وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍwa-syaahidin wa-masyhuudindan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَشَاهِدٍwa-syaahidindan yang menyaksikan
  2. وَمَشْهُودٍwa-masyhuudindan yang disaksikan

Inti bacaan

Sumpah demi konsep kesaksian universal: 'dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan', cakupan luas yang mencakup baik pihak yang mengamati maupun yang diamati, prinsip akuntabilitas yang menyeluruh.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ, wa syaahidin wa masyhuud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Dua katanya berasal dari akar yang sama, yaitu akar yang berarti menyaksikan, dan yang satu berbentuk pelaku sedangkan yang lain berbentuk penderita.

Akar yang berarti menyaksikan itu dipakai di 123 ayat, antara lain 2:143, 3:18, 4:135, 24:24, dan 41:20. Di dalam surah ini akar itu berdiri di tiga ayat, yaitu ayat ini, 85:7, dan 85:9. Jadi ia akar yang paling menyebar di dalam surahnya. Kata (وَشَاهِدٍ, wa syaahidin) di sini tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di ayat ini akar itu menamai penyaksi dan yang disaksikan tanpa nama, di 85:7 ia menamai para pelaku yang menyaksikan kekejamannya sendiri, dan di 85:9 ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Kata (وَمَشْهُودٍ, wa masyhuud) menyusulnya, dan keduanya berasal dari akar yang sama.

Jadi satu akar bergerak dari penyaksi yang tidak dinamai kepada penyaksi yang paling dinamai. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiga tempat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang berulang. Kata (وَشَاهِدٍ, wa syaahidin) berbentuk pelaku, bukan bentuk penderita seperti pasangannya.

Kedua kata di ayat ini tidak bertakrif, sehingga keduanya disebut sebagai jenis, bukan sebagai pihak tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menamai siapa yang menyaksikan akan mempersempit apa yang tertulis. Kata (وَمَشْهُودٍ, wa masyhuud) berbentuk penderita, dan itu kebalikan dari pasangannya.

Bentuk (وَشَاهِدٍ, wa syaahidin) berbentuk pelaku, sedangkan bentuk (وَمَشْهُودٍ, wa masyhuud) berbentuk penderita. Jadi satu akar dipakai dengan dua arah yang berlawanan di dalam satu ayat pendek, dan pertentangan itu terbawa di dalam pola katanya.

Ayat ini menutup rangkaian tiga sumpah, dan jawabannya tidak pernah disebutkan dengan penanda yang jelas. Jadi tiga benda disumpahi berturut-turut lalu pembicaraan berpindah kepada kutukan di 85:4 tanpa satu kata penghubung.

Susunan ayat ini menaruh dua kata yang seakar berdampingan, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Jadi pertentangan pelaku dan penderita dipadatkan ke dalam dua kata yang bersebelahan. Kata (وَشَاهِدٍ, wa syaahidin) berbaris kasrah, sama seperti kata pokok di 85:1.

Kata (وَشَاهِدٍ, wa syaahidin) berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah, sama seperti kata pokok di 85:1 dan 85:2. Jadi tiga ayat sumpah berturut-turut memakai baris yang sama pada kata pokoknya, dan kesejajaran itu mengikat ketiganya menjadi satu rangkaian yang tidak terputus.

Huruf waw di depan (وَمَشْهُودٍ, wa masyhuud) kata sambung, bukan huruf sumpah kedua, sehingga kedua kata di ayat ini masuk ke dalam satu sumpah yang sama. Jadi yang disumpahi tiga perkara di tiga ayat, bukan empat, dan perbedaan itu terbawa di dalam kedudukan hurufnya sendiri. Susunan itu membuat pembacanya membaca dua kata seakar dalam satu tarikan, dan memisahkan keduanya akan menghapus pertentangan yang dibawa pasangannya. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang menyaksikan maupun apa yang disaksikan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma dua bentuk yang berlawanan arah di dalam satu ayat pendek.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian sumpah dengan penyaksi dan yang disaksikan, dan rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Keduanya berasal dari akar yang sama, dan yang satu berbentuk pelaku sedangkan yang lain berbentuk penderita.

