وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ

Dan adapun orang yang diberi catatannya dari belakang punggungnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِwa-ammaa man uutiya kitaabahu waraa'a zhahrihidan adapun orang yang diberi catatannya dari belakang punggungnya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَأَمَّاwa-ammaadan adapun
  2. مَنْmanorang yang
  3. أُوتِيَuutiyadiberikan
  4. كِتَابَهُkitaabahukitabnya
  5. وَرَاءَwaraa'adi belakang
  6. ظَهْرِهِzhahrihipunggungnya

Inti bacaan

Tanda golongan kedua yang bermasalah: 'dan adapun orang yang diberi catatannya dari belakang punggungnya', posisi penerimaan yang menandakan hasil negatif, cara yang menyulitkan dan tidak wajar.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَرَاءَ ظَهْرِهِ, waraa-a zhahrihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tidak ada satu tempat lain pun yang memakai dua kata itu berdampingan, dan cuma ayat ini yang melukiskan penerimaan catatan dengan cara demikian.

Kata kerja (أُوتِيَ, uutiya) diulang persis dari 84:7, sehingga dua golongan sama-sama disebut dengan kata kerja yang sama. Jadi yang membedakan keduanya bukan cara pemberiannya melainkan arah datangnya catatan itu.

Kata (كِتَابَهُ, kitaabahu) juga diulang persis dari 84:7. Jadi dua kata berturut-turut sama persis di dua ayat, dan yang berbeda cuma keterangan yang menyusul sesudahnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Al-Qur'an membuat dua golongan berbeda cuma pada tiga kata terakhirnya, dan seluruh bagian yang mendahului sama persis. Jadi perbandingannya terbaca tanpa satu kata pembanding pun.

Kata (وَأَمَّا, wa ammaa) pasangan huruf yang dipakai di 84:7, sehingga dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa golongan yang mendahuluinya.

Akar (ظَهْرِهِ, zhahrihi) berarti punggung dan yang tampak. Akar itu dipakai di 57 ayat, antara lain 2:189, 6:31, 16:46, 43:33, dan 94:3. Kesejajaran dengan 94:3 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk punggung yang diberati.

Kata (مَنْ, man) diulang dari 84:7, sehingga golongan kedua juga disebut tanpa nama maupun bilangan. Jadi cakupan keduanya dibiarkan seluas mungkin, dan Al-Qur'an tidak menyebut siapa pun dengan nama di sepanjang bagian ini.

Ayat ini membuka tiga ayat tentang golongan kedua, dan tiga ayat itu berjalan sampai 84:12. Jadi pembagiannya sama besar dengan pembagian golongan pertama, dan Al-Qur'an tidak memberi ruang lebih kepada salah satunya.

Kata (ظَهْرِهِ, zhahrihi) memakai kata ganti kepemilikan, sehingga yang disebut punggungnya sendiri. Jadi arah penerimaannya diikat kepada tubuhnya, bukan kepada tempat di luar dirinya, dan kepemilikan itu terbawa di dalam ujung katanya tanpa satu kata keterangan pun.

Kata (وَرَاءَ, waraa-a) menyatakan berada di belakang, dan huruf yang dipakai di 84:7 menyatakan sarana penerimaan. Jadi dua ayat memakai dua cara yang berbeda untuk melukiskan penerimaan yang sama, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri. Susunan itu membuat pembacanya menunggu akibatnya, sama seperti susunan di 84:7. Al-Qur'an tidak menyebut mengapa catatannya datang dari arah itu maupun siapa yang memberikannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang berbeda tiga kata saja dari ayat pasangannya.

Tafsiran

Ayat ini membuka golongan kedua yang menerima catatan dari belakang punggung, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Jadi tidak ada satu tempat lain pun yang memakai dua kata itu berdampingan, dan cuma ayat ini yang melukiskan penerimaan catatan dengan cara demikian. Kata kerja ketiganya dan kata sesudahnya diulang persis dari 84:7.

