بَلَىٰ إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًا

Tidak demikian. Sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. بَلَىٰ إِنَّ رَبَّهُ كَانَ بِهِ بَصِيرًاbalaa inna rabbahu kaana bihi bashiirantidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. بَلَىٰbalaaya
  2. إِنَّinnasesungguhnya
  3. رَبَّهُrabbahuTuhannya
  4. كَانَkaanaselalu
  5. بِهِbihipadanya
  6. بَصِيرًاbashiiranmelihat

Inti bacaan

'tidak demikian. Sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya', pembantahan langsung terhadap keyakinan bahwa tidak ada pengawasan atau konsekuensi, pengingat bahwa observasi berlangsung terus-menerus terlepas dari kesadaran atau ketidaksadaran subjek yang diawasi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بَلَىٰ, balaa) muncul 22 kali di 16 surah, antara lain di 2:81, 7:172, 39:71, 67:9, dan 75:4. Kata itu dipakai untuk membantah pengingkaran, bukan sekadar menjawab pertanyaan.

Kesejajaran dengan 75:4 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membantah sangkaan bahwa tulang manusia tidak akan dikumpulkan. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk membantah pengingkaran atas kebangkitan. Kata (بَصِيرًا, bashiiran) di sini menutup ayatnya, dan ia tidak bertakrif sama sekali.

Kata (بَصِيرًا, bashiiran) muncul 15 kali di 10 surah, antara lain di 4:58, 17:30, 33:9, 76:2, dan 84:15. Di sebagian besar tempat itu kata ini disandarkan kepada Allah sebagai yang melihat.

Kata kerja (كَانَ, kaana) berasal dari akar yang berarti ada dan menjadi. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:13 dan ayat ini. Jadi satu kata kerja menyatakan keadaan manusia dahulu dan keadaan Tuhannya, dan keduanya berjarak dua ayat.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 84:13 ia dahulu gembira di tengah keluarganya, dan di sini Tuhannya dahulu melihatnya. Jadi dua keadaan yang berjalan bersamaan dinyatakan dengan kata kerja yang sama, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung.

Kata (رَبَّهُ, rabbahu) berasal dari akar yang berarti memelihara sampai matang. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 84:2, 84:5, 84:6, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya.

Kata (بِهِ, bihi) memakai huruf ba yang menyatakan sasaran penglihatan, sehingga yang dilihat orang itu sendiri, bukan perbuatannya saja. Jadi cakupannya lebih luas daripada catatan yang disebut di 84:7 dan 84:10.

Ayat ini menutup bagian tentang dua golongan, dan sesudahnya 84:16 membuka rangkaian sumpah yang baru. Jadi sembilan ayat tentang catatan berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya tidak menyebutnya lagi.

Kata (بَلَىٰ, balaa) berdiri sendiri di awal ayat tanpa terikat kepada kata sesudahnya. Jadi ia membalik pernyataan di 84:14 sebelum kalimat barunya dimulai, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menandai pembalikan itu dengan satu kata penghubung pun.

Kata (إِنَّ, inna) huruf penegas, sehingga bantahan itu diperkuat sesudah kata pembaliknya. Jadi satu ayat pendek memuat pembalikan dan penegasan sekaligus, dan kepadatan itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di dalam surahnya. Susunan itu membuat bantahan terbaca lebih dulu dan sebabnya belakangan, sehingga penolakan atas sangkaannya sampai sebelum alasannya. Al-Qur'an tidak menyebut sejak kapan Dia melihatnya maupun apa saja yang dilihat-Nya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang menutup bagian panjang surahnya.

Tafsiran

Ayat ini membantah keyakinan salah tersebut: Tuhan senantiasa mengawasi setiap perbuatannya, dan kata pertamanya muncul 22 kali di 16 surah, antara lain di 2:81, 7:172, 39:71, 67:9, dan 75:4.

