Ayat 85:6
إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ
Ketika mereka duduk di sekitarnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌidz hum 'alayhaa qu'uudunketika mereka duduk di sekitarnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِذْidzketika
- هُمْhummereka
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- قُعُودٌqu'uudunduduk
Inti bacaan
Kesaksian mata yang mengerikan: 'ketika mereka duduk di sekitarnya', gambaran para pelaku yang menyaksikan kekejaman dengan tenang, tingkat kebengisan yang mengerikan justru terletak pada ketenangan menonton penderitaan orang lain.
Penjelasan pilihan kata
Kata (قُعُودٌ, qu'uud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti duduk. Ia dipakai di 26 ayat, antara lain 3:168, 4:95, 9:46, 10:12, dan 43:37, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai orang yang duduk atau tidak ikut berangkat.
Jadi akar yang di puluhan ayat menamai orang yang tinggal duduk, di sini menamai orang yang duduk mengawasi api. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (قُعُودٌ, qu'uud) di sini berbentuk jamak, bukan bentuk tunggal.
Bentuk (قُعُودٌ, qu'uud) berbentuk jamak, sehingga yang duduk banyak orang, bukan satu orang. Jadi ayat ini menyebut kumpulan, dan kumpulan itu sama dengan golongan yang dikutuk di 85:4.
Kata (إِذْ, idz) menandai waktu yang sudah lewat, sehingga peristiwanya dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi kutukan di 85:4 dijatuhkan atas perbuatan yang sudah selesai, dan perbedaan waktu itu terbawa di dalam satu kata.
Kata (عَلَيْهَا, 'alaihaa) memakai kata ganti perempuan tunggal yang menunjuk api di 85:5. Jadi tiga ayat dari 85:4 sampai ayat ini terikat menjadi satu rangkaian, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang ditunjuk.
Huruf 'ala di depan (عَلَيْهَا, 'alaihaa) menyatakan berada di atas, sehingga yang dinyatakan mereka duduk di atas atau di tepi apinya. Jadi kedudukan mereka dilukiskan sebagai yang mengatasi, bukan yang berjarak.
Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda dan kata ganti, tanpa satu kata kerja pun, sama seperti susunan di 85:5. Jadi dua ayat berturut-turut sama-sama melukiskan keadaan, bukan peristiwa. Kata (عَلَيْهَا, 'alaihaa) mendahuluinya, dan kata gantinya menunjuk api di 85:5.
Ayat ini yang pertama di dalam surah ini yang menyebut pelakunya dengan kata ganti, dan kata ganti itu dipakai lagi di 85:7. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut mereka tanpa nama, sama seperti 85:4 menamai mereka lewat paritnya. Kata (إِذْ, idz) membuka ayatnya, dan ia menandai waktu yang sudah lewat.
Kata (هُمْ, hum) berbentuk jamak laki-laki, sehingga pelakunya kumpulan, bukan satu orang. Jadi ayat ini sejajar dengan bentuk jamak di 85:4, dan dua ayat itu menyebut kumpulan yang sama tanpa satu nama pun. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak mereka maupun siapa mereka.
Kata (إِذْ, idz) menyambungkan ayat ini kepada kutukan di 85:4, sehingga ia menerangkan kapan perbuatan itu terjadi. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan waktu, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa peristiwa yang diterangkannya. Susunan itu membuat pembacanya membaca kedudukan mereka sebelum perbuatannya, dan perbuatan itu baru disebut di ayat sesudahnya. Al-Qur'an tidak menyebut berapa lama mereka duduk maupun apa yang mereka katakan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata yang melukiskan keadaan tanpa satu kata kerja pun.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan para pelaku yang duduk mengawasi api tersebut, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 3:168, 4:95, 9:46, 10:12, dan 43:37.
Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai orang yang duduk atau tidak ikut berangkat. Jadi akar yang di puluhan ayat menamai orang yang tinggal duduk, di sini menamai orang yang duduk mengawasi api.
Bentuk kata terakhirnya berbentuk jamak, sehingga yang duduk banyak orang, bukan satu orang. Jadi ayat ini menyebut kumpulan, dan kumpulan itu sama dengan golongan yang dikutuk di 85:4.
Kata pertamanya menandai waktu yang sudah lewat, sehingga peristiwanya dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi kutukan di 85:4 dijatuhkan atas perbuatan yang sudah selesai.