Jadi dua golongan sama-sama disebut dengan kata kerja yang sama, dan yang membedakan keduanya bukan cara pemberiannya melainkan arah datangnya catatan itu. Al-Qur'an membuat dua golongan berbeda cuma pada tiga kata terakhirnya.

Akar kata terakhirnya dipakai di 57 ayat, antara lain 2:189, 6:31, 16:46, 43:33, dan 94:3. Kesejajaran dengan 94:3 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk punggung yang diberati.

Ayat ini membuka tiga ayat tentang golongan kedua, dan tiga ayat itu berjalan sampai 84:12. Kata terakhirnya memakai kata ganti kepemilikan, sehingga yang disebut punggungnya sendiri. Jadi arah penerimaannya diikat kepada tubuhnya, bukan kepada tempat di luar dirinya. Kata kelimanya menyatakan berada di belakang, sedangkan huruf yang dipakai di 84:7 menyatakan sarana penerimaan. Jadi pembagiannya sama besar dengan pembagian golongan pertama, dan Al-Qur'an tidak memberi ruang lebih kepada salah satunya di dalam surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja ketiganya dan kata sesudahnya diulang persis dari 84:7. Jadi Allah membuat dua golongan berbeda cuma pada tiga kata terakhirnya, dan seluruh bagian yang mendahului sama persis. Perbandingannya karena itu terbaca tanpa satu kata pembanding pun. Kesejajaran itu berlaku sampai ke urutan katanya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa perbedaan dua golongan cuma pada bagian terakhir kalimatnya. Dua nasib yang berlawanan diucapkan dengan kalimat yang berbeda cuma tiga kata.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi tidak ada satu tempat lain pun yang memakai dua kata itu berdampingan, dan cuma ayat ini yang melukiskan penerimaan catatan dengan cara demikian. Pembacanya tidak punya ayat lain untuk membandingkannya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan cara penerimaannya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalamnya. Catatan yang datang dari belakang punggung tidak bisa dibaca pemiliknya sendiri.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 57 ayat, antara lain 2:189, 6:31, 16:46, 43:33, dan 94:3. Kesejajaran dengan 94:3 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk punggung yang diberati, sedangkan di sini ia menamai punggung yang menerima catatan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu akar untuk punggung yang berbeda keadaannya. Dua nasib yang berlawanan diucapkan dengan kalimat yang berbeda cuma tiga kata.
  • Kata keduanya diulang dari 84:7, sehingga golongan kedua juga disebut tanpa nama maupun bilangan. Jadi Allah membiarkan cakupan keduanya seluas mungkin, dan Al-Qur'an tidak menyebut siapa pun dengan nama di sepanjang bagian ini. Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mengurung golongan itu kepada satu kumpulan yang sudah ditentukan sebelumnya. Catatan yang datang dari belakang punggung tidak bisa dibaca pemiliknya sendiri.
  • Ayat ini membuka tiga ayat tentang golongan kedua, dan tiga ayat itu berjalan sampai 84:12. Jadi pembagiannya sama besar dengan pembagian golongan pertama, dan Allah tidak memberi ruang lebih kepada salah satunya di dalam surah ini. Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan panjang yang sama bagi dua nasib berlawanan. Dua nasib yang berlawanan diucapkan dengan kalimat yang berbeda cuma tiga kata.
  • Kata pertamanya pasangan huruf yang dipakai di 84:7, sehingga dua ayat itu satu susunan yang terbelah dua. Apa yang dikerjakan sebuah perbandingan pada pembacanya ketika dua nasib yang berlawanan diucapkan dengan kalimat yang hampir sama persis? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat pasangannya, dan membaca salah satunya sendirian berarti kehilangan perbandingan yang dibangun susunan keduanya. Catatan yang datang dari belakang punggung tidak bisa dibaca pemiliknya sendiri.