إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; bagi mereka pahala yang tak putus-putus.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍillaa lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati lahum ajrun ghayru mamnuuninkecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka pahala yang tak putus-putus

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. آمَنُواaamanuuberiman
  4. وَعَمِلُواwa-'amiluudan beramal
  5. الصَّالِحَاتِsh-shaalihaatikebajikan
  6. لَهُمْlahumbagi mereka
  7. أَجْرٌajrunupah
  8. غَيْرُghayrutidak
  9. مَمْنُونٍmamnuuninyang terputus

Inti bacaan

Pengecualian dengan jaminan berkelanjutan: 'kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; bagi mereka pahala yang tak putus-putus', penutup surah dengan kontras positif, jaminan ganjaran yang tidak pernah berhenti bagi yang memilih jalan berbeda.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (غَيْرُ مَمْنُونٍ, ghairu mamnuun) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 41:8, 84:25, dan 95:6. Kesejajaran dengan 95:6 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.

Jadi dua surah di juz ini menutup dengan janji pahala yang memakai rangkaian yang sama persis. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma dua kata yang berulang.

Akar (مَمْنُونٍ, mamnuun) berarti memberi karunia. Akar itu dipakai di 25 ayat, antara lain 2:262, 3:164, 26:22, 49:17, dan 68:3. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai pemberian karunia atau mengungkit pemberian.

Jadi akar yang di puluhan ayat menamai karunia yang diberikan, di sini dipakai dengan pengingkaran untuk menyatakan pahala yang tidak terputus. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun. Kata (مَمْنُونٍ, mamnuun) di sini berbentuk penderita, dan ia didahului kata pengingkar.

Kata kerja (آمَنُوا, aamanuu) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:20 dan ayat ini. Jadi satu akar mengikat teguran atas yang tidak beriman dan pengecualian bagi yang beriman.

Kata (إِلَّا, illaa) huruf pengecualian, dan ia mengeluarkan satu golongan dari ancaman di 84:24. Jadi ayat ini bergantung pada ayat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa ancaman yang dikecualikannya.

Kata ketujuh (أَجْرٌ, ajr) tidak bertakrif, sehingga yang dijanjikan pahala sebagai jenis, bukan satu pahala tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, sama seperti azab di 84:24 yang juga tidak bertakrif.

Ayat penutup ini yang paling panjang di dalam surah ini, sedangkan 84:12 yang paling pendek. Jadi surah ini berakhir dengan kalimat terpanjangnya, dan kalimat itu berisi pengecualian, bukan ancaman.

Kata (الصَّالِحَاتِ, ash-shaalihaat) bertakrif dan berbentuk jamak perempuan, sehingga yang disebut amal saleh sebagai keseluruhan jenisnya. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya kepada satu jenis perbuatan akan mengurangi apa yang dinyatakan susunannya.

Kata (لَهُمْ, lahum) memakai huruf lam yang menyatakan kepemilikan, sehingga pahala itu disebut sebagai hak mereka. Jadi susunannya tidak sekadar menjanjikan melainkan menyatakan kepunyaan, dan perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf tanpa kata tambahan. Susunan itu membuat pengecualian terbaca sebagai penutup seluruh surahnya, sesudah ancaman disebut di ayat sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak mereka maupun apa saja amalnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma sembilan kata yang mengakhiri dua puluh lima ayat dengan janji.

Tafsiran

Ayat penutup surah ini mengecualikan orang-orang beriman yang beramal saleh dari azab, menjanjikan pahala yang tak pernah terputus, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 41:8, 84:25, dan 95:6.

Kesejajaran dengan 95:6 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Jadi dua surah di juz ini menutup dengan janji pahala yang memakai rangkaian yang sama persis.

Akar kata terakhirnya dipakai di 25 ayat, antara lain 2:262, 3:164, 26:22, 49:17, dan 68:3. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai pemberian karunia atau mengungkit pemberian.

Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:20 dan ayat ini. Jadi satu akar mengikat teguran atas yang tidak beriman dan pengecualian bagi yang beriman.

Ayat penutup ini yang paling panjang di dalam surah ini, sedangkan 84:12 yang paling pendek. Kata kelimanya bertakrif dan berbentuk jamak perempuan, sehingga yang disebut amal saleh sebagai keseluruhan jenisnya. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin. Kata keenamnya memakai huruf yang menyatakan kepemilikan, sehingga pahala itu disebut sebagai hak mereka, bukan sekadar sebagai janji. Jadi surah ini berakhir dengan kalimat terpanjangnya, dan kalimat itu berisi pengecualian, bukan ancaman yang mendahuluinya di ayat sebelumnya.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 41:8, 84:25, dan 95:6. Kesejajaran dengan 95:6 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Jadi dua surah di juz ini ditutup Allah dengan janji pahala yang memakai rangkaian yang sama persis. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemakaian rangkaian yang sama di dua surah satu juz. Akar yang menamai karunia dipakai dengan pengingkaran untuk pahala yang tak putus.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 25 ayat, antara lain 2:262, 3:164, 26:22, 49:17, dan 68:3. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai pemberian karunia atau mengungkit pemberian, sedangkan di sini ia dipakai dengan pengingkaran untuk pahala yang tidak terputus. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemakaian akar karunia dengan pengingkaran. Surah yang penuh ancaman ditutup dengan janji, dan itu kalimat terpanjangnya.
  • Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 84:20 dan 84:25. Jadi satu akar mengikat teguran Allah atas yang tidak beriman dan pengecualian bagi yang beriman, dan keduanya berjarak lima ayat di bagian penutupnya. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat dua ujung bagian penutup surahnya. Surah yang penuh ancaman ditutup dengan janji, dan itu kalimat terpanjangnya.
  • Kata pertamanya huruf pengecualian, dan ia mengeluarkan satu golongan dari ancaman di 84:24. Jadi ayat ini bergantung pada ayat sebelumnya, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa ancaman yang dikecualikan Allah di dalamnya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat sebelumnya, dan memisahkan ayat ini berarti kehilangan ancaman yang sedang dikecualikan susunan kalimatnya. Akar yang menamai karunia dipakai dengan pengingkaran untuk pahala yang tak putus.
  • Kata ketujuhnya tidak bertakrif, sehingga yang dijanjikan pahala sebagai jenis, bukan satu pahala tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan Allah seluas mungkin, sama seperti azab di 84:24 yang juga tidak bertakrif, dan keduanya seimbang sampai ke penakrifannya. Keseimbangan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan penakrifan yang sama. Akar yang menamai karunia dipakai dengan pengingkaran untuk pahala yang tak putus.
  • Ayat penutup ini yang paling panjang di dalam surah ini, sedangkan 84:12 yang paling pendek. Apa yang dinyatakan sebuah surah ketika Allah menutupnya dengan kalimat terpanjangnya, dan isi kalimat itu pengecualian, bukan ancaman? Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun dengan menghitung katanya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan kalimat terpanjang untuk penutupnya. Surah yang penuh ancaman ditutup dengan janji, dan itu kalimat terpanjangnya.