فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ
Maka kabarkanlah kepada mereka azab yang pedih,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍfa-basysyirhum bi-'adzaabin aliiminmaka kabarkanlah kepada mereka azab yang pedih
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَبَشِّرْهُمْfa-basysyirhummaka berilah mereka kabar
- بِعَذَابٍbi-'adzaabindengan azab
- أَلِيمٍaliiminyang pedih
Inti bacaan
Pemberitahuan ironis tentang konsekuensi: 'maka kabarkanlah kepada mereka azab yang pedih', penggunaan kata 'kabarkan' (biasanya untuk berita baik) secara sarkastis untuk pesan yang justru menyakitkan, ironi linguistik yang menegaskan keseriusan peringatan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (فَبَشِّرْهُمْ, fa-basysyirhum) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 3:21, 9:34, dan 84:24. Di ketiga tempat itu kata yang sama disusul penyebutan azab yang pedih, bukan kabar gembira.
Jadi bentuk yang biasanya menyampaikan kabar baik dipakai di ketiga tempatnya untuk menyampaikan ancaman. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ketiganya seragam. Kata (أَلِيمٍ, aliimin) di sini menerangkan kata di depannya, dan keduanya tanpa takrif.
Akar (فَبَشِّرْهُمْ, fa-basysyirhum) berarti kulit dan kabar gembira. Akar itu dipakai di 119 ayat, antara lain 2:25, 9:21, 19:97, 39:17, dan 61:13. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kabar gembira yang sungguh menggembirakan.
Rangkaian (بِعَذَابٍ أَلِيمٍ, bi-'adzaabin aliim) muncul 7 kali di 6 surah, yaitu di 3:21, 8:32, 9:3, 9:34, 31:7, 45:8, dan 84:24. Jadi rangkaian itu selalu berpasangan dengan penyampaian berita, dan di sini ia menutup teguran.
Bentuk (فَبَشِّرْهُمْ, fa-basysyirhum) berbentuk perintah dan berorang kedua tunggal, sedangkan kata kerja di 84:19 berorang kedua jamak. Jadi surah ini kembali menyapa satu orang sesudah menyapa banyak orang, dan pergantian itu tidak ditandai.
Kedua kata di ayat ini tidak bertakrif pada bagian azabnya, sehingga yang disebut azab sebagai jenis, bukan satu azab tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menambahkan penakrifan akan mempersempitnya. Kata (فَبَشِّرْهُمْ, fa-basysyirhum) membuka ayatnya, dan bentuknya berbentuk perintah.
Huruf fa di awal ayat menyambungkannya kepada 84:23, sehingga perintah ini datang sebagai akibat dari pengetahuan-Nya atas apa yang mereka simpan. Jadi dua ayat itu satu rangkaian sebab dan akibat.
Ayat ini menutup teguran, dan sesudahnya 84:25 membuka pengecualian. Jadi ancaman diberikan lebih dulu dan pengecualian menyusul, dan urutan itu membuat surahnya berakhir dengan janji, bukan dengan ancaman.
Kata (بِعَذَابٍ, bi-'adzaabin) memakai huruf ba yang menyatakan isi berita yang disampaikan. Jadi yang diberitakan azabnya sendiri, bukan sekadar tentang azab, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan huruf itu dengan satu kalimat pun.
Kata (أَلِيمٍ, aliimin) berbaris kasrah karena menerangkan kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Jadi keterangan dan bendanya terikat rapat, dan susunan yang sama dipakai di 84:8 pada dua kata yang menyebut perhitungan yang mudah. Susunan itu membuat perintah menyampaikan terbaca sebagai akibat dari pengetahuan-Nya di ayat sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyebut kepada siapa perintah itu dialamatkan dengan nama maupun bagaimana caranya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata yang menutup teguran di surah ini.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan pemberitahuan azab pedih bagi mereka yang mendustakan, dan kata kerja pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 3:21, 9:34, dan 84:24.
