بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَ
Bahkan orang-orang yang kufur itu mendustakan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُكَذِّبُونَbali lladziina kafaruu yukadzdzibuunabahkan orang-orang yang kufur itu mendustakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- بَلِbalibahkan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- يُكَذِّبُونَyukadzdzibuunamereka mendustakan
Inti bacaan
Diagnosis pola perilaku yang konsisten: 'bahkan orang-orang yang kufur itu mendustakan', pengakuan bahwa kekufuran secara alami berbuah pada pendustaan aktif, bukan sekadar keraguan pasif.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:33, 83:11, dan 84:22. Kesejajaran dengan 83:11 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf.
Jadi dua surah yang bersebelahan memakai kata yang sama, dan yang di 83:11 menyebut orang yang mendustakan hari pembalasan sedangkan yang di sini menyebut orang yang mendustakan tanpa objek. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) di sini berdiri tanpa objek, dan bentuknya jamak.
Di 6:33 kata yang sama dipakai di dalam pernyataan bahwa mereka bukan mendustakan orang yang menyampaikan melainkan mendustakan ayat-ayat Allah. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama dengan tiga cara menyebut sasarannya. Kata (كَفَرُوا, kafaruu) mendahuluinya, dan bentuknya menyatakan yang sudah terjadi.
Kata (بَلِ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, sehingga ayat ini menolak sebab yang mungkin disangka dan menaruh sebab yang sebenarnya. Jadi susunannya membantah lebih dulu dan menyatakan kemudian.
Bentuk (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) berbentuk sekarang, sama seperti bentuk kata kerja di 84:20 dan 84:21. Jadi tiga ayat berturut-turut sama-sama menyatakan perbuatan yang masih berlangsung.
Kata kerja (كَفَرُوا, kafaruu) berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang. Jadi kekufuran disebut sebagai yang sudah terjadi dan pendustaan sebagai yang masih berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk keduanya.
Kata kerja (يُكَذِّبُونَ, yukadzdzibuun) berdiri tanpa objek, sehingga apa yang mereka dustakan tidak disebutkan. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menyisipkan objeknya akan mempersempit apa yang tertulis.
Ayat ini menyebut sebab, sesudah 84:20 dan 84:21 menyebut sikapnya. Jadi susunan bagian penutup ini sejajar dengan susunan bagian tengah surahnya, yang juga menyebut akibat lebih dulu dan sebab kemudian.
Kata (الَّذِينَ, alladziina) menunjuk mereka tanpa menamai satu orang pun, sama seperti kata yang dipakai di 84:7 dan 84:10 untuk dua golongan. Jadi surah ini menyebut seluruh pihaknya tanpa nama, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu nama diri pun di sepanjang dua puluh lima ayatnya.
Bentuk (كَفَرُوا, kafaruu) berbentuk jamak, sehingga yang disebut kumpulan, bukan satu orang. Jadi bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan ia sejajar dengan bentuk jamak yang dipakai di 84:20 serta 84:21 pada dua ayat sebelumnya. Susunan itu membuat pendustaan terbaca sebagai sebab yang sebenarnya, sesudah dua ayat menyebut sikapnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka dustakan maupun sejak kapan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang membalikkan arah pembicaraan sebelumnya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa akar penolakan mereka adalah pendustaan yang disengaja, dan kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:33, 83:11, dan 84:22.
Kesejajaran dengan 83:11 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf. Jadi dua surah yang bersebelahan memakai kata yang sama, dan yang di 83:11 menyebut orang yang mendustakan hari pembalasan.
Di 6:33 kata yang sama dipakai di dalam pernyataan bahwa mereka bukan mendustakan orang yang menyampaikan melainkan mendustakan ayat-ayat Allah. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama dengan tiga cara menyebut sasarannya.
Kata pertamanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, sehingga ayat ini menolak sebab yang mungkin disangka dan menaruh sebab yang sebenarnya.
Kata kerja ketiganya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang. Kata keduanya menunjuk mereka tanpa menamai satu orang pun, sama seperti kata yang dipakai di 84:7 dan 84:10 untuk dua golongan. Jadi surah ini menyebut seluruh pihaknya tanpa nama, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu nama diri pun di sepanjang dua puluh lima ayatnya. Bentuk kata ketiganya berbentuk jamak. Jadi susunan bagian penutup ini sejajar dengan susunan bagian tengah surahnya, yang juga menyebut akibat lebih dulu dan sebab kemudian.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 6:33, 83:11, dan 84:22. Kesejajaran dengan 83:11 patut dicatat, sebab surah itu berdiri tepat sebelum surah ini di dalam susunan mushaf, dan di sana kata yang sama menyebut orang yang mendustakan hari pembalasan. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian satu kata di dua surah yang bersebelahan.
- Di 6:33 kata kerja terakhirnya dipakai di dalam pernyataan bahwa mereka bukan mendustakan orang yang menyampaikan melainkan mendustakan ayat-ayat Allah. Jadi tiga tempat memakai kata yang sama dengan tiga cara menyebut sasarannya, dan di sini sasarannya tidak disebut. Yang menyambungkan ketiganya cuma bentuk katanya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat penjelas pun. Pendustaan yang tidak disebut sasarannya terbaca sebagai sikap, bukan penolakan satu hal.
- Kata kerja ketiganya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang. Jadi Allah menyebut kekufuran sebagai yang sudah terjadi dan pendustaan sebagai yang masih berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk keduanya tanpa kata keterangan. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk kedua katanya, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan jarak antara yang sudah dan yang masih berjalan. Pendustaan yang tidak disebut sasarannya terbaca sebagai sikap, bukan penolakan satu hal.
- Kata pertamanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, sehingga ayat ini menolak sebab yang mungkin disangka dan menaruh sebab yang sebenarnya. Jadi susunan Allah membantah lebih dulu dan menyatakan kemudian, dan urutan itu tidak diterangkan satu kalimat pun. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa bantahan disebut lebih dulu daripada pernyataannya di dalam susunan ayatnya. Dua surah yang bersebelahan memakai satu kata untuk dua cara mendustakan.
- Kata kerja terakhirnya berdiri tanpa objek, sehingga apa yang mereka dustakan tidak disebutkan. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika Allah membiarkan sasarannya kosong, sehingga pendustaan itu terbaca sebagai sikap, bukan sebagai penolakan atas satu perkara? Ketiadaan objek itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang sengaja dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya. Dua surah yang bersebelahan memakai satu kata untuk dua cara mendustakan.
- Ayat ini menyebut sebab, sesudah 84:20 dan 84:21 menyebut sikapnya. Jadi susunan bagian penutup ini sejajar dengan susunan bagian tengah surahnya, yang juga menyebut akibat lebih dulu dan sebab kemudian di 84:12 sampai 84:14. Kesejajaran susunan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua bagiannya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pengulangan pola yang sama. Pendustaan yang tidak disebut sasarannya terbaca sebagai sikap, bukan penolakan satu hal.