بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِ

Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالسَّمَاءِ ذَاتِ الْبُرُوجِwa-s-samaa'i dzaati l-buruujidemi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالسَّمَاءِwa-s-samaa'idan demi langit
  2. ذَاتِdzaatiyang memiliki
  3. الْبُرُوجِl-buruujigugusan-gugusan bintang

Inti bacaan

Pembukaan Al-Buruj dengan citra kosmik megah: 'demi langit yang memiliki gugusan-gugusan bintang', penggunaan keindahan struktur langit sebagai objek sumpah pembuka, keteraturan yang menjadi bukti desain yang disengaja.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri.

Kata (الْبُرُوجِ, al-buruuj) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menara dan gugusan bintang. Ia cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 4:78, 15:16, 24:60, 25:61, 33:33, dan 85:1. Jadi akar yang jarang ini memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat pembuka surahnya.

Di 4:78 akar itu dipakai untuk benteng yang dibangun tinggi, dan di 15:16 serta 25:61 ia dipakai untuk sesuatu yang ditaruh di langit. Jadi satu akar menamai bangunan di bumi dan bangunan di langit, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (الْبُرُوجِ, al-buruuj) di sini bertakrif, sehingga yang disebut sudah tertentu.

Di 24:60 dan 33:33 akar yang sama dipakai untuk memperlihatkan perhiasan. Jadi tiga jenis pemakaian yang berjauhan bertemu di satu akar: benteng, sesuatu di langit, dan menampakkan diri, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya. Kata (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) mendahuluinya, dan keduanya satu rangkaian sumpah.

Kata (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) berasal dari akar yang berarti tinggi menjulang. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 85:9. Jadi langit disebut dua kali: sekali sebagai yang disumpahi dan sekali sebagai yang dimiliki.

Huruf waw di depan kata pertamanya huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai untuk membuka banyak surah pendek, antara lain di 86:1, 89:1, 91:1, 92:1, dan 95:1. Kata (ذَاتِ, dzaati) berdiri di antara keduanya, dan ia mengikat benda kepada sifatnya.

Kata (ذَاتِ, dzaati) berarti yang mempunyai, dan ia dipakai lagi di 85:5 untuk menerangkan api. Jadi satu kata penghubung dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali untuk langit dan sekali untuk api yang disebut di dalam kisahnya.

Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi sumpahnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan dengan penanda yang jelas. Jadi tiga ayat sumpah berturut-turut dibiarkan tanpa jawaban yang ditandai, dan yang datang sesudahnya justru kutukan di 85:4.

Kata (الْبُرُوجِ, al-buruuj) berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata sebelumnya, dan keterangan itu tidak bisa dilepaskan tanpa mengubah apa yang disumpahi. Jadi yang disumpahi bukan langit begitu saja melainkan langit yang punya bangunan itu, dan pembatasan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri tanpa satu kata penghubung.

Bentuk (الْبُرُوجِ, al-buruuj) berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak, bukan satu. Jadi bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya, dan terjemahan yang memakai bentuk tunggal akan kehilangan keluasan yang dinyatakan susunannya. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyaknya, dan pembacanya dibiarkan tanpa angka itu. Susunan itu membuat pembacanya membaca benda dan sifatnya sebagai satu satuan, dan memisahkan keduanya akan mengubah apa yang disumpahi menjadi sesuatu yang lain. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun di dalam surahnya, dan yang bisa dicatat cuma bahwa susunan yang sama dipakai lagi di dua ayat sesudahnya tanpa penanda.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi langit berbintang, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 4:78, 15:16, 24:60, 25:61, 33:33, dan 85:1.

Di 4:78 akar itu dipakai untuk benteng yang dibangun tinggi, dan di 15:16 serta 25:61 ia dipakai untuk sesuatu yang ditaruh di langit. Jadi satu akar menamai bangunan di bumi dan bangunan di langit.

Di 24:60 dan 33:33 akar yang sama dipakai untuk memperlihatkan perhiasan. Jadi tiga jenis pemakaian yang berjauhan bertemu di satu akar, dan yang menyambungkannya cuma huruf-huruf akarnya sendiri.

Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 85:9. Jadi langit disebut dua kali: sekali sebagai yang disumpahi dan sekali sebagai yang dimiliki.

Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi sumpahnya, dan jawabannya tidak pernah disebutkan dengan penanda yang jelas. Kata terakhirnya berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata sebelumnya, dan keterangan itu tidak bisa dilepaskan tanpa mengubah apa yang disumpahi. Jadi yang disumpahi bukan langit begitu saja melainkan langit yang punya bangunan itu. Bentuknya jamak, sehingga yang disebut banyak, bukan satu, dan Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyaknya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 4:78, 15:16, 24:60, 25:61, 33:33, dan 85:1. Di 4:78 ia menamai benteng, di 15:16 sesuatu di langit, dan di 33:33 perbuatan menampakkan perhiasan. Jadi Allah memakai satu akar untuk tiga perkara yang berjauhan tanpa satu kalimat penghubung. Yang bisa diperiksa cuma di mana akar itu dipakai, dan menyimpulkan lebih jauh berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya sendiri. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun yang mau memeriksa daftarnya.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:1 dan 85:9. Jadi langit disebut Allah dua kali: sekali sebagai yang disumpahi dan sekali sebagai yang dimiliki-Nya bersama bumi. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun di antara dua ayatnya. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar dipakai di dua tempat yang berjauhan letaknya di dalam surah yang sama.
  • Susunan ayat ini tidak memuat jawaban bagi sumpahnya, dan tiga ayat sumpah berturut-turut dibiarkan Allah tanpa jawaban yang ditandai. Yang datang sesudahnya justru kutukan di 85:4. Apa yang dikerjakan sebuah sumpah pada pembacanya ketika yang disumpahkan tidak pernah dinyatakan? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu sendiri, dan menambahkan jawaban bagi sumpahnya berarti menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh susunannya. Satu akar yang menamai benteng dan bintang menyatukan dua ketinggian yang berbeda jenisnya.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 6 ayat. Jadi akar yang sudah jarang memberi satu bentuk yang tidak berulang, dan bentuk itu berdiri di ayat pembuka surahnya tanpa pembanding di tempat lain mana pun. Bentuk itu tidak punya pembanding di tempat lain mana pun, sehingga pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksudkan dengan katanya. Sumpah demi langit menaruh saksi yang tidak bisa dibantah siapa pun di awal surahnya.
  • Kata keduanya berarti yang mempunyai, dan ia dipakai Allah lagi di 85:5 untuk menerangkan api. Jadi satu kata penghubung dipakai dua kali di dalam surah ini: sekali untuk langit yang disumpahi dan sekali untuk api di dalam kisahnya. Perbedaan itu terbawa di dalam satu kata saja, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan hubungan yang diikat kata itu antara benda dan sifatnya. Sumpah demi langit menaruh saksi yang tidak bisa dibantah siapa pun di awal surahnya.
  • Huruf di depan kata pertamanya huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai Allah untuk membuka banyak surah pendek, antara lain di 86:1, 89:1, 91:1, 92:1, dan 95:1. Bentuk sumpah itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma di mana ia dipakai serta apa yang berdiri sesudahnya di masing-masing tempat. Satu akar yang menamai benteng dan bintang menyatukan dua ketinggian yang berbeda jenisnya.