يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ

Wahai manusia, sesungguhnya engkau bersusah-payah menuju Tuhanmu dengan susah-payah, maka engkau akan menemui-Nya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِyaa ayyuhaa l-insaanu innaka kaadihun ilaa rabbika kadhan fa-mulaaqiihiwahai manusia, sesungguhnya engkau bersusah-payah menuju Tuhanmu dengan susah-payah, maka engkau akan menemui-Nya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  3. الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
  4. إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
  5. كَادِحٌkaadihunyang berusaha keras
  6. إِلَىٰilaamenuju
  7. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  8. كَدْحًاkadhankerja keras
  9. فَمُلَاقِيهِfa-mulaaqiihimaka menemui-Nya

Inti bacaan

Kondisi eksistensial manusia yang mendasar: 'wahai manusia, sesungguhnya engkau bersusah-payah menuju Tuhanmu dengan susah-payah, maka engkau akan menemui-Nya', pengakuan bahwa seluruh perjalanan hidup, dengan segala perjuangannya, pada akhirnya mengarah pada satu pertemuan yang tak terelakkan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (كَادِحٌ, kaadih) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti bekerja keras sampai lelah. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu ayat lain pun yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Akar yang berarti bekerja keras sampai lelah itu dipakai dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai kata sifat dan sekali sebagai kata benda. Jadi seluruh pemakaian akar itu di dalam Al-Qur'an berkumpul di dalam satu ayat, dan pengulangan itu memperkuat apa yang dinyatakannya. Kata (كَادِحٌ, kaadih) di sini berbentuk kata sifat, dan pasangannya berbentuk kata benda.

Kata (فَمُلَاقِيهِ, fa-mulaaqiihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menemui. Ia dipakai di 135 ayat, antara lain 2:46, 6:31, 18:110, 33:44, dan 84:4. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang berdiri di ayat ini.

Kesejajaran dengan 84:4 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk bumi yang melemparkan isinya. Jadi satu akar mengikat pengeluaran isi bumi dan perjumpaan manusia dengan Tuhannya di dalam satu surah pendek. Kata (فَمُلَاقِيهِ, fa-mulaaqiihi) menutup ayatnya, dan ia memakai kata ganti objek.

Rangkaian (يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ, yaa ayyuha l-insaan) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 82:6 dan 84:6. Jadi dua surah yang berdekatan memakai sapaan yang sama persis, dan tidak ada surah lain yang memakainya.

Ayat ini kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri, sebab lima ayat sebelumnya keterangan waktu yang tidak dijawab. Jadi pembicaraan berpindah dari langit dan bumi kepada manusia tanpa satu kata penghubung.

Kata (كَدْحًا, kadhan) berbaris fathah karena menegaskan kata sifat di depannya. Jadi bentuknya memperkuat apa yang dinyatakan kata sebelumnya, dan susunan penegas semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Kata (إِلَىٰ, ilaa) menyatakan arah tujuan, sehingga perjuangan itu dilukiskan sebagai perjalanan yang punya ujung. Jadi arahnya ditentukan satu huruf saja, dan menggantinya akan menghapus tujuan yang dinyatakan susunannya.

Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaan) bertakrif, sehingga yang disapa manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu pihak akan menutup apa yang dibuka susunannya. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di dalam ayat ini maupun di sekitarnya.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) memakai kata ganti orang kedua tunggal, sedangkan dua ayat sebelumnya memakai kata ganti perempuan tunggal untuk langit dan bumi. Jadi pihak yang disapa berganti tepat di ayat ini, dan pergantian itu tidak ditandai satu kata penghubung pun di dalam surahnya. Susunan itu membuat perjuangan dan perjumpaan terbaca sebagai satu jalan, dan memisahkan keduanya akan menghapus arah yang dinyatakan hurufnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa isi perjuangan itu maupun berapa lama, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma delapan kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh perjuangan hidup manusia berujung pada pertemuan dengan Tuhannya, dan kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan akar itu dipakai dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai kata sifat dan sekali sebagai kata benda. Jadi seluruh pemakaian akar itu di dalam Al-Qur'an berkumpul di dalam satu ayat.

Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 135 ayat, antara lain 2:46, 6:31, 18:110, 33:44, dan 84:4. Kesejajaran dengan 84:4 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk bumi yang melemparkan isinya.

Jadi satu akar mengikat pengeluaran isi bumi dan perjumpaan manusia dengan Tuhannya di dalam satu surah pendek.

Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 82:6 dan 84:6. Kata ketiganya bertakrif, sehingga yang disapa manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Kata keenamnya memakai kata ganti orang kedua tunggal, sedangkan dua ayat sebelumnya memakai kata ganti perempuan tunggal untuk langit dan bumi. Jadi pihak yang disapa berganti tepat di ayat ini tanpa satu kata penghubung.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu 84:6. Akar itu dipakai dua kali di dalam ayat ini sendiri, sekali sebagai kata sifat dan sekali sebagai kata benda. Jadi seluruh pemakaiannya di dalam Al-Qur'an berkumpul di satu ayat. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan mengapa seluruh pemakaian satu akar berkumpul di satu ayat.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 135 ayat, antara lain 2:46, 6:31, 18:110, 33:44, dan 84:4. Di 84:4 akar yang sama dipakai untuk bumi yang melemparkan isinya, sehingga satu akar mengikat dua peristiwa di dalam satu surah. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat bumi yang melempar dan manusia yang berjumpa. Akar yang cuma hidup di satu ayat dipakai dua kali di dalam ayat itu juga.
  • Rangkaian tiga kata pertamanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 82:6 dan 84:6. Jadi dua surah yang berdekatan memakai sapaan yang sama persis, dan tidak ada surah lain yang memakainya. Allah menyapa manusia langsung cuma di dua tempat itu dengan susunan yang sama. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan sapaan yang cuma dipakai di dua surah berdekatan. Perjuangan yang disebut berujung pada perjumpaan mengubah seluruh maknanya.
  • Ayat ini kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri, sebab lima ayat sebelumnya keterangan waktu yang tidak dijawab Allah. Jadi pembicaraan berpindah dari langit dan bumi kepada manusia tanpa satu kata penghubung di antara dua bagiannya. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa pokok pembicaraannya sudah berganti sama sekali. Perjuangan yang disebut berujung pada perjumpaan mengubah seluruh maknanya.
  • Kata kelimanya menyatakan arah tujuan, sehingga perjuangan itu dilukiskan sebagai perjalanan yang punya ujung. Apa yang berubah pada seluruh kerja seseorang ketika ia dinyatakan Allah sebagai perjalanan menuju satu perjumpaan yang pasti? Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menghilangkannya akan menghapus arah yang dinyatakan susunan katanya sendiri. Akar yang cuma hidup di satu ayat dipakai dua kali di dalam ayat itu juga.
  • Kata ketujuhnya berbaris fathah karena menegaskan kata sifat di depannya. Jadi bentuknya memperkuat apa yang dinyatakan kata sebelumnya, dan susunan penegas semacam itu tidak dipakai Allah lagi di dalam surah ini di mana pun. Susunan penegas itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ia dipakai sekali di dalam surah ini dan tidak diulang di mana pun. Perjuangan yang disebut berujung pada perjumpaan mengubah seluruh maknanya. Akar yang cuma hidup di satu ayat dipakai dua kali di dalam ayat itu juga.