Akar itu dipakai di 123 ayat, antara lain 2:143, 3:18, 4:135, 24:24, dan 41:20. Di dalam surah ini akar itu berdiri di tiga ayat, yaitu ayat ini, 85:7, dan 85:9, sehingga ia akar yang paling menyebar di dalam surahnya.

Di ayat ini akar itu menamai penyaksi dan yang disaksikan tanpa nama, di 85:7 ia menamai para pelaku yang menyaksikan kekejamannya sendiri, dan di 85:9 ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu.

Jadi satu akar bergerak dari penyaksi yang tidak dinamai kepada penyaksi yang paling dinamai. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiga tempat itu dengan satu kalimat pun.

Kedua kata di ayat ini tidak bertakrif, sehingga keduanya disebut sebagai jenis, bukan sebagai pihak tertentu. Kata pertamanya berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah, sama seperti kata pokok di 85:1 dan 85:2. Jadi tiga ayat sumpah berturut-turut memakai baris yang sama pada kata pokoknya. Huruf di depan kata keduanya kata sambung, bukan huruf sumpah kedua, sehingga yang disumpahi tiga perkara di tiga ayat, bukan empat. Ayat ini menutup rangkaian tiga sumpah, dan 85:4 sesudahnya berdiri sebagai kalimat pertama yang lengkap di dalam surah ini tanpa satu kata penghubung di antaranya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar dua kata di ayat ini berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:3, 85:7, dan 85:9. Di 85:7 ia menamai para pelaku yang menyaksikan kekejamannya sendiri, dan di 85:9 ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Jadi satu akar bergerak dari penyaksi yang tidak dinamai kepada penyaksi yang paling dinamai. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemusatan satu akar di dalam satu surah pendek.
  • Kata pertamanya berbentuk pelaku, sedangkan kata keduanya berbentuk penderita. Jadi Allah memakai satu akar dengan dua arah yang berlawanan di dalam satu ayat pendek, dan pertentangan itu terbawa di dalam pola katanya sendiri tanpa kata tambahan. Perbedaan pola itu terbawa di dalam susunan hurufnya, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pertentangan yang dibawa dua bentuk itu. Penyaksi dan yang disaksikan berdiri berdampingan tanpa satu pun dinamai.
  • Kedua kata di ayat ini tidak bertakrif, sehingga keduanya disebut sebagai jenis, bukan sebagai pihak tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan Allah seluas mungkin. Apa yang hilang dari sebuah sumpah ketika pembacanya memilih satu penafsiran dan menutup semua yang lain? Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua kata itu sendiri, dan menamai siapa yang menyaksikan berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Penyaksi dan yang disaksikan berdiri berdampingan tanpa satu pun dinamai.
  • Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 123 ayat, antara lain 2:143, 3:18, 4:135, 24:24, dan 41:20. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu pasangan yang cuma berdiri sekali. Kelangkaan pasangan itu bisa diperiksa siapa pun, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan mengapa keduanya cuma sekali ditaruh berdampingan. Penyaksi dan yang disaksikan berdiri berdampingan tanpa satu pun dinamai. Dua bentuk dari satu akar membawa dua arah yang tidak bisa dipertukarkan.
  • Ayat ini menutup rangkaian tiga sumpah, dan jawabannya tidak pernah disebutkan Allah dengan penanda yang jelas. Jadi tiga benda disumpahi berturut-turut lalu pembicaraan berpindah kepada kutukan di 85:4 tanpa satu kata penghubung di antara keduanya. Peralihan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa rangkaian sumpahnya sudah selesai. Dua bentuk dari satu akar membawa dua arah yang tidak bisa dipertukarkan.
  • Susunan ayat ini menaruh dua kata yang seakar berdampingan, dan susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Jadi Allah memadatkan pertentangan pelaku dan penderita ke dalam dua kata yang bersebelahan, dan pembacanya membaca keduanya dalam satu tarikan. Susunan sepadat itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua kata seakar berdiri bersebelahan di sini. Dua bentuk dari satu akar membawa dua arah yang tidak bisa dipertukarkan.