فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًا

Maka dia akan menyeru kebinasaan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَسَوْفَ يَدْعُو ثُبُورًاfa-sawfa yad'uu tsubuuranmaka dia akan menyeru kebinasaan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَسَوْفَfa-sawfamaka kelak
  2. يَدْعُوyad'uumenyeru
  3. ثُبُورًاtsubuurankebinasaan

Inti bacaan

Reaksi putus asa yang ekstrem: 'maka dia akan menyeru kebinasaan', permohonan akan kehancuran total sebagai respons terhadap situasi yang dihadapi, keputusasaan yang mendalam.

Penjelasan pilihan kata

Kata (ثُبُورًا, tsubuuran) muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 25:13, 25:14, dan 84:11. Akarnya berarti binasa. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 17:102, 25:13, 25:14, dan 84:11.

Di 25:13 dan 25:14 kata yang sama dipakai untuk orang yang menyeru kebinasaan ketika dilemparkan ke tempat yang sempit. Jadi tiga dari empat pemakaian akar itu menamai seruan yang sama, dan cuma 17:102 memakainya untuk hal yang lain. Kata (ثُبُورًا, tsubuuran) di sini menutup ayatnya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.

Di 17:102 akar itu dipakai untuk Musa yang menyebut Firaun sebagai orang yang akan binasa. Jadi satu akar menamai seruan orang yang binasa dan sebutan bagi orang yang akan binasa, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (يَدْعُو, yad'uu) mendahuluinya, dan bentuknya menyatakan yang berlangsung.

Kata kerja (يَدْعُو, yad'uu) berasal dari akar yang berarti memanggil dan berdoa. Akar itu dipakai di 182 ayat, antara lain 2:186, 10:12, 17:11, 40:60, dan 96:17. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk seruan yang meminta kebinasaan sendiri.

Kata (فَسَوْفَ, fa-saufa) diulang persis dari 84:8, sehingga dua akibat yang berlawanan dijanjikan dengan penanda waktu yang sama. Jadi kesejajaran dua golongan berlaku sampai ke penanda waktunya.

Bentuk (يَدْعُو, yad'uu) berbentuk sekarang, sehingga seruannya dinyatakan sebagai yang berlangsung, bukan sebagai satu peristiwa yang selesai. Jadi keputusasaannya dilukiskan sebagai keadaan yang tidak berhenti.

Kata (ثُبُورًا, tsubuuran) tidak bertakrif dan berbaris fathah sebagai yang diserukan. Jadi yang dipanggil bukan pihak melainkan keadaan, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Ayat ini melanjutkan kalimat yang dibuka di 84:10, sebab huruf fa di awalnya menyambungkannya. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah, sama seperti pasangan 84:7 dan 84:8.

Kata (يَدْعُو, yad'uu) berdiri tanpa menyebut kepada siapa seruan itu ditujukan. Jadi yang dipanggil tidak disebutkan sama sekali, dan yang tertulis cuma apa yang diserukan. Al-Qur'an tidak melengkapi keterangan itu di ayat mana pun sesudahnya di dalam surah ini.

Bentuk (ثُبُورًا, tsubuuran) tidak bertakrif, sehingga yang diserukan kebinasaan sebagai jenis, bukan satu kebinasaan tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis di dalam ayatnya sendiri. Susunan itu membuat seruan kebinasaan terbaca sebagai akibat langsung dari cara penerimaan catatannya. Al-Qur'an tidak menyebut kepada siapa seruan itu ditujukan maupun berapa lama ia berlangsung, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang menyusul ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan keputusasaan golongan kedua yang berteriak meminta kebinasaan, dan kata terakhirnya muncul 3 kali di 2 surah, yaitu di 25:13, 25:14, dan 84:11.

Akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 17:102, 25:13, 25:14, dan 84:11. Di 25:13 dan 25:14 kata yang sama dipakai untuk orang yang menyeru kebinasaan ketika dilemparkan ke tempat yang sempit.

Jadi tiga dari empat pemakaian akar itu menamai seruan yang sama, dan cuma 17:102 memakainya untuk hal yang lain. Di 17:102 akar itu dipakai untuk Musa yang menyebut Firaun sebagai orang yang akan binasa.

Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 182 ayat, antara lain 2:186, 10:12, 17:11, 40:60, dan 96:17. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk seruan yang meminta kebinasaan sendiri.

Kata pertamanya diulang persis dari 84:8, sehingga dua akibat yang berlawanan dijanjikan dengan penanda waktu yang sama. Kata kerja keduanya berdiri tanpa menyebut kepada siapa seruan itu ditujukan. Jadi yang dipanggil tidak disebutkan sama sekali, dan yang tertulis cuma apa yang diserukan. Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang diserukan kebinasaan sebagai jenis, bukan satu kebinasaan tertentu. Jadi dua ayat itu satu kalimat yang dipisah, sama seperti pasangan 84:7 dan 84:8 pada golongan yang pertama disebutkan.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 17:102, 25:13, 25:14, dan 84:11. Di 25:13 dan 25:14 kata yang sama dipakai untuk orang yang menyeru kebinasaan ketika dilemparkan ke tempat yang sempit. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menamai seruan yang sama. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan tiga dari empat pemakaian akar pada satu seruan. Seruan meminta kebinasaan adalah doa yang isinya kebalikan dari semua doa.
  • Di 17:102 akar kata terakhirnya dipakai untuk Musa yang menyebut Firaun sebagai orang yang akan binasa. Jadi satu akar menamai seruan orang yang binasa dan sebutan bagi orang yang akan binasa, dan Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua tempat itu dengan satu kalimat penjelas pun. Seruan meminta kebinasaan adalah doa yang isinya kebalikan dari semua doa.
  • Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 182 ayat, antara lain 2:186, 10:12, 17:11, 40:60, dan 96:17. Jadi akar yang di ratusan ayat menamai seruan dan doa, di sini dipakai untuk seruan yang justru meminta kebinasaan sendiri. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang biasanya menamai doa dan seruan. Akar yang biasanya menamai permohonan dipakai untuk permohonan yang mustahil dikabulkan.
  • Kata pertamanya diulang persis dari 84:8, sehingga dua akibat yang berlawanan dijanjikan Allah dengan penanda waktu yang sama. Jadi kesejajaran dua golongan berlaku sampai ke penanda waktunya, dan tidak satu pun disebut lebih dekat dari yang lain. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua nasib berlawanan memakai penanda waktu yang sama persis. Akar yang biasanya menamai permohonan dipakai untuk permohonan yang mustahil dikabulkan.
  • Bentuk kata kerja keduanya berbentuk sekarang, sehingga seruannya dinyatakan sebagai yang berlangsung, bukan sebagai satu peristiwa yang selesai. Jadi Allah melukiskan keputusasaannya sebagai keadaan yang tidak berhenti, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk lampau akan mengubah keadaan yang berjalan menjadi peristiwa yang selesai. Akar yang biasanya menamai permohonan dipakai untuk permohonan yang mustahil dikabulkan.
  • Kata terakhirnya tidak bertakrif dan berbaris fathah sebagai yang diserukan. Jadi yang dipanggil bukan pihak melainkan keadaan. Apa yang tersisa pada seseorang ketika satu-satunya yang dipanggilnya adalah kebinasaannya sendiri? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menambahkan keterangan tentang kepada siapa ia menyeru berarti menaruh apa yang tidak tertulis. Seruan meminta kebinasaan adalah doa yang isinya kebalikan dari semua doa.