Di ketiga tempat itu kata yang sama disusul penyebutan azab yang pedih, bukan kabar gembira. Jadi bentuk yang biasanya menyampaikan kabar baik dipakai di ketiga tempatnya untuk menyampaikan ancaman.
Akarnya dipakai di 119 ayat, antara lain 2:25, 9:21, 19:97, 39:17, dan 61:13. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kabar gembira yang sungguh menggembirakan.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 7 kali di 6 surah, yaitu di 3:21, 8:32, 9:3, 9:34, 31:7, 45:8, dan 84:24. Jadi rangkaian itu selalu berpasangan dengan penyampaian berita, dan di sini ia menutup teguran.
Ayat ini menutup teguran, dan sesudahnya 84:25 membuka pengecualian. Kata keduanya memakai huruf yang menyatakan isi berita yang disampaikan. Jadi yang diberitakan azabnya sendiri, bukan sekadar tentang azab, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja. Kata terakhirnya berbaris kasrah karena menerangkan kata di depannya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Jadi ancaman diberikan lebih dulu dan pengecualian menyusul di 84:25, dan urutan itu membuat surahnya berakhir dengan janji, bukan dengan ancaman.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertamanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 3:21, 9:34, dan 84:24. Di ketiga tempat itu kata yang sama disusul penyebutan azab yang pedih, bukan kabar gembira. Jadi Allah memakai bentuk yang biasanya menyampaikan kabar baik untuk menyampaikan ancaman. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian bentuk kabar gembira untuk ancaman. Perintah menyampaikan datang sebagai akibat dari pengetahuan yang baru disebut.
- Akar kata kerja pertamanya dipakai Allah di 119 ayat, antara lain 2:25, 9:21, 19:97, 39:17, dan 61:13. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai kabar gembira yang sungguh menggembirakan, sedangkan di sini ia menamai pemberitahuan azab yang pedih. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang biasanya menggembirakan. Kata kabar gembira yang dipakai untuk azab membalik bunyi seluruh kalimatnya.
- Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 7 kali di 6 surah, yaitu di 3:21, 8:32, 9:3, 9:34, 31:7, 45:8, dan 84:24. Jadi rangkaian itu selalu berpasangan dengan penyampaian berita, dan di sini Allah memakainya untuk menutup teguran-Nya di dalam surah ini. Yang menyambungkan ketujuhnya cuma bentuk rangkaiannya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat pun. Kata kabar gembira yang dipakai untuk azab membalik bunyi seluruh kalimatnya.
- Bentuk kata kerja pertamanya berbentuk perintah dan berorang kedua tunggal, sedangkan kata kerja di 84:19 berorang kedua jamak. Jadi surah ini kembali menyapa satu orang sesudah menyapa banyak orang, dan Allah tidak menandai pergantian itu dengan satu kata pun. Peralihan itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa yang disapa kembali menjadi satu orang di ayat ini. Perintah menyampaikan datang sebagai akibat dari pengetahuan yang baru disebut.
- Huruf di awal ayat menyambungkannya kepada 84:23, sehingga perintah ini datang sebagai akibat dari pengetahuan Allah atas apa yang mereka simpan. Jadi dua ayat itu satu rangkaian sebab dan akibat, dan pemisahannya tidak ditandai satu kata pun. Hubungan sebab itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menghilangkannya akan memutus dua ayat yang sebenarnya satu rangkaian. Perintah menyampaikan datang sebagai akibat dari pengetahuan yang baru disebut.
- Ayat ini menutup teguran, dan sesudahnya 84:25 membuka pengecualian. Apa yang berubah pada sebuah surah ketika Allah menaruh ancaman lebih dulu dan pengecualian di ujungnya, sehingga yang terakhir dibaca justru janji, bukan azab? Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ancaman disebut lebih dulu daripada pengecualiannya di dalam susunan surahnya. Kata kabar gembira yang dipakai untuk azab membalik bunyi seluruh kalimatnya. Kata kabar gembira yang dipakai untuk azab membalik bunyi seluruh kalimatnya.