وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ ۩
Dan apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka tidak bersujud?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَwa-idzaa quri'a 'alayhimu l-qur'aanu laa yasjuduunadan apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka tidak bersujud
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- قُرِئَquri'adibacakan
- عَلَيْهِمُ'alayhimuatas mereka
- الْقُرْآنُl-qur'aanuAl-Qur'an
- لَاlaatidak
- يَسْجُدُونَyasjuduunamereka bersujud
Inti bacaan
Bukti konkret penolakan terhadap ibadah: 'dan apabila dibacakan Al-Qur'an kepada mereka, mereka tidak bersujud?', contoh spesifik ketidaktaatan fisik yang menegaskan bahwa penolakan bermanifestasi dalam tindakan nyata, bukan sekadar sikap batin.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (لَا يَسْجُدُونَ, laa yasjuduun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar (يَسْجُدُونَ, yasjuduun) berarti bersujud. Akar itu dipakai di 81 ayat, antara lain 7:206, 15:98, 53:62, 84:21, dan 96:19.
Kesejajaran dengan 96:19 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perintah bersujud, dan ayat itu juga memuat tanda sujud tilawah. Jadi dua ayat bertanda sujud memakai akar yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan. Kata (الْقُرْآنُ, al-qur-aan) di sini berbaris damah sebagai yang dibacakan.
Jadi yang di 96:19 memerintahkan sujud dan yang di sini menyebut mereka tidak bersujud. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya beserta tanda yang menyertainya.
Kata kerja (قُرِئَ, quri-a) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 7:204 dan 84:21. Di 7:204 kata yang sama dipakai untuk perintah mendengarkan dan diam ketika Al-Qur'an dibacakan.
Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk pembacaan Al-Qur'an, dan yang di 7:204 menyebut apa yang seharusnya dikerjakan sedangkan yang di sini menyebut apa yang tidak mereka kerjakan. Kata (قُرِئَ, quri-a) mendahuluinya, dan bentuknya berbentuk penderita.
Bentuk (قُرِئَ, quri-a) berbentuk penderita, sehingga yang membacakan tidak disebutkan di dalam ayatnya. Jadi yang ditekankan pembacaannya, bukan pembacanya, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya.
Kata (الْقُرْآنُ, al-qur-aan) disebut sekali di dalam surah ini, dan itu satu-satunya penyebutan kitab di sepanjang dua puluh lima ayatnya. Jadi penyebutan itu berdiri sendiri, dan sesudahnya tidak disebut lagi sampai surahnya selesai.
Ayat ini memuat tanda sujud tilawah pada ujungnya, sedangkan isinya justru menyebut orang yang tidak bersujud. Jadi pembacanya diminta mengerjakan apa yang ayat itu sebut tidak mereka kerjakan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu.
Kata (عَلَيْهِمُ, 'alaihimu) memakai kata ganti jamak yang menunjuk mereka di 84:20. Jadi dua ayat berturut-turut terikat kepada pihak yang sama, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang dimaksudkan. Al-Qur'an tidak mengulang penyebutan mereka di dalam ayat ini.
Kata (وَإِذَا, wa idzaa) diulang dari 84:3 dengan susunan yang sama, sehingga kata itu muncul di dua bagian surah yang berjauhan. Jadi satu kata waktu dipakai untuk kehancuran bumi dan untuk pembacaan kitab, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Susunan itu membuat pembacaan dan penolakan sujud terbaca sebagai satu peristiwa yang berulang. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang membacakan maupun bagian mana yang dibacakan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima kata beserta tanda sujud yang menyertainya di ujung ayat.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan penolakan mereka bahkan terhadap tanda sujud yang paling mendasar, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akar kata terakhirnya dipakai di 81 ayat, antara lain 7:206, 15:98, 53:62, 84:21, dan 96:19. Kesejajaran dengan 96:19 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perintah bersujud, dan ayat itu juga memuat tanda sujud tilawah.
Jadi dua ayat bertanda sujud memakai akar yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan: yang di sana memerintahkan sujud dan yang di sini menyebut mereka tidak bersujud.
Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 7:204 dan 84:21. Di 7:204 kata yang sama dipakai untuk perintah mendengarkan dan diam ketika Al-Qur'an dibacakan.
Ayat ini memuat tanda sujud tilawah pada ujungnya, sedangkan isinya justru menyebut orang yang tidak bersujud. Kata ketiganya memakai kata ganti jamak yang menunjuk mereka di 84:20. Jadi dua ayat berturut-turut terikat kepada pihak yang sama, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang dimaksudkan. Kata pertamanya diulang dari 84:3 dengan susunan yang sama, sehingga kata itu muncul di dua bagian surah yang berjauhan. Jadi pembacanya diminta mengerjakan apa yang ayat itu sebut tidak mereka kerjakan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 81 ayat, antara lain 7:206, 15:98, 53:62, 84:21, dan 96:19. Di 96:19 akar yang sama dipakai untuk perintah bersujud, dan ayat itu juga memuat tanda sujud tilawah. Jadi dua ayat bertanda sujud memakai akar yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu akar di dua ayat yang sama-sama bertanda sujud.
- Ayat ini memuat tanda sujud tilawah pada ujungnya, sedangkan isinya justru menyebut orang yang tidak bersujud. Apa yang dikerjakan sebuah ayat pada pembacanya ketika ia diminta bersujud persis pada kalimat yang menyebut orang lain menolak bersujud kepada Allah? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tanda di ujung ayatnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan antara tanda itu dan isi kalimat yang menyertainya. Ayat yang menyebut orang tidak bersujud justru meminta pembacanya bersujud.
- Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 7:204 dan 84:21. Di 7:204 kata yang sama dipakai untuk perintah mendengarkan dan diam ketika Al-Qur'an dibacakan. Jadi yang di sana menyebut apa yang seharusnya dikerjakan, dan yang di sini apa yang tidak mereka kerjakan. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian satu kata di dua tempat yang berjauhan. Ayat yang menyebut orang tidak bersujud justru meminta pembacanya bersujud.
- Bentuk kata kerja keduanya berbentuk penderita, sehingga yang membacakan tidak disebutkan Allah di dalam ayatnya. Jadi yang ditekankan pembacaannya, bukan pembacanya, dan pilihan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa kata keterangan. Ketiadaan pembaca itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk penderitanya. Ayat yang menyebut orang tidak bersujud justru meminta pembacanya bersujud.
- Kata keempatnya menyebut kitab itu sekali di dalam surah ini, dan itu satu-satunya penyebutan kitab di sepanjang dua puluh lima ayatnya. Jadi penyebutan itu berdiri sendiri, dan Allah tidak menyebutnya lagi sampai surahnya selesai di 84:25. Penyebutan itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa seluruh ayatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan penyebutan tunggal di dalam surahnya. Kitab yang cuma disebut sekali di dalam surah muncul tepat di ayat penolakan itu.
- Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 81 ayat. Jadi akar yang tersebar di puluhan ayat memberi satu rangkaian yang berdiri di ayat ini saja, dan pembacanya tidak punya tempat lain untuk membandingkannya. Yang bisa dicatat cuma di mana rangkaian itu dipakai, dan menyimpulkan lebih jauh berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya sendiri. Kitab yang cuma disebut sekali di dalam surah muncul tepat di ayat penolakan itu.