Kata ketiganya memakai kata ganti perempuan tunggal yang menunjuk api di 85:5, sehingga tiga ayat terikat menjadi satu rangkaian. Kata keduanya berbentuk jamak laki-laki, sehingga pelakunya kumpulan, bukan satu orang. Jadi ayat ini sejajar dengan bentuk jamak di 85:4, dan dua ayat itu menyebut kumpulan yang sama tanpa satu nama pun. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak mereka maupun siapa mereka. Susunan itu menaruh kedudukan mereka sebelum perbuatannya, dan perbuatan itu baru disebut di 85:7 pada ayat sesudahnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 26 ayat, antara lain 3:168, 4:95, 9:46, 10:12, dan 43:37. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai orang yang tinggal duduk, dan di sini ia menamai orang yang duduk mengawasi api. Yang bisa diperiksa cuma di mana akar itu dipakai, dan menyimpulkan tentang sikap batin mereka berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya. Duduk mengawasi menambahkan ketenangan pada kekejaman yang sedang berlangsung.
- Huruf di depan kata ketiganya menyatakan berada di atas, sehingga yang dinyatakan mereka duduk di atas atau di tepi apinya. Jadi Allah melukiskan kedudukan mereka sebagai yang mengatasi, bukan yang berjarak. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah kedudukan mereka terhadap api yang disebut sebelumnya. Kumpulan yang tidak dinamai membuat perbuatannya bisa berulang di setiap masa.
- Kata pertamanya menandai waktu yang sudah lewat, sehingga peristiwanya dinyatakan sebagai yang sudah terjadi. Jadi kutukan Allah di 85:4 dijatuhkan atas perbuatan yang sudah selesai, dan perbedaan waktu itu terbawa di dalam satu kata tanpa keterangan tambahan. Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mengurung peristiwanya kepada satu masa dan satu tempat saja. Kumpulan yang tidak dinamai membuat perbuatannya bisa berulang di setiap masa.
- Bentuk kata terakhirnya berbentuk jamak, sehingga yang duduk banyak orang, bukan satu orang. Jadi ayat ini menyebut kumpulan, dan kumpulan itu sama dengan golongan yang dikutuk Allah di 85:4. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai bentuk tunggal akan kehilangan kumpulan yang dinyatakan susunannya. Kumpulan yang tidak dinamai membuat perbuatannya bisa berulang di setiap masa.
- Kata ketiganya memakai kata ganti perempuan tunggal yang menunjuk api di 85:5. Jadi tiga ayat dari 85:4 sampai ayat ini terikat menjadi satu rangkaian, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang ditunjuk Allah di dalamnya. Yang tersedia bagi pembacanya cuma dua ayat sebelumnya, dan memisahkan ayat ini berarti kehilangan benda yang ditunjuk kata gantinya. Duduk mengawasi menambahkan ketenangan pada kekejaman yang sedang berlangsung.
- Susunan ayat ini seluruhnya berupa kata benda dan kata ganti, tanpa satu kata kerja pun, sama seperti susunan di 85:5. Apa yang berubah pada sebuah kekejaman ketika Allah melukiskannya sebagai keadaan yang tenang, bukan sebagai peristiwa yang bergerak? Susunan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat berturut-turut sama-sama berdiri tanpa satu kata kerja pun. Duduk mengawasi menambahkan ketenangan pada kekejaman yang sedang berlangsung.
Ayat 85:7
وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ
Dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌwa-hum 'alaa maa yaf'aluuna bi-l-mu'miniina syuhuudundan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَهُمْwa-humdan mereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- يَفْعَلُونَyaf'aluunamelakukan
- بِالْمُؤْمِنِينَbi-l-mu'miniinapada orang-orang beriman
- شُهُودٌsyuhuudunyang menyaksikan
Inti bacaan
Partisipasi aktif dalam menyaksikan penderitaan: 'dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman', penegasan bahwa para pelaku tidak hanya bertindak, tetapi juga secara sadar menyaksikan hasil kekejaman mereka sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata (شُهُودٌ, syuhuud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyaksikan. Ia sudah dipakai di 85:3 dan akan dipakai lagi di 85:9, sehingga akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 85:3 akar itu menamai penyaksi yang tidak dinamai, di sini ia menamai para pelaku sebagai penyaksi kekejamannya sendiri, dan di 85:9 ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Kata (شُهُودٌ, syuhuud) di sini berbentuk jamak, sama seperti kata terakhir di 85:6.
Kata kerja (يَفْعَلُونَ, yaf'aluun) berasal dari akar yang berarti berbuat. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 85:16. Jadi satu akar menamai perbuatan para pelaku dan perbuatan Allah.
Kesejajaran dengan 85:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Jadi perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang bebas sepenuhnya dinamai dengan akar yang sama. Kata (يَفْعَلُونَ, yaf'aluun) mendahuluinya, dan bentuknya menyatakan yang berlangsung.
Kata (بِالْمُؤْمِنِينَ, bi-l-mu'miniin) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 85:8, 85:10, dan 85:11. Jadi ia akar yang paling sering muncul di dalam surahnya.