Kata itu dipakai untuk membantah pengingkaran, bukan sekadar menjawab pertanyaan. Kesejajaran dengan 75:4 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama membantah sangkaan bahwa tulang manusia tidak akan dikumpulkan.

Kata terakhirnya muncul 15 kali di 10 surah, antara lain di 4:58, 17:30, 33:9, 76:2, dan 84:15. Di sebagian besar tempat itu kata ini disandarkan kepada Allah sebagai yang melihat.

Kata keempatnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:13 dan ayat ini. Di 84:13 ia dahulu gembira di tengah keluarganya, dan di sini Tuhannya dahulu melihatnya.

Ayat ini menutup bagian tentang dua golongan, dan sesudahnya 84:16 membuka rangkaian sumpah yang baru. Kata pertamanya berdiri sendiri di awal ayat tanpa terikat kepada kata sesudahnya. Jadi ia membalik pernyataan di 84:14 sebelum kalimat barunya dimulai, dan susunan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Kata keduanya huruf penegas, sehingga bantahan itu diperkuat sesudah kata pembaliknya. Jadi sembilan ayat tentang catatan berhenti di sini, dan sepuluh ayat sesudahnya tidak menyebutnya lagi sampai surahnya selesai.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keempatnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:13 dan 84:15. Di 84:13 ia dahulu gembira di tengah keluarganya, dan di sini Allah dahulu melihatnya. Jadi dua keadaan yang berjalan bersamaan dinyatakan dengan kata kerja yang sama. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua keadaan itu berjalan pada waktu yang sama. Bantahan yang datang sebelum alasannya menutup ruang untuk menawar.
  • Kata pertamanya muncul 22 kali di 16 surah, antara lain di 2:81, 7:172, 39:71, 67:9, dan 75:4. Di 75:4 kata yang sama membantah sangkaan bahwa tulang manusia tidak akan dikumpulkan Allah. Jadi dua tempat memakainya untuk membantah pengingkaran atas kebangkitan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata pembalik di puluhan tempat. Yang melihat sejak dahulu tidak perlu diberi tahu apa yang terjadi kemudian.
  • Kata kelimanya memakai huruf yang menyatakan sasaran penglihatan, sehingga yang dilihat orang itu sendiri, bukan perbuatannya saja. Jadi cakupannya lebih luas daripada catatan yang disebut Allah di 84:7 dan 84:10, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mempersempit apa yang dilihat menjadi perbuatannya belaka. Bantahan yang datang sebelum alasannya menutup ruang untuk menawar.
  • Kata ketiganya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 84:2, 84:5, 84:6, dan 84:15. Jadi akar yang menamai Allah sebagai Tuhan yang paling menyebar di dalam surahnya, dan ia muncul di tiga bagian yang berbeda. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan penyebaran satu akar di tiga bagian surahnya. Bantahan yang datang sebelum alasannya menutup ruang untuk menawar. Bantahan yang datang sebelum alasannya menutup ruang untuk menawar.
  • Ayat ini menutup bagian tentang dua golongan, dan sesudahnya 84:16 membuka rangkaian sumpah yang baru. Jadi sembilan ayat tentang catatan berhenti di sini, dan Allah tidak menyebutnya lagi di sepuluh ayat sesudahnya sampai surahnya selesai. Pembagian itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan berhentinya bagian panjang itu di ayat ini. Yang melihat sejak dahulu tidak perlu diberi tahu apa yang terjadi kemudian.
  • Kata keempatnya berbentuk lampau, sehingga penglihatan Allah dinyatakan sebagai yang sudah berlangsung sejak dahulu. Apa yang berubah pada sangkaan seseorang bahwa tidak ada yang menunggunya, ketika ternyata Dia sudah melihatnya sepanjang waktu itu? Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk sekarang akan kehilangan jangkauan waktu yang dinyatakannya. Yang melihat sejak dahulu tidak perlu diberi tahu apa yang terjadi kemudian.