إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًا

Sesungguhnya dia dahulu bergembira di kalangan keluarganya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهُ كَانَ فِي أَهْلِهِ مَسْرُورًاinnahu kaana fii ahlihi masruuransesungguhnya dia dahulu bergembira di kalangan keluarganya

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  2. كَانَkaanaadalah
  3. فِيfiidi kalangan
  4. أَهْلِهِahlihikeluarganya
  5. مَسْرُورًاmasruuranyang gembira

Inti bacaan

Akar penyebab yang terungkap: 'sesungguhnya dia dahulu bergembira di kalangan keluarganya', ironi bahwa kebahagiaan duniawi tanpa kesadaran spiritual justru menjadi bagian dari masalah, kesenangan yang tidak disertai persiapan akhirat.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَسْرُورًا, masruuran) diulang persis dari 84:9, dan kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini. Jadi satu kata dipakai untuk pahala di sana dan untuk sebab hukuman di sini.

Kata (أَهْلِهِ, ahlihi) juga diulang persis dari 84:9. Jadi dua kata berturut-turut sama persis di dua ayat yang berlawanan arah, dan yang berbeda cuma kata kerja serta huruf yang mendahuluinya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 84:9 ia kembali kepada keluarganya dengan gembira, dan di sini ia dahulu berada di tengah keluarganya dengan gembira. Jadi kegembiraan yang sama menjadi pahala dan menjadi sebab, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pertentangan itu.

Kata kerja (كَانَ, kaana) berasal dari akar yang berarti ada dan menjadi. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:15. Jadi satu akar dipakai untuk keadaan manusia dahulu dan untuk keadaan Tuhannya.

Kesejajaran dengan 84:15 patut dicatat, sebab di sana kata kerja yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Tuhannya senantiasa melihatnya. Jadi ia gembira di tengah keluarganya sementara Dia melihatnya, dan dua ayat itu berjarak dua ayat. Kata (مَسْرُورًا, masruuran) di sini menutup ayatnya, sama seperti letaknya di 84:9.

Kata (فِي, fii) menyatakan berada di dalam sesuatu, sedangkan huruf di 84:9 menyatakan arah menuju. Jadi yang satu kepulangan dan yang lain keberadaan, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja.

Kata (إِنَّهُ, innahu) huruf penegas dengan kata ganti, dan kata yang sama dipakai lagi di 84:14. Jadi dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penegasan yang sama, dan keduanya menerangkan sebab keadaannya.

Ayat ini membuka dua ayat tentang sebab, sesudah tiga ayat tentang akibat. Jadi golongan kedua diberi ruang lebih besar daripada golongan pertama kalau sebabnya ikut dihitung, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.

Kata (كَانَ, kaana) menyatakan keadaan yang berlangsung di masa lampau, bukan satu peristiwa yang selesai. Jadi kegembiraannya dilukiskan sebagai kebiasaan, bukan sebagai satu saat tertentu, dan perbedaan itu terbawa di dalam kata kerjanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.

Kata (مَسْرُورًا, masruuran) berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan kedudukan yang sama dipakai di 84:9. Jadi dua ayat memakai kata yang sama dengan kedudukan tata bahasa yang sama persis, dan yang berbeda cuma kalimat yang menaunginya. Susunan itu membuat kegembiraan terbaca sebagai keadaan yang berlangsung lama, bukan sebagai satu saat yang lewat. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang menggembirakannya maupun berapa lama, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata yang hampir sama dengan kalimat pahala di 84:9.

Tafsiran

Ayat ini menjelaskan sebab kelalaian golongan kedua: kegembiraan duniawi yang membuatnya lupa pertanggungjawaban, dan kata terakhirnya diulang persis dari 84:9.

Kedua kemunculannya di seluruh Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan kata keempatnya juga diulang persis dari ayat itu. Jadi dua kata berturut-turut sama persis di dua ayat yang berlawanan arah.

Di 84:9 ia kembali kepada keluarganya dengan gembira, dan di sini ia dahulu berada di tengah keluarganya dengan gembira. Jadi kegembiraan yang sama menjadi pahala dan menjadi sebab, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pertentangan itu.

Kata kerja keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 84:15. Kesejajaran dengan 84:15 patut dicatat, sebab di sana kata kerja yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Tuhannya senantiasa melihatnya.

Kata ketiganya menyatakan berada di dalam sesuatu, sedangkan huruf di 84:9 menyatakan arah menuju. Kata kerja keduanya menyatakan keadaan yang berlangsung di masa lampau, bukan satu peristiwa yang selesai. Jadi kegembiraannya dilukiskan sebagai kebiasaan, bukan sebagai satu saat tertentu. Kata terakhirnya berbaris fathah karena menerangkan keadaan pelakunya, dan kedudukan yang sama dipakai di 84:9.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dan kata keempatnya diulang persis dari 84:9. Di 84:9 ia kembali kepada keluarganya dengan gembira, dan di sini ia dahulu berada di tengah keluarganya dengan gembira. Jadi kegembiraan yang sama dipakai Allah sebagai pahala dan sebagai sebab hukuman. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata untuk pahala dan untuk sebab hukuman. Kalimat pahala dan kalimat sebab dibedakan cuma oleh satu huruf dan satu kata kerja.
  • Kata kerja keduanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:13 dan 84:15. Di 84:15 kata kerja yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah senantiasa melihatnya. Jadi ia gembira di tengah keluarganya sementara Dia melihatnya. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat yang berjarak dua baris memakai kata kerja yang sama. Kegembiraan yang wajar berubah menjadi sebab ketika ia menutup ingatan akan hisab.
  • Kata ketiganya menyatakan berada di dalam sesuatu, sedangkan huruf di 84:9 menyatakan arah menuju. Jadi yang satu kepulangan dan yang lain keberadaan, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun dari Allah. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menyamakan keduanya akan menghapus jarak antara kepulangan dan keberadaan yang dinyatakannya. Kegembiraan yang wajar berubah menjadi sebab ketika ia menutup ingatan akan hisab.
  • Kata pertamanya huruf penegas dengan kata ganti, dan kata yang sama dipakai Allah lagi di 84:14. Jadi dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penegasan yang sama, dan keduanya menerangkan sebab keadaan golongan kedua di dalam surah ini. Kesejajaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian penegasan yang sama di keduanya. Kalimat pahala dan kalimat sebab dibedakan cuma oleh satu huruf dan satu kata kerja.
  • Yang disebut Allah sebagai sebab di ayat ini kegembiraan di tengah keluarga, bukan kejahatan yang jelas. Apa yang berubah pada pembacanya ketika sebab kebinasaan yang disebutkan justru keadaan yang terdengar wajar dan tidak bersalah? Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menambahkan keterangan tentang kesalahan lain berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya. Kegembiraan yang wajar berubah menjadi sebab ketika ia menutup ingatan akan hisab.
  • Ayat ini membuka dua ayat tentang sebab, sesudah tiga ayat tentang akibat. Jadi golongan kedua diberi ruang lebih besar daripada golongan pertama kalau sebabnya ikut dihitung, dan Allah tidak menerangkan penambahan itu dengan satu kalimat pun. Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penambahan ruang bagi golongan kedua. Kalimat pahala dan kalimat sebab dibedakan cuma oleh satu huruf dan satu kata kerja.