Bentuk (يَفْعَلُونَ, yaf'aluun) berbentuk sekarang, sedangkan ayat sebelumnya melukiskan keadaan. Jadi perbuatannya dinyatakan sebagai yang sedang berlangsung di hadapan mata mereka sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.
Kata (وَهُمْ, wa hum) diulang dari 85:6, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan kata ganti yang menunjuk mereka. Jadi pelakunya disebut tanpa nama dua kali beruntun.
Susunan ayat ini menaruh keterangan tentang yang mereka perbuat di tengah, dan kata yang menyatakan mereka menyaksikan di ujung. Jadi kesaksian mereka atas perbuatannya sendiri terbaca paling akhir, sesudah perbuatannya disebut.
Kata (مَا, maa) di ayat ini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi ia menunjuk perbuatan yang dikerjakan tanpa menamainya, dan perbuatan itu tidak pernah dirinci di dalam surah ini. Al-Qur'an menyebut bahwa ada yang mereka perbuat dan berhenti di situ.
Bentuk (شُهُودٌ, syuhuud) berbentuk jamak, sama seperti bentuk kata terakhir di 85:6. Jadi dua ayat berturut-turut sama-sama ditutup dengan kata benda jamak yang menyatakan keadaan, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu lukisan yang tidak terputus. Susunan itu membuat pembacanya membaca perbuatan mereka sebelum kesaksiannya, dan kesaksian itu ditaruh di ujung sebagai penutup. Al-Qur'an tidak merinci apa yang mereka perbuat maupun berapa banyak korbannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang menyebut perbuatan tanpa menamainya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa para pelaku menyaksikan sendiri kekejaman yang mereka lakukan terhadap orang beriman, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya sudah dipakai di 85:3 dan akan dipakai lagi di 85:9, sehingga akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini. Di 85:3 ia menamai penyaksi yang tidak dinamai, di sini para pelaku, dan di 85:9 Allah sendiri.
Kata kerjanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 85:16. Kesejajaran dengan 85:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki.
Jadi perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang bebas sepenuhnya dinamai dengan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 85:8, 85:10, dan 85:11. Kata ketiganya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi ia menunjuk perbuatan yang dikerjakan tanpa menamainya, dan perbuatan itu tidak pernah dirinci di dalam surah ini. Al-Qur'an menyebut bahwa ada yang mereka perbuat dan berhenti di situ. Susunan itu menaruh perbuatan mereka sebelum kesaksiannya, dan kesaksian itu ditaruh di ujung ayat sebagai penutupnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7 dan 85:16. Di 85:16 akar yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Jadi perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang bebas sepenuhnya dinamai dengan akar yang sama. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar dipakai di dua ayat yang berjauhan letaknya. Satu akar untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah menaruh keduanya di satu timbangan.
- Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, 85:8, 85:10, dan 85:11. Jadi akar untuk iman yang paling sering muncul di dalam surahnya, dan Allah memakainya untuk yang disiksa serta untuk yang dijanjikan surga. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemusatan akar itu di dalam satu surah. Menyaksikan perbuatan sendiri menutup jalan bagi alasan tidak tahu.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:3, 85:7, dan 85:9. Apa yang ditambahkan sebuah kekejaman ketika pelakunya tidak sekadar mengerjakannya melainkan duduk menyaksikannya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan merinci apa yang mereka perbuat berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Menyaksikan perbuatan sendiri menutup jalan bagi alasan tidak tahu.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, sedangkan ayat sebelumnya melukiskan keadaan. Jadi Allah menyatakan perbuatannya sebagai yang sedang berlangsung di hadapan mata mereka sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pertentangan antara keadaan dan perbuatan. Satu akar untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah menaruh keduanya di satu timbangan.
- Kata pertamanya diulang dari 85:6, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan kata ganti yang menunjuk mereka. Jadi Allah menyebut pelakunya tanpa nama dua kali beruntun, sama seperti Dia menamai mereka lewat paritnya di 85:4. Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mengurung peristiwanya kepada satu kumpulan yang sudah ditentukan. Satu akar untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah menaruh keduanya di satu timbangan.
- Susunan ayat ini menaruh keterangan tentang yang mereka perbuat di tengah, dan kata yang menyatakan mereka menyaksikan di ujung. Jadi kesaksian mereka atas perbuatannya sendiri terbaca paling akhir, sesudah perbuatannya disebut Allah lebih dulu. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa kesaksian mereka ditaruh paling akhir di dalam susunan ayatnya. Menyaksikan perbuatan sendiri menutup jalan bagi alasan tidak tahu.