وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ
Dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌwa-hum 'alaa maa yaf'aluuna bi-l-mu'miniina syuhuudundan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman
Terjemahan per kata (6 kata)
- وَهُمْwa-humdan mereka
- عَلَىٰ'alaaatas
- مَاmaaapa yang
- يَفْعَلُونَyaf'aluunamelakukan
- بِالْمُؤْمِنِينَbi-l-mu'miniinapada orang-orang beriman
- شُهُودٌsyuhuudunyang menyaksikan
Inti bacaan
Partisipasi aktif dalam menyaksikan penderitaan: 'dan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang beriman', penegasan bahwa para pelaku tidak hanya bertindak, tetapi juga secara sadar menyaksikan hasil kekejaman mereka sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Kata (شُهُودٌ, syuhuud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyaksikan. Ia sudah dipakai di 85:3 dan akan dipakai lagi di 85:9, sehingga akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 85:3 akar itu menamai penyaksi yang tidak dinamai, di sini ia menamai para pelaku sebagai penyaksi kekejamannya sendiri, dan di 85:9 ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Kata (شُهُودٌ, syuhuud) di sini berbentuk jamak, sama seