فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ
Maka adapun orang yang diberi catatannya dari kanannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِfa-ammaa man uutiya kitaabahu bi-yamiinihimaka adapun orang yang diberi catatannya dari kanannya
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَمَّاfa-ammaaadapun
- مَنْmanorang yang
- أُوتِيَuutiyadiberikan
- كِتَابَهُkitaabahukitabnya
- بِيَمِينِهِbi-yamiinihidengan tangan kanan-Nya
Inti bacaan
Tanda golongan pertama yang berbahagia: 'maka adapun orang yang diberi catatannya dari kanannya', indikator posisi penerimaan catatan yang menandakan hasil positif.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِيَمِينِهِ, bi-yamiinihi) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 17:71, 39:67, 69:19, dan 84:7. Di 69:19 kata yang sama dipakai untuk orang yang menerima catatannya lalu menyeru orang lain membacanya.
Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk penerimaan catatan dari kanan, dan yang di 39:67 memakainya untuk langit yang digulung. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (كِتَابَهُ, kitaabahu) di sini memakai kata ganti kepemilikan pada ujungnya.
Kata kerja (أُوتِيَ, uutiya) berasal dari akar yang berarti datang dan mendatangkan. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:10. Jadi kedua golongan sama-sama disebut dengan kata kerja yang sama, dan yang berbeda cuma dari mana catatannya datang.
Kata (كِتَابَهُ, kitaabahu) berasal dari akar yang berarti menulis dan menetapkan. Akar itu juga muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:10. Jadi dua akar sekaligus dipakai dua kali dengan pasangan yang sama, dan kesejajaran itu mengikat dua golongan menjadi satu perbandingan.
Bentuk (أُوتِيَ, uutiya) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia diberi, bukan ia mengambil. Jadi pemberinya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan pembacanya harus melengkapinya dari ayat lain di surah ini.
Kata (فَأَمَّا, fa-ammaa) huruf yang membuka pembagian, dan pasangannya dipakai di 84:10. Jadi dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua, dan membaca salah satunya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya.
Kata (مَنْ, man) tidak menamai siapa pun, sehingga golongan itu disebut tanpa nama maupun bilangan. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:10 untuk golongan yang berlawanan.
Ayat ini membuka bagian tentang dua golongan, dan bagian itu berjalan sampai 84:15. Jadi sembilan ayat berturut-turut membicarakan penerimaan catatan dan akibatnya, dan itu bagian terpanjang di dalam surahnya.
Kata (كِتَابَهُ, kitaabahu) memakai kata ganti kepemilikan, sehingga catatan itu disebut sebagai miliknya sendiri. Jadi yang diberikan bukan catatan asing melainkan catatan yang memang berasal dari perbuatannya, dan kepemilikan itu terbawa di dalam ujung katanya tanpa satu kata keterangan pun.
Bentuk (بِيَمِينِهِ, bi-yamiinihi) memakai huruf ba yang menyatakan alat atau sarana penerimaan. Jadi yang dinyatakan dengan tangan kanannya, bukan kepada tangan kanannya, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan huruf itu dengan satu kalimat pun. Susunan itu membuat pembacanya menunggu akibatnya, dan akibat itu baru datang di ayat sesudahnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa isi catatan itu maupun siapa yang menuliskannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata beserta ayat pasangannya yang berjarak tiga baris.
Tafsiran
Ayat ini membuka pembagian dua golongan berdasarkan penerimaan catatan amal, dan kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 17:71, 39:67, 69:19, dan 84:7.
Di 69:19 kata yang sama dipakai untuk orang yang menerima catatannya lalu menyeru orang lain membacanya, sedangkan di 39:67 ia dipakai untuk langit yang digulung.
Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:10, dan kata sesudahnya juga demikian. Jadi dua akar sekaligus dipakai dua kali dengan pasangan yang sama.
Kesejajaran itu mengikat dua golongan menjadi satu perbandingan, dan yang berbeda cuma dari mana catatannya datang. Bentuk kata kerjanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia diberi, bukan ia mengambil.
Ayat ini membuka bagian tentang dua golongan, dan bagian itu berjalan sampai 84:15. Kata keempatnya memakai kata ganti kepemilikan, sehingga catatan itu disebut sebagai miliknya sendiri. Jadi yang diberikan bukan catatan asing melainkan catatan yang memang berasal dari perbuatannya. Huruf di depan kata terakhirnya menyatakan alat atau sarana penerimaan, bukan arah tujuan. Jadi dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua, dan membaca salah satunya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya yang menyusul tiga baris kemudian.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja ketiganya dan kata sesudahnya berasal dari dua akar yang sama-sama muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:7 dan 84:10. Jadi Allah menyebut kedua golongan dengan pasangan kata yang sama, dan yang berbeda cuma dari mana catatannya datang. Kesejajaran itu berlaku sampai ke akarnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua golongan disebut dengan pasangan kata yang sama persis. Catatan yang diberikan bukan catatan asing melainkan hasil perbuatannya sendiri.
- Kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 17:71, 39:67, 69:19, dan 84:7. Di 69:19 kata yang sama dipakai untuk orang yang menerima catatannya lalu menyeru orang lain membacanya, sedangkan di 39:67 Allah memakainya untuk langit yang digulung. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata untuk catatan dan untuk langit yang digulung. Golongan yang disebut tanpa nama membuat pembacanya bertanya di mana ia berdiri.
- Bentuk kata kerja ketiganya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia diberi, bukan ia mengambil. Jadi Allah tidak menyebutkan pemberinya di dalam ayatnya, dan pembacanya harus melengkapinya dari ayat lain di dalam surah ini seperti 84:15. Ketiadaan pemberi itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderitanya. Golongan yang disebut tanpa nama membuat pembacanya bertanya di mana ia berdiri.
- Kata pertamanya huruf yang membuka pembagian, dan pasangannya dipakai Allah di 84:10. Jadi dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua, dan membaca salah satunya sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pembandingnya yang menyusul. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat pasangannya, dan membaca salah satunya sendirian berarti kehilangan perbandingan yang dibangun susunan keduanya. Golongan yang disebut tanpa nama membuat pembacanya bertanya di mana ia berdiri.
- Kata keduanya tidak menamai siapa pun, sehingga golongan itu disebut tanpa nama maupun bilangan. Jadi cakupannya dibiarkan Allah seluas mungkin, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:10 untuk golongan yang berlawanan keadaannya. Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mengurung golongan itu kepada satu kumpulan yang sudah ditentukan. Catatan yang diberikan bukan catatan asing melainkan hasil perbuatannya sendiri. Catatan yang diberikan bukan catatan asing melainkan hasil perbuatannya sendiri.
- Ayat ini membuka bagian tentang dua golongan, dan bagian itu berjalan sampai 84:15. Apa yang dinyatakan sebuah surah ketika sembilan dari dua puluh lima ayatnya dipakai untuk satu perbandingan antara dua cara menerima catatan? Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan panjang bagian di dalam surahnya. Catatan yang diberikan bukan catatan asing melainkan hasil perbuatannya sendiri.