فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِ

Maka Aku bersumpah demi mega senja,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَا أُقْسِمُ بِالشَّفَقِfa-laa uqsimu bi-sy-syafaqimaka Aku bersumpah demi mega senja

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فَلَاfa-laamaka
  2. أُقْسِمُuqsimuAku bersumpah
  3. بِالشَّفَقِbi-sy-syafaqidemi mega merah

Inti bacaan

Sumpah demi keindahan senja: 'maka Aku bersumpah demi mega senja', penggunaan fenomena alam yang indah dan singkat sebagai bukti tambahan, momen transisi yang penuh warna sebagai saksi.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (فَلَا أُقْسِمُ, fa-laa uqsimu) muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16. Jadi dua dari lima tempat itu berada di juz yang sama dengan surah ini, yaitu 81:15 dan 84:16.

Kata (بِالشَّفَقِ, bi-sy-syafaq) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti khawatir bercampur kasihan. Ia cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 18:49, 21:28, 21:49, 23:57, 33:72, 42:18, 42:22, 52:26, 58:13, 70:27, dan 84:16.

Di 21:28, 23:57, dan 70:27 akar itu dipakai untuk rasa takut yang bercampur hormat. Jadi akar yang di sepuluh tempat lain menamai rasa takut, di sini menamai cahaya merah di ufuk sesudah matahari terbenam. Kata (بِالشَّفَقِ, bi-sy-syafaq) di sini bertakrif, sehingga yang disumpahi sudah tertentu.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu akar menamai keadaan hati dan keadaan langit, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya sendiri. Kata (أُقْسِمُ, uqsimu) mendahuluinya, dan bentuknya berorang pertama tunggal.

Huruf laa di dalam (فَلَا أُقْسِمُ, fa-laa uqsimu) tidak menyatakan pengingkaran atas sumpahnya, sebab sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan dua ayat sesudahnya. Jadi bentuknya menegaskan, bukan menolak.

Ayat ini membuka rangkaian sumpah kedua di dalam surah ini, sesudah rangkaian keterangan waktu di 84:1 sampai 84:5. Jadi surah ini memuat dua rangkaian pembuka yang berbeda jenisnya, dan keduanya sama-sama tiga ayat panjangnya.

Kata (بِالشَّفَقِ, bi-sy-syafaq) bertakrif, sehingga yang disumpahi cahaya yang sudah tertentu, bukan sembarang cahaya. Jadi Al-Qur'an menunjuk satu waktu yang dianggap dikenali tanpa menerangkannya.

Bentuk (أُقْسِمُ, uqsimu) berorang pertama tunggal, sedangkan sumpah di surah lain sering dinyatakan lewat huruf waw. Jadi di sini Yang bersumpah menyebut diri-Nya sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.

Kata (أُقْسِمُ, uqsimu) berbentuk sekarang, sehingga sumpahnya dinyatakan sebagai yang sedang diucapkan, bukan yang sudah lewat. Jadi pembacanya ditempatkan pada saat sumpah itu berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.

Huruf ba di depan (بِالشَّفَقِ, bi-sy-syafaq) huruf sumpah, bukan huruf sarana, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Jadi kedudukan hurufnya yang menentukan seluruh bacaan ayatnya, dan menggantinya akan mengubah sumpah menjadi keterangan alat. Susunan itu membuat sumpah terbaca sebagai pembuka bagian baru, sesudah sembilan ayat tentang dua golongan berhenti. Al-Qur'an tidak menyebut mengapa cahaya senja yang dipilih maupun apa hubungannya dengan jawabannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini membuka rangkaian sumpah baru untuk menegaskan kepastian tahap-tahap kehidupan manusia, dan rangkaian dua kata pertamanya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16.

Jadi dua dari lima tempat itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 11 ayat.

Di 21:28, 23:57, dan 70:27 akar itu dipakai untuk rasa takut yang bercampur hormat. Jadi akar yang di sepuluh tempat lain menamai rasa takut, di sini menamai cahaya merah di ufuk sesudah matahari terbenam.

Satu akar menamai keadaan hati dan keadaan langit, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Ayat ini membuka rangkaian sumpah kedua di dalam surah ini, sesudah rangkaian keterangan waktu di 84:1 sampai 84:5. Bentuk kata keduanya berbentuk sekarang, sehingga sumpahnya dinyatakan sebagai yang sedang diucapkan, bukan yang sudah lewat. Huruf di depan kata terakhirnya huruf sumpah, bukan huruf sarana, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Jadi kedudukan hurufnya yang menentukan seluruh bacaan ayatnya. Jadi surah ini memuat dua rangkaian pembuka yang berbeda jenisnya, dan keduanya sama-sama tiga ayat panjangnya walau cuma satu yang dijawab.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 11 ayat. Di 21:28, 23:57, dan 70:27 akar itu dipakai Allah untuk rasa takut yang bercampur hormat, sedangkan di sini ia menamai cahaya merah di ufuk sesudah matahari terbenam. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar untuk keadaan hati dan keadaan langit. Akar yang menamai rasa takut dipakai untuk warna langit tanpa satu kata penghubung.
  • Rangkaian dua kata pertamanya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 56:75, 69:38, 70:40, 81:15, dan 84:16. Jadi dua dari lima tempat itu berada di juz yang sama dengan surah ini, dan Allah memakai pembuka sumpah yang sama di dua surah yang berdekatan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan dua dari lima pemakaiannya di satu juz. Sumpah demi cahaya senja memilih waktu yang paling singkat di antara dua waktu besar.
  • Huruf kedua di dalam kata pertamanya tidak menyatakan pengingkaran atas sumpahnya, sebab sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan dua ayat sesudahnya. Jadi bentuknya menegaskan, bukan menolak, dan Allah tidak menerangkan bentuk itu dengan satu kalimat pun. Bentuk itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa sumpahnya tetap berlangsung di ayat ini dan dua ayat yang menyusulnya. Akar yang menamai rasa takut dipakai untuk warna langit tanpa satu kata penghubung.
  • Ayat ini membuka rangkaian sumpah kedua di dalam surah ini, sesudah rangkaian keterangan waktu di 84:1 sampai 84:5. Jadi Allah memuat dua rangkaian pembuka yang berbeda jenisnya di dalam satu surah, dan keduanya sama-sama tiga ayat panjangnya. Pembagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan dua jenis pembuka di dalam satu surah. Sumpah demi cahaya senja memilih waktu yang paling singkat di antara dua waktu besar.
  • Bentuk kata keduanya berorang pertama tunggal, sedangkan sumpah di surah lain sering dinyatakan lewat huruf di depan bendanya. Jadi di sini Allah menyebut diri-Nya sendiri sebagai yang bersumpah, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan kehadiran Yang bersumpah di dalam kalimatnya. Akar yang menamai rasa takut dipakai untuk warna langit tanpa satu kata penghubung.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disumpahi cahaya yang sudah tertentu, bukan sembarang cahaya. Apa yang dipilih Allah ketika Dia bersumpah demi cahaya yang cuma ada sebentar di antara siang dan malam? Ketiadaan keterangan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh susunannya. Sumpah demi cahaya senja memilih waktu yang paling singkat di antara dua waktu besar.