وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَ

Dan demi bulan apabila purnama,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْقَمَرِ إِذَا اتَّسَقَwa-l-qamari idzaa ttasaqadan demi bulan apabila purnama

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالْقَمَرِwa-l-qamaridan demi bulan
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. اتَّسَقَttasaqapurnama

Inti bacaan

Sumpah demi bulan purnama: 'dan demi bulan apabila purnama', pemilihan fase bulan paling sempurna sebagai simbol kelengkapan dan siklus yang teratur.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (اتَّسَقَ, ittasaqa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengumpulkan yang berserak. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 84:17 dan ayat ini, sehingga seluruh pemakaian akar itu berada di dalam surah ini.

Bentuk (اتَّسَقَ, ittasaqa) berpola kedelapan, sedangkan bentuk di 84:17 berpola pertama. Jadi satu akar dipakai dengan dua pola yang berbeda di dua ayat berturut-turut, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan hurufnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Pola pertama menyatakan perbuatan atas sesuatu di luar dirinya, dan pola kedelapan menyatakan perbuatan yang kembali kepada pelakunya. Jadi malam menghimpun yang lain dan bulan menghimpun dirinya sendiri.

Kata (وَالْقَمَرِ, wa-l-qamar) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 74:32, 84:18, dan 91:2. Kesejajaran dengan 91:2 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama juga berdiri di dalam rangkaian sumpah pembuka surahnya.

Jadi dua surah memakai kata yang sama di dalam sumpah, dan yang di 91:2 mengikatnya kepada matahari sedangkan yang di sini mengikatnya kepada malam. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (اتَّسَقَ, ittasaqa) di sini berpola kedelapan, bukan pola pertama.

Kata (إِذَا, idzaa) diulang dari 84:1 dan 84:3, sehingga kata itu muncul tiga kali di dalam surah ini. Jadi satu kata waktu dipakai di dua rangkaian yang berbeda jenisnya, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Ayat ini menutup rangkaian sumpah, dan jawabannya datang di 84:19. Jadi rangkaian sumpah kedua ini dijawab, berbeda dari rangkaian pembuka di 84:1 sampai 84:5 yang tidak pernah ditutup.

Susunan ayat ini menaruh benda yang disumpahi lebih dulu dan keterangan waktunya belakangan, sama seperti susunan di 84:17. Jadi dua ayat sumpah terakhir dibangun dengan rangka yang sama persis.

Kata (الْقَمَرِ, al-qamar) berasal dari akar yang berarti bulan. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 6:96, 10:5, 21:33, 36:39, dan 71:16. Jadi akar itu jarang dipakai kalau dibandingkan dengan akar untuk langit maupun bumi, dan di sini ia berdiri di dalam sumpah.

Kata (إِذَا, idzaa) di ayat ini menandai keadaan bulan, bukan waktu peristiwa besar seperti di 84:1 dan 84:3. Jadi satu kata dipakai untuk dua jenis keterangan yang berbeda di dalam satu surah, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu kata pun. Susunan itu membuat bulan terbaca bersama keadaannya, bukan bulan begitu saja. Al-Qur'an tidak menyebut mengapa keadaan penuh yang dipilih maupun apa hubungannya dengan dua sumpah sebelumnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang menutup rangkaian sumpahnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian sumpah dengan bulan purnama, dan kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 84:17 dan ayat ini.

Bentuk kata kerjanya berpola kedelapan, sedangkan bentuk di 84:17 berpola pertama. Jadi satu akar dipakai dengan dua pola yang berbeda di dua ayat berturut-turut, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan hurufnya.

Pola pertama menyatakan perbuatan atas sesuatu di luar dirinya, dan pola kedelapan menyatakan perbuatan yang kembali kepada pelakunya. Jadi malam menghimpun yang lain dan bulan menghimpun dirinya sendiri.

Kata pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 74:32, 84:18, dan 91:2. Kesejajaran dengan 91:2 patut dicatat, sebab di sana kata yang sama juga berdiri di dalam rangkaian sumpah pembuka surahnya.

Ayat ini menutup rangkaian sumpah, dan jawabannya datang di 84:19. Akar kata pertamanya dipakai di 26 ayat, antara lain 6:96, 10:5, 21:33, 36:39, dan 71:16. Jadi akar itu jarang dipakai kalau dibandingkan dengan akar untuk langit maupun bumi. Kata keduanya menandai keadaan bulan, bukan waktu peristiwa besar seperti di 84:1 dan 84:3, sehingga satu kata dipakai untuk dua jenis keterangan. Jadi rangkaian sumpah kedua ini dijawab di 84:19, berbeda dari rangkaian pembuka di 84:1 sampai 84:5 yang tidak pernah ditutup sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kedelapan, sedangkan bentuk di 84:17 berpola pertama. Pola pertama menyatakan perbuatan atas sesuatu di luar dirinya, dan pola kedelapan menyatakan perbuatan yang kembali kepada pelakunya. Jadi malam menghimpun yang lain dan bulan menghimpun dirinya. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan menghapus pertentangan antara menghimpun yang lain dan menghimpun diri. Satu akar dengan dua pola membedakan menghimpun yang lain dari menghimpun diri.
  • Kata pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 74:32, 84:18, dan 91:2. Di 91:2 kata yang sama juga berdiri di dalam rangkaian sumpah pembuka surahnya. Jadi dua surah memakai kata yang sama di dalam sumpah Allah, dan yang di sana mengikatnya kepada matahari. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu kata di dua rangkaian sumpah yang berbeda. Bulan yang mengumpulkan cahayanya sampai penuh disumpahi pada puncak keutuhannya.
  • Ayat ini menutup rangkaian sumpah, dan jawabannya datang di 84:19. Jadi rangkaian sumpah kedua ini dijawab Allah, berbeda dari rangkaian pembuka di 84:1 sampai 84:5 yang tidak pernah ditutup. Perbedaan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu rangkaian dijawab dan rangkaian yang lain dibiarkan menggantung. Bulan yang mengumpulkan cahayanya sampai penuh disumpahi pada puncak keutuhannya.
  • Kata keduanya diulang dari 84:1 dan 84:3, sehingga kata itu muncul tiga kali di dalam surah ini. Jadi satu kata waktu dipakai Allah di dua rangkaian yang berbeda jenisnya, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kata penghubung pun. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa nomornya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata waktu di dua bagian surahnya. Satu akar dengan dua pola membedakan menghimpun yang lain dari menghimpun diri.
  • Susunan ayat ini menaruh benda yang disumpahi lebih dulu dan keterangan waktunya belakangan, sama seperti susunan di 84:17. Jadi dua ayat sumpah terakhir dibangun Allah dengan rangka yang sama persis tanpa satu kata pembeda. Kesejajaran rangka itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pengulangan susunan yang sama. Bulan yang mengumpulkan cahayanya sampai penuh disumpahi pada puncak keutuhannya.
  • Kata kerja terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan ia menamai bulan yang mengumpulkan cahayanya sampai penuh. Apa yang dipilih Allah ketika Dia bersumpah demi bulan justru pada saat ia sedang utuh, bukan pada saat ia menyabit? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan bentuknya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalamnya. Satu akar dengan dua pola membedakan menghimpun yang lain dari menghimpun diri.