وَيَصْلَىٰ سَعِيرًا
Dan dia masuk ke dalam api yang menyala-nyala.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيَصْلَىٰ سَعِيرًاwa-yashlaa sa'iirandan dia masuk ke dalam api yang menyala-nyala
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَيَصْلَىٰwa-yashlaadan ia memasuki
- سَعِيرًاsa'iiranapi yang menyala
Inti bacaan
Konsekuensi fisik yang menyertai: 'dan dia masuk-membakar ke (api) yang menyala-nyala', kelanjutan dari keputusasaan menuju konsekuensi nyata yang harus dihadapi.
Penjelasan pilihan kata
"Sa'iiran" diterjemahkan "api yang menyala-nyala" tanpa awalan "neraka", acuan konsisten dengan kemunculan "sa'iir" sebelumnya (22:4, 25:11, 33:64, 42:7, 48:13, 67:5, 67:10-11, 76:4): berbeda dari "jahiim" yang mendapat awalan "neraka yang menyala-nyala". Kata "membakar" pada draf dihapus sebagai pengulangan yang tak perlu, konsisten koreksi 83:16.
Kata (سَعِيرًا, sa'iiran) muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 4:10, 4:55, 17:97, 25:11, 33:64, 48:13, 76:4, dan 84:12. Jadi bentuk yang sama dipakai di tujuh surah, dan di sini ia menutup gambaran golongan kedua.
Kata kerja (وَيَصْلَىٰ, wa yashlaa) berasal dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 88:4. Kesejajaran dengan 88:4 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.
Jadi akar yang di 88:4 dipakai untuk wajah yang memasuki api, di sini dipakai untuk orang yang menerima catatan dari belakang. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (سَعِيرًا, sa'iiran) di sini menutup ayatnya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.
Bentuk (وَيَصْلَىٰ, wa yashlaa) berbentuk sekarang, sama seperti bentuk kata kerja di 84:11. Jadi dua akibat golongan kedua sama-sama dinyatakan sebagai yang berlangsung, bukan sebagai peristiwa yang selesai.
Kata (سَعِيرًا, sa'iiran) tidak bertakrif, sehingga yang disebut api sebagai jenis, bukan satu api tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis.
Ayat ini menutup gambaran golongan kedua, dan sesudahnya 84:13 berpindah kepada sebab keadaannya. Jadi tiga ayat melukiskan akibatnya lebih dulu dan dua ayat menerangkan sebabnya kemudian.
Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu yang paling pendek di antara enam ayat tentang dua golongan. Jadi akibat yang paling berat dinyatakan dengan kalimat yang paling ringkas, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu. Kata (وَيَصْلَىٰ, wa yashlaa) mendahuluinya, dan bentuknya menyatakan yang berlangsung.
Kata (وَيَصْلَىٰ, wa yashlaa) disambungkan kepada kata kerja di 84:11 dengan huruf waw, sehingga dua akibat itu berjalan bersama. Jadi seruan kebinasaan dan masuknya ke dalam api dinyatakan sebagai dua hal yang menyertai, bukan berurutan, dan perbedaan itu terbawa di dalam huruf penyambungnya.
Bentuk (سَعِيرًا, sa'iiran) berbaris fathah karena menjadi tempat yang dimasuki. Jadi kedudukannya ditentukan kata kerja di depannya, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan susunan itu dengan satu kalimat pun. Susunan itu membuat api terbaca sebagai tempat yang dimasuki, bukan sebagai hukuman yang dijatuhkan. Al-Qur'an tidak menyebut berapa lama ia berada di dalamnya maupun bagaimana keadaannya di sana, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata yang menutup gambaran golongan kedua.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa golongan kedua akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala, dan kata terakhirnya muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 4:10, 4:55, 17:97, 25:11, 33:64, 48:13, 76:4, dan 84:12.
Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 88:4. Kesejajaran dengan 88:4 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.
Jadi akar yang di 88:4 dipakai untuk wajah yang memasuki api, di sini dipakai untuk orang yang menerima catatan dari belakang. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, sama seperti bentuk kata kerja di 84:11. Jadi dua akibat golongan kedua sama-sama dinyatakan sebagai yang berlangsung, bukan sebagai peristiwa yang selesai.
Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu yang paling pendek di antara enam ayat tentang dua golongan. Kata kerja pertamanya disambungkan kepada kata kerja di 84:11 dengan huruf di depannya, sehingga dua akibat itu berjalan bersama. Jadi seruan kebinasaan dan masuknya ke dalam api dinyatakan sebagai dua hal yang menyertai, bukan berurutan, dan perbedaan itu terbawa di dalam huruf penyambungnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai Allah di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 88:4. Kesejajaran dengan 88:4 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk wajah yang memasuki api, dan surah itu berada di juz yang sama. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua surah di juz yang sama memakai akar yang sama. Api yang disebut tanpa penakrifan membiarkan bentuknya di luar jangkauan bayangan.
- Susunan ayat ini cuma dua kata, dan itu yang paling pendek di antara enam ayat tentang dua golongan. Jadi akibat yang paling berat dinyatakan Allah dengan kalimat yang paling ringkas. Apa yang ditambahkan sebuah ancaman ketika ia diucapkan dengan kata sesedikit mungkin? Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan kalimat terpendek untuk akibat terberat. Api yang disebut tanpa penakrifan membiarkan bentuknya di luar jangkauan bayangan.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut api sebagai jenis, bukan satu api tertentu. Jadi Allah membiarkan cakupannya seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempit apa yang tertulis di dalam ayatnya sendiri. Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menambahkannya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Kalimat terpendek di dalam surah dipakai untuk akibat yang paling berat.
- Kata terakhirnya muncul 8 kali di 7 surah, yaitu di 4:10, 4:55, 17:97, 25:11, 33:64, 48:13, 76:4, dan 84:12. Jadi Allah memakai bentuk yang sama di tujuh surah yang berjauhan, dan di sini ia menutup gambaran golongan kedua di dalam surahnya. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebaran satu bentuk di tujuh surah yang berjauhan. Kalimat terpendek di dalam surah dipakai untuk akibat yang paling berat.
- Bentuk kata kerja pertamanya berbentuk sekarang, sama seperti bentuk kata kerja di 84:11. Jadi dua akibat golongan kedua sama-sama dinyatakan Allah sebagai yang berlangsung, bukan sebagai peristiwa yang selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan kesejajaran dua akibat yang disebut berturut-turut. Kalimat terpendek di dalam surah dipakai untuk akibat yang paling berat.
- Ayat ini menutup gambaran golongan kedua, dan sesudahnya 84:13 berpindah kepada sebab keadaannya. Jadi Allah melukiskan akibatnya lebih dulu di tiga ayat dan menerangkan sebabnya kemudian di dua ayat, dan urutan itu tidak diterangkan satu kalimat pun. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa akibatnya disebut lebih dulu daripada sebabnya di dalam susunan surahnya. Api yang disebut tanpa penakrifan membiarkan bentuknya di luar jangkauan bayangan.