarnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa akar itu tidak dipakai di ayat lain mana pun di dalam surahnya. Kalimat yang sama untuk langit dan bumi menyatakan dua kepatuhan tanpa tingkatan.
  • Ayat ini menutup rangkaian lima ayat tanda kehancuran, dan sesudahnya 84:6 berpindah kepada sapaan langsung. Jadi bagian pertama surah ini berhenti tanpa satu kalimat pun yang berdiri sendiri, dan Allah tidak menutup keterangan waktu yang dibuka di 84:1. Yang tersedia bagi pembacanya cuma lima ayat itu sendiri, dan menambahkan kalimat penutup berarti menaruh kesimpulan yang tidak disediakan susunannya. Pengulangan tanpa penanda menuntut pembacanya menengok ke ayat yang lebih awal.
  • Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 84:2 sampai ke hurufnya, dan Allah tidak menandai pengulangan itu dengan satu kata pun. Jadi pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa kalimat yang sama datang untuk kedua kalinya dengan sasaran yang berbeda. Yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat sama persis, dan menyimpulkan tentang maksud pengulangannya berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam surahnya. Kalimat yang sama untuk langit dan bumi menyatakan dua kepatuhan tanpa tingkatan.