قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ

Binasalah orang-orang pemilik parit,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِqutila ash-haabu l-ukhduudibinasalah orang-orang pemilik parit

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. قُتِلَqutilabinasalah
  2. أَصْحَابُash-haabupenghuni
  3. الْأُخْدُودِl-ukhduudiparit

Inti bacaan

Kutukan terhadap pelaku kekejaman terorganisir: 'binasalah orang-orang pemilik parit', kecaman tegas terhadap kelompok yang merancang metode penyiksaan sistematis.

Penjelasan pilihan kata

Identitas pelaku/korban tidak ditambahi nama historis yang tidak eksplisit dalam Arab, konsisten disiplin anti-penyisipan sejarah.

Kata (الْأُخْدُودِ, al-ukhduud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti parit yang digali. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 31:18 dan 85:4. Jadi ia hapax bentuk yang berdiri di atas akar yang hampir tidak dipakai, dan cuma ada satu ayat lain yang bisa dibandingkan dengannya.

Di 31:18 akar itu dipakai untuk larangan memalingkan pipi kepada orang lain. Jadi satu akar menamai pipi manusia dan parit yang digali di tanah, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang permukaan yang memanjang. Kata (الْأُخْدُودِ, al-ukhduud) di sini bertakrif, sehingga yang disebut sudah tertentu.

Bentuk (قُتِلَ, qutila) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan mereka dikutuk, bukan mereka mengutuk. Jadi pelaku kutukannya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan pembacanya harus melengkapinya dari ayat lain di surah ini.

Kata (أَصْحَابُ, ash-haabu) berarti para pemilik atau para pendamping, dan susunan semacam itu dipakai untuk menamai golongan lewat perkara yang melekat padanya. Jadi golongan ini dinamai lewat paritnya, bukan lewat nama atau tempatnya.

Ayat ini kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri, sebab tiga ayat sebelumnya rangkaian sumpah. Jadi pembicaraan berpindah dari sumpah kepada kutukan tanpa satu kata penghubung, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu.

Kata (الْأُخْدُودِ, al-ukhduud) bertakrif, sehingga yang disebut parit yang sudah tertentu. Jadi Al-Qur'an menunjuk satu parit yang dianggap dikenali, tetapi tidak menyebut di mana ia berada maupun kapan peristiwanya terjadi.

Susunan ayat ini menaruh kutukan lebih dulu dan keterangan tentang paritnya belakangan. Jadi pembacanya membaca hukumannya sebelum tahu apa yang dikerjakan mereka, dan keterangan itu baru datang di 85:5 sampai 85:7.

Kata (قُتِلَ, qutila) berasal dari akar yang berarti membunuh. Akar itu dipakai di 170 ayat, antara lain 2:191, 4:92, 5:32, 9:111, dan 80:17. Kesejajaran dengan 80:17 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang sama dipakai untuk mengutuk manusia yang mengingkari, dan surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini.

Bentuk (أَصْحَابُ, ash-haabu) berbentuk jamak dan berbaris damah karena menjadi pokok kalimatnya. Jadi yang dikutuk kumpulan orang, bukan satu orang, dan bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak mereka, dan pembacanya dibiarkan tanpa angka itu. Susunan itu membuat pembacanya membaca kutukan lebih dulu daripada sebabnya, dan urutan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini. Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang mengutuk maupun siapa yang dikutuk dengan nama, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta tiga ayat yang menerangkannya sesudahnya.

Tafsiran

Ayat ini mengutuk para pelaku kekejaman parit api sebagai pembuka kisah peringatan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 31:18 dan 85:4.

Jadi ia hapax bentuk yang berdiri di atas akar yang hampir tidak dipakai, dan cuma ada satu ayat lain yang bisa dibandingkan dengannya. Di 31:18 akar itu dipakai untuk larangan memalingkan pipi kepada orang lain.

Jadi satu akar menamai pipi manusia dan parit yang digali di tanah, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang permukaan yang memanjang.

Bentuk kata pertamanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan mereka dikutuk, bukan mereka mengutuk. Jadi pelaku kutukannya tidak disebutkan di dalam ayatnya, dan pembacanya harus melengkapinya dari ayat lain di surah ini.

Ayat ini kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri, sebab tiga ayat sebelumnya rangkaian sumpah. Akar kata pertamanya dipakai di 170 ayat, antara lain 2:191, 4:92, 5:32, 9:111, dan 80:17. Kesejajaran dengan 80:17 patut dicatat, sebab di sana bentuk yang sama dipakai untuk mengutuk manusia yang mengingkari, dan surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini. Susunan itu menaruh kutukan lebih dulu daripada sebabnya, dan urutan semacam itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 31:18 dan 85:4. Di 31:18 akar itu dipakai Allah untuk larangan memalingkan pipi kepada orang lain. Jadi satu akar menamai pipi manusia dan parit yang digali di tanah, dan yang menyambungkan keduanya cuma gagasan tentang permukaan yang memanjang. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun di kedua tempatnya. Golongan yang dinamai lewat paritnya kehilangan nama dan tinggal perbuatannya.
  • Bentuk kata pertamanya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan mereka dikutuk, bukan mereka mengutuk. Jadi Allah tidak menyebutkan pelaku kutukannya di dalam ayatnya, dan pembacanya harus melengkapinya dari ayat lain di surah ini seperti 85:12. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk katanya. Golongan yang dinamai lewat paritnya kehilangan nama dan tinggal perbuatannya.
  • Kata keduanya berarti para pemilik atau para pendamping, dan susunan semacam itu dipakai Allah untuk menamai golongan lewat perkara yang melekat padanya. Jadi golongan ini dinamai lewat paritnya, bukan lewat nama atau tempatnya, dan Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun. Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menambahkan nama atau tempat berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya sendiri. Kutukan yang dijatuhkan sebelum perbuatannya disebut membalik urutan yang biasa.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut parit yang sudah tertentu. Jadi Allah menunjuk satu parit yang dianggap dikenali, tetapi tidak menyebut di mana ia berada maupun kapan peristiwanya terjadi. Apa yang berubah pada sebuah peringatan ketika tempat dan waktunya sengaja tidak disebut? Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemilihan akar yang hampir tidak dipakai.
  • Ayat ini kalimat pertama di dalam surah ini yang berdiri sendiri, sebab tiga ayat sebelumnya rangkaian sumpah. Jadi pembicaraan berpindah dari sumpah kepada kutukan tanpa satu kata penghubung, dan Allah tidak menandai peralihan itu dengan apa pun. Peralihan itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa rangkaian sumpahnya sudah berhenti di ayat sebelumnya. Kutukan yang dijatuhkan sebelum perbuatannya disebut membalik urutan yang biasa.
  • Susunan ayat ini menaruh kutukan lebih dulu dan keterangan tentang paritnya belakangan. Jadi pembacanya membaca hukumannya sebelum tahu apa yang dikerjakan mereka, dan keterangan itu baru diberikan Allah di 85:5 sampai 85:7 pada tiga ayat sesudahnya. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa hukumannya disebut lebih dulu daripada perbuatan yang dihukumnya. Golongan yang dinamai lewat paritnya kehilangan nama dan tinggal perbuatannya.