فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا

Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًاfa-sawfa yuhaasabu hisaaban yasiiranmaka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَسَوْفَfa-sawfamaka kelak
  2. يُحَاسَبُyuhaasabudihisab
  3. حِسَابًاhisaabanperhitungan
  4. يَسِيرًاyasiiranyang mudah

Inti bacaan

Proses perhitungan yang ringan: 'maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah', jaminan bahwa bagi golongan ini, proses evaluasi berlangsung tanpa kesulitan berarti, konsekuensi dari catatan yang baik. Keringanan itu bukan pembebasan: pemeriksaan tetap terjadi, hanya saja tanpa perdebatan panjang dan tanpa tuntutan yang memberatkan pemiliknya.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (حِسَابًا يَسِيرًا, hisaaban yasiiran) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan perhitungan sebagai jenis, bukan satu perhitungan tertentu.

Akar (يَسِيرًا, yasiiran) berarti mudah dan ringan. Akar itu dipakai di 40 ayat, antara lain 2:185, 65:4, 87:8, 92:7, dan 94:5. Kesejajaran dengan 87:8 dan 92:7 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama dipakai untuk kemudahan yang dijanjikan.

Jadi akar yang di dua surah tetangga menamai jalan yang dimudahkan, di sini menamai perhitungan yang diringankan. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Kata (يَسِيرًا, yasiiran) di sini menerangkan kata di depannya, dan keduanya tanpa takrif.

Kata kerja (يُحَاسَبُ, yuhaasabu) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia dihitung, bukan ia menghitung. Jadi yang menghitung tidak disebutkan di dalam ayatnya, sama seperti pemberi catatan tidak disebutkan di 84:7.

Kata (فَسَوْفَ, fa-saufa) menandai waktu yang akan datang dengan penegasan, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:11 untuk golongan yang berlawanan. Jadi dua akibat yang berlawanan dijanjikan dengan penanda waktu yang sama persis.

Bentuk (يُحَاسَبُ, yuhaasabu) berpola ketiga, sehingga artinya perhitungan yang melibatkan dua pihak. Jadi susunannya menyatakan perkara yang berlangsung antara dua pihak, bukan keputusan sepihak, dan perbedaan itu terbawa di dalam polanya.

Kata (حِسَابًا, hisaaban) berbaris fathah karena menegaskan kata kerja di depannya. Jadi bentuknya memperkuat apa yang dinyatakan kata kerjanya, dan susunan penegas semacam itu dipakai juga di 84:6 dengan kata yang berbeda.

Ayat ini melanjutkan kalimat yang dibuka di 84:7, sebab huruf fa di awalnya menyambungkannya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa golongan yang dimaksud.

Kata (يَسِيرًا, yasiiran) berbaris fathah karena menerangkan kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Jadi keterangan dan bendanya terikat rapat, dan susunan semacam itu dipakai lagi di 84:24 pada dua kata yang menyebut azab. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata penghubung pun.

Bentuk (يُحَاسَبُ, yuhaasabu) berbentuk sekarang, sehingga perhitungan itu dinyatakan sebagai yang akan berlangsung, bukan sebagai peristiwa yang sudah selesai. Jadi waktunya sejajar dengan kata penanda di depannya, dan keduanya bekerja bersama menyatakan satu waktu yang sama. Susunan itu membuat kemudahan terbaca sebagai sifat perhitungannya, bukan sebagai keringanan yang datang sesudahnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang membuat perhitungan itu mudah maupun berapa lama, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang menutup gambaran golongan pertama.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kemudahan perhitungan bagi golongan yang menerima dari kanan, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Kedua katanya tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan perhitungan sebagai jenis, bukan satu perhitungan tertentu. Akar kata terakhirnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:185, 65:4, 87:8, 92:7, dan 94:5.

Kesejajaran dengan 87:8 dan 92:7 patut dicatat, sebab di kedua tempat itu akar yang sama dipakai untuk kemudahan yang dijanjikan. Jadi akar yang di dua surah tetangga menamai jalan yang dimudahkan, di sini menamai perhitungan yang diringankan.

Kata kerja keduanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia dihitung, bukan ia menghitung. Jadi yang menghitung tidak disebutkan di dalam ayatnya, sama seperti pemberi catatan tidak disebutkan di 84:7.

Kata pertamanya menandai waktu yang akan datang dengan penegasan, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:11 untuk golongan yang berlawanan. Kata terakhirnya berbaris fathah karena menerangkan kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Jadi keterangan dan bendanya terikat rapat, dan susunan semacam itu dipakai lagi di 84:24 pada dua kata yang menyebut azab. Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, sehingga perhitungan itu dinyatakan sebagai yang akan berlangsung.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 40 ayat, antara lain 2:185, 65:4, 87:8, 92:7, dan 94:5. Di 87:8 dan 92:7 akar yang sama dipakai untuk kemudahan yang dijanjikan. Jadi akar yang di dua surah tetangga menamai jalan yang dimudahkan, di sini menamai perhitungan yang diringankan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk jalan yang mudah dan hisab yang ringan.
  • Kata kerja keduanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan ia dihitung, bukan ia menghitung. Jadi Allah tidak menyebutkan yang menghitung di dalam ayatnya, sama seperti pemberi catatan tidak disebutkan di 84:7 pada ayat sebelumnya. Ketiadaan penghitung itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderitanya. Akar yang menamai jalan yang dimudahkan dipakai lagi untuk hisab yang diringankan.
  • Kata pertamanya menandai waktu yang akan datang dengan penegasan, dan kata yang sama dipakai Allah lagi di 84:11 untuk golongan yang berlawanan. Jadi dua akibat yang berlawanan dijanjikan dengan penanda waktu yang sama persis tanpa satu kata pembeda. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua akibat yang berlawanan memakai penanda waktu yang sama. Perhitungan yang mudah tetap perhitungan, bukan pembebasan dari perhitungan.
  • Bentuk kata kerja keduanya berpola ketiga, sehingga artinya perhitungan yang melibatkan dua pihak. Jadi susunannya menyatakan perkara yang berlangsung antara dua pihak, bukan keputusan sepihak Allah, dan perbedaan itu terbawa di dalam polanya sendiri. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan menggantinya dengan pola lain akan mengubah perhitungan dua pihak menjadi keputusan sepihak. Perhitungan yang mudah tetap perhitungan, bukan pembebasan dari perhitungan.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kedua katanya tidak bertakrif. Jadi yang dinyatakan Allah perhitungan sebagai jenis, bukan satu perhitungan tertentu, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin tanpa satu batas pun. Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Akar yang menamai jalan yang dimudahkan dipakai lagi untuk hisab yang diringankan.
  • Ayat ini melanjutkan kalimat yang dibuka di 84:7, sebab huruf di awalnya menyambungkannya. Apa yang dikerjakan sebuah janji kemudahan pada pembacanya ketika ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa ayat yang mendahuluinya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat sebelumnya, dan memisahkan ayat ini berarti kehilangan golongan yang sedang dibicarakan susunan kalimatnya. Perhitungan yang mudah tetap perhitungan, bukan pembebasan dari perhitungan. Akar yang menamai jalan yang dimudahkan dipakai lagi untuk hisab yang diringankan.