النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ

Api yang berbahan bakar,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِan-naari dzaati l-waquudiapi yang berbahan bakar

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. النَّارِan-naariapi
  2. ذَاتِdzaatiyang memiliki
  3. الْوَقُودِl-waquudibahan bakar

Inti bacaan

Detail instrumen kekejaman: '(yaitu) api yang berbahan bakar', deskripsi konkret alat penyiksaan yang digunakan, menegaskan realitas historis peristiwa yang dikecam.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(yaitu)" tidak dipakai: fragmen apositif lanjutan dari 85:4, tanpa penambahan kata pembuka.

Kata (الْوَقُودِ, al-waquud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyalakan api. Ia cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 2:17, 2:24, 3:10, 5:64, 13:17, 24:35, 28:38, 36:80, 66:6, 85:5, dan 104:6.

Di 2:24 dan 66:6 akar itu dipakai untuk menyatakan bahan bakar api yang manusia dan batu. Jadi akar yang di dua tempat lain menamai manusia sebagai bahan bakar, di sini menamai bahan bakar parit tanpa menyebut apa isinya. Kata (الْوَقُودِ, al-waquud) di sini bertakrif, sehingga yang disebut sudah tertentu.

Kata (ذَاتِ, dzaati) diulang persis dari 85:1, dan ini satu-satunya kata yang muncul di dua ayat berjauhan di dalam surah ini dengan bentuk yang sama. Jadi langit yang disumpahi dan api yang mengutuk diterangkan dengan kata penghubung yang sama.

Kesejajaran itu patut dicatat. Di 85:1 kata itu mengikat langit kepada bangunan yang tinggi, dan di sini ia mengikat api kepada bahan bakarnya. Jadi satu kata dipakai untuk dua perkara yang paling berjauhan di dalam surahnya. Kata (النَّارِ, an-naar) mendahuluinya, dan ia menerangkan kata terakhir di 85:4.

Kata (النَّارِ, an-naar) berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata terakhir di 85:4. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang diterangkannya.

Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda, tanpa satu kata kerja pun. Jadi apinya dilukiskan sebagai keadaan yang tetap, bukan sebagai peristiwa yang berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunannya. Kata (ذَاتِ, dzaati) berdiri di antara keduanya, dan ia mengikat api kepada bahan bakarnya.

Kata (الْوَقُودِ, al-waquud) bertakrif, sehingga yang disebut bahan bakar yang sudah tertentu. Jadi Al-Qur'an menyebut bahwa apinya punya bahan bakar tetapi tidak menyebut apa bahan bakarnya, dan pembacanya dibiarkan tanpa keterangan itu.

Kata (النَّارِ, an-naar) berasal dari akar yang berarti cahaya. Akar itu dipakai di 194 ayat, antara lain 2:24, 7:38, 24:35, 66:6, dan 104:6. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk api yang digali di dalam tanah, bukan untuk api akhirat yang biasa dinamainya.

Bentuk (ذَاتِ, dzaati) berbaris kasrah karena mengikuti kata yang diterangkannya, sama seperti kedudukannya di 85:1. Jadi satu kata dipakai dua kali dengan kedudukan yang sama persis di dalam satu surah, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Susunan itu membuat pembacanya membaca api dan bahan bakarnya sebagai satu satuan, dan memisahkan keduanya akan meninggalkan api tanpa keterangan apa pun. Al-Qur'an tidak menyebut apa isi bahan bakarnya maupun berapa lama apinya menyala, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini merinci parit tersebut: berisi api yang senantiasa dinyalakan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 2:17, 2:24, 3:10, 5:64, 13:17, 24:35, 28:38, 36:80, 66:6, 85:5, dan 104:6.

Di 2:24 dan 66:6 akar itu dipakai untuk menyatakan bahan bakar api yang manusia dan batu. Jadi akar yang di dua tempat lain menamai manusia sebagai bahan bakar, di sini menamai bahan bakar parit tanpa menyebut apa isinya.

Kata keduanya diulang persis dari 85:1. Jadi langit yang disumpahi dan api yang mengutuk diterangkan dengan kata penghubung yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Kata pertamanya berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata terakhir di 85:4. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan.

Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda, tanpa satu kata kerja pun. Akar kata pertamanya dipakai di 194 ayat, antara lain 2:24, 7:38, 24:35, 66:6, dan 104:6. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk api yang digali di dalam tanah, bukan untuk api akhirat yang biasa dinamainya di tempat lain. Susunan itu membuat api dan bahan bakarnya terbaca sebagai satu satuan, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa isi bahan bakarnya sama sekali.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 11 ayat, dan di 2:24 serta 66:6 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahan bakar api yang manusia dan batu. Jadi akar yang di dua tempat lain menamai manusia sebagai bahan bakar, di sini menamai bahan bakar parit tanpa menyebut apa isinya. Yang bisa diperiksa cuma di mana akar itu dipakai, dan menyimpulkan tentang isi bahan bakarnya berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis di dalam ayatnya.
  • Kata keduanya diulang persis dari 85:1. Di 85:1 kata itu mengikat langit kepada bangunan yang tinggi, dan di sini ia mengikat api kepada bahan bakarnya. Jadi Allah memakai satu kata untuk dua perkara yang paling berjauhan di dalam surahnya tanpa satu kalimat penghubung. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu kata mengikat dua benda yang paling berjauhan. Gambaran tanpa kata kerja membuat apinya terbaca sebagai keadaan, bukan kejadian.
  • Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut bahan bakar yang sudah tertentu. Jadi Allah menyebut bahwa apinya punya bahan bakar tetapi tidak menyebut apa bahan bakarnya. Apa yang dikerjakan sebuah gambaran pada pembacanya ketika bagian yang paling mengerikan justru dikosongkan? Ketiadaan keterangan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menambahkan apa yang sengaja tidak disebutkan susunannya. Api yang punya bahan bakar tetapi bahan bakarnya tidak disebut meninggalkan ruang kosong.
  • Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda, tanpa satu kata kerja pun. Jadi apinya dilukiskan Allah sebagai keadaan yang tetap, bukan sebagai peristiwa yang berlangsung, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunannya sendiri tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam susunan katanya, dan terjemahan yang menambahkan kata kerja akan mengubah keadaan yang tetap menjadi peristiwa yang bergerak. Api yang punya bahan bakar tetapi bahan bakarnya tidak disebut meninggalkan ruang kosong.
  • Kata pertamanya berbaris kasrah karena menjadi keterangan bagi kata terakhir di 85:4. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang diterangkan Allah di dalamnya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat sebelumnya, dan memisahkan keduanya berarti kehilangan benda yang sedang diterangkan di dalam ayat ini. Api yang punya bahan bakar tetapi bahan bakarnya tidak disebut meninggalkan ruang kosong.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 11 ayat, yaitu 2:17, 2:24, 3:10, 5:64, 13:17, 24:35, 28:38, 36:80, 66:6, 85:5, dan 104:6. Jadi akar yang sudah jarang memberi satu bentuk yang cuma berdiri sekali. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan bentuk yang cuma sekali dipakai. Gambaran tanpa kata kerja membuat apinya terbaca sebagai keadaan, bukan kejadian.