وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَ

Dan demi malam serta apa yang dihimpunnya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَاللَّيْلِ وَمَا وَسَقَwa-l-layli wa-maa wasaqadan demi malam serta apa yang dihimpunnya

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَاللَّيْلِwa-l-laylidan demi malam
  2. وَمَاwa-maadan apa yang
  3. وَسَقَwasaqadihimpunnya

Inti bacaan

Sumpah demi malam dan fungsinya: 'dan demi malam serta apa yang dihimpunnya', pengakuan fungsi malam yang mengumpulkan dan menaungi berbagai makhluk, bukan sekadar kegelapan pasif.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (وَسَقَ, wasaqa) berasal dari akar yang berarti mengumpulkan yang berserak. Akar itu cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 84:17 dan 84:18. Jadi seluruh pemakaian akar itu di dalam Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan keduanya di dua ayat berturut-turut.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di ayat ini akar itu menamai apa yang dihimpun malam, dan di 84:18 ia menamai bulan yang menjadi penuh. Jadi satu akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun mengikat dua ayat sumpah yang bersebelahan. Kata (وَسَقَ, wasaqa) di sini berbentuk lampau, bukan bentuk sekarang.

Kata (وَمَا, wa maa) di ayat ini kata sambung yang berarti dan apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi yang dihimpun malam tidak dinamai sama sekali, dan menyisipkan namanya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin.

Bentuk (وَسَقَ, wasaqa) berbentuk lampau, sehingga penghimpunan itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi malamnya disumpahi bersama apa yang sudah dikumpulkannya, bukan bersama apa yang akan dikumpulkannya.

Ayat ini bagian kedua dari rangkaian sumpah yang dibuka di 84:16, dan rangkaian itu ditutup di 84:18. Jadi tiga ayat sumpah berjalan berturut-turut, dan jawabannya baru datang di 84:19.

Susunan ayat ini menaruh benda yang disumpahi lebih dulu dan keterangannya belakangan, sama seperti susunan di 84:18. Jadi dua ayat sumpah terakhir dibangun dengan rangka yang sama.

Kata (وَمَا, wa maa) menambahkan cakupan kepada benda yang disumpahi, sehingga yang disumpahi bukan malamnya saja. Jadi satu ayat memuat dua perkara yang disumpahi, dan susunan semacam itu tidak dipakai di 84:16.

Rangkaian sumpah di surah ini seluruhnya menyebut waktu dan benda langit, sedangkan rangkaian pembuka di 84:1 sampai 84:5 menyebut langit dan bumi. Jadi dua rangkaian itu berbeda sasarannya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Kata (وَسَقَ, wasaqa) berdiri tanpa menyebut apa yang dihimpun, sehingga objeknya diwakili kata sambung di depannya. Jadi susunannya membiarkan isinya kosong, dan pembacanya sendiri yang menimbang apa saja yang dikumpulkan malam. Al-Qur'an tidak melengkapi keterangan itu di ayat mana pun.

Bentuk (وَسَقَ, wasaqa) berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya maupun caranya. Susunan itu membuat malam dan isinya terbaca sebagai satu perkara yang disumpahi, bukan dua. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang dihimpun malam maupun bagaimana ia menghimpunnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang berdiri di tengah rangkaian sumpahnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian sumpah dengan malam dan segala yang dihimpunnya, dan kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 84:17 dan 84:18.

Jadi seluruh pemakaian akar itu di dalam Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan keduanya di dua ayat berturut-turut. Di ayat ini akar itu menamai apa yang dihimpun malam, dan di 84:18 ia menamai bulan yang menjadi penuh.

Jadi satu akar yang tidak dipakai di tempat lain mana pun mengikat dua ayat sumpah yang bersebelahan, dan Al-Qur'an tidak menandai ikatan itu dengan satu kata pun.

Kata keduanya kata sambung yang berarti dan apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi yang dihimpun malam tidak dinamai sama sekali, dan menyisipkan namanya akan mempersempit apa yang dibiarkan seluas mungkin.

Ayat ini bagian kedua dari rangkaian sumpah yang dibuka di 84:16, dan rangkaian itu ditutup di 84:18. Kata kerja terakhirnya berdiri tanpa menyebut apa yang dihimpun, sehingga objeknya diwakili kata sambung di depannya. Jadi susunannya membiarkan isinya kosong, dan pembacanya sendiri yang menimbang apa saja yang dikumpulkan malam. Bentuknya berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana bagi akarnya. Jadi ayat ini bagian kedua dari rangkaian sumpah yang dibuka di 84:16, dan rangkaian itu baru ditutup di 84:18 pada ayat sesudahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 84:17 dan 84:18. Jadi seluruh pemakaian akar itu di dalam Al-Qur'an berada di dalam surah ini, dan Allah menaruh keduanya di dua ayat sumpah yang bersebelahan tanpa satu penanda pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemusatan seluruh pemakaian akar di satu surah. Malam yang menghimpun tidak menyebut apa yang dihimpunnya, dan itu justru cakupannya.
  • Di 84:17 akar itu menamai apa yang dihimpun malam, dan di 84:18 ia menamai bulan yang menjadi penuh. Jadi satu akar yang tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun mengikat dua benda langit yang berbeda di dalam satu rangkaian sumpah. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua ayat sumpah bersebelahan dikunci satu akar yang sama. Akar yang tidak dipakai di tempat lain mengunci dua ayat sumpah jadi satu. Malam yang menghimpun tidak menyebut apa yang dihimpunnya, dan itu justru cakupannya.
  • Kata keduanya kata sambung yang berarti dan apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi Allah tidak menamai apa yang dihimpun malam sama sekali. Apa yang dibayangkan pembaca ketika yang disumpahkan justru sesuatu yang sengaja tidak disebut namanya? Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang sengaja dibiarkan seluas mungkin oleh kata sambungnya. Akar yang tidak dipakai di tempat lain mengunci dua ayat sumpah jadi satu.
  • Bentuk kata kerja terakhirnya berbentuk lampau, sehingga penghimpunan itu dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi malamnya disumpahi Allah bersama apa yang sudah dikumpulkannya, bukan bersama apa yang akan dikumpulkannya nanti. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk sekarang akan mengubah apa yang sudah menjadi apa yang akan. Malam yang menghimpun tidak menyebut apa yang dihimpunnya, dan itu justru cakupannya.
  • Kata keduanya menambahkan cakupan kepada benda yang disumpahi, sehingga yang disumpahi bukan malamnya saja. Jadi satu ayat memuat dua perkara yang disumpahi Allah, dan susunan semacam itu tidak dipakai di 84:16 pada ayat sebelumnya. Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menambahkan keterangan tentang isi himpunannya berarti menaruh apa yang tidak disediakan susunan ayatnya. Malam yang menghimpun tidak menyebut apa yang dihimpunnya, dan itu justru cakupannya.
  • Rangkaian sumpah di surah ini seluruhnya menyebut waktu dan benda langit, sedangkan rangkaian pembuka di 84:1 sampai 84:5 menyebut langit dan bumi. Jadi dua rangkaian itu berbeda sasarannya, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan sasaran itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua rangkaiannya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan sasaran masing-masing. Akar yang tidak dipakai di tempat lain mengunci dua ayat sumpah jadi satu.