إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَ

Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهُ ظَنَّ أَنْ لَنْ يَحُورَinnahu zhanna an lan yahuurasesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  2. ظَنَّzhannamengira
  3. أَنْanbahwa
  4. لَنْlantidak akan
  5. يَحُورَyahuurakembali

Inti bacaan

Asumsi keliru yang mendasari kelalaian: 'sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali', pengungkapan keyakinan salah yang menjadi dasar perilaku bermasalah, penolakan terhadap konsep akuntabilitas masa depan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَحُورَ, yahuur) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti kembali dan berubah. Ia cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 3:52, 5:111, 5:112, 18:34, 18:37, 44:54, 52:20, 55:72, 56:22, 58:1, 61:14, dan 84:14.

Di 3:52, 5:111, 5:112, dan 61:14 akar itu dipakai untuk para penolong Isa. Jadi akar yang menamai golongan penolong itu memberi satu bentuk yang di sini berarti kembali, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (يَحُورَ, yahuur) di sini menutup ayatnya, dan bentuknya berbaris fathah.

Di 18:34, 18:37, dan 58:1 akar yang sama dipakai untuk perbuatan bercakap-cakap dan berbantahan. Jadi satu akar menamai kembali, bercakap, dan golongan penolong, dan yang menyambungkan ketiganya cuma huruf-huruf akarnya. Kata (ظَنَّ, zhanna) mendahuluinya, dan bentuknya menyatakan yang sudah tertanam.

Kata kerja (ظَنَّ, zhanna) muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:230, 12:42, 38:24, 75:28, dan 84:14. Kesejajaran dengan 75:28 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk orang yang menyangka saat perpisahan sudah tiba.

Jadi kata yang di 75:28 menamai sangkaan tentang kematian yang datang, di sini menamai sangkaan bahwa tidak ada kebangkitan sesudahnya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kata pun. Kata (لَنْ, lan) berdiri di antara keduanya, dan ia huruf pengingkaran yang pasti.

Kata (لَنْ, lan) huruf pengingkaran yang menyatakan kepastian di masa depan, bukan sekadar penolakan. Jadi sangkaan itu dilukiskan sebagai keyakinan yang tegas, bukan keraguan, dan kadarnya terbawa di dalam satu huruf.

Kata (إِنَّهُ, innahu) diulang persis dari 84:13, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penegasan yang sama. Jadi dua sebab disebut dengan penegasan yang setara, dan Al-Qur'an tidak menaruh salah satunya lebih berat.

Ayat ini menutup penyebutan sebab, dan sesudahnya 84:15 membantahnya. Jadi dua ayat sebab langsung dijawab satu ayat bantahan, dan bantahan itu dibuka dengan kata yang menolak.

Kata (أَنْ, an) di ayat ini huruf yang memperkenalkan isi sangkaannya, bukan huruf sebab seperti yang dipakai di surah lain. Jadi yang disebut sesudahnya isi pikirannya, bukan alasan perbuatannya, dan perbedaan itu terbawa di dalam kedudukan hurufnya sendiri.

Bentuk (ظَنَّ, zhanna) berbentuk lampau, sehingga sangkaan itu dinyatakan sebagai yang sudah tertanam, bukan yang baru muncul. Jadi ia sejajar dengan bentuk kata kerja di 84:13, dan dua ayat sebab sama-sama menyebut keadaan yang sudah berlangsung lama. Susunan itu membuat sangkaan terbaca sebagai sebab kedua, sesudah kegembiraan disebut sebagai sebab pertama. Al-Qur'an tidak menyebut dari mana sangkaan itu datang maupun apa yang menguatkannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata yang langsung dibantah di ayat sesudahnya.

Tafsiran

Ayat ini menyoroti keyakinan salah golongan kedua bahwa mereka tidak akan dibangkitkan kembali, dan kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akarnya cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 3:52, 5:111, 5:112, 18:34, 18:37, 44:54, 52:20, 55:72, 56:22, 58:1, 61:14, dan 84:14. Di 3:52, 5:111, 5:112, dan 61:14 akar itu dipakai untuk para penolong Isa.

Di 18:34, 18:37, dan 58:1 akar yang sama dipakai untuk perbuatan bercakap-cakap dan berbantahan. Jadi satu akar menamai kembali, bercakap, dan golongan penolong, dan yang menyambungkan ketiganya cuma huruf-huruf akarnya.

Kata kerja keduanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:230, 12:42, 38:24, 75:28, dan 84:14. Kesejajaran dengan 75:28 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama dipakai untuk orang yang menyangka saat perpisahan sudah tiba.

Kata pertamanya diulang persis dari 84:13, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penegasan yang sama. Kata ketiganya huruf yang memperkenalkan isi sangkaannya, bukan huruf sebab seperti yang dipakai di surah lain. Jadi yang disebut sesudahnya isi pikirannya, bukan alasan perbuatannya. Bentuk kata kerja keduanya berbentuk lampau, sehingga sangkaan itu dinyatakan sebagai yang sudah tertanam, bukan yang baru muncul.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerja terakhirnya cuma dipakai di 12 ayat. Di 3:52, 5:111, 5:112, dan 61:14 akar itu dipakai untuk para penolong Isa, dan di 18:34, 18:37, serta 58:1 untuk perbuatan bercakap-cakap. Jadi satu akar menamai kembali, bercakap, dan golongan penolong tanpa satu kalimat penghubung dari Allah. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk arti yang berjauhan begitu jauh. Akar yang menamai para penolong dipakai untuk kepulangan yang diingkari orang ini.
  • Kata kerja keduanya muncul 12 kali di 11 surah, antara lain di 2:230, 12:42, 38:24, 75:28, dan 84:14. Di 75:28 kata yang sama dipakai untuk orang yang menyangka saat perpisahan sudah tiba, sedangkan di sini ia menamai sangkaan bahwa tidak ada kebangkitan sesudahnya. Yang menyambungkan keduanya cuma bentuk katanya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua sangkaan itu dengan satu kalimat penjelas pun. Sangkaan bahwa tidak ada kembali menghapus seluruh alasan untuk berhati-hati.
  • Kata keempatnya huruf pengingkaran yang menyatakan kepastian di masa depan, bukan sekadar penolakan. Jadi Allah melukiskan sangkaan itu sebagai keyakinan yang tegas, bukan keraguan, dan kadarnya terbawa di dalam satu huruf saja tanpa kata penguat. Kadarnya terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya dengan huruf pengingkaran biasa akan melemahkan ketegasan yang dinyatakannya. Akar yang menamai para penolong dipakai untuk kepulangan yang diingkari orang ini.
  • Kata pertamanya diulang persis dari 84:13, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan penegasan yang sama. Jadi Allah menyebut dua sebab dengan penegasan yang setara, dan tidak satu pun ditaruh lebih berat daripada yang lain. Kesejajaran itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian penegasan yang sama di keduanya. Akar yang menamai para penolong dipakai untuk kepulangan yang diingkari orang ini.
  • Ayat ini menutup penyebutan sebab, dan sesudahnya 84:15 membantahnya. Jadi dua ayat sebab langsung dijawab Allah satu ayat bantahan, dan bantahan itu dibuka dengan kata yang menolak. Urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat sebab langsung disusul satu ayat bantahan di dalam susunan surahnya. Sangkaan bahwa tidak ada kembali menghapus seluruh alasan untuk berhati-hati.
  • Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan tidak ada satu tempat lain pun yang memakai bentuk itu. Apa yang berubah pada seluruh hidup seseorang ketika ia yakin bahwa tidak ada yang menunggunya di ujung jalan yang disebut Allah di 84:6? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan bentuknya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalamnya. Sangkaan bahwa tidak ada kembali menghapus seluruh alasan untuk berhati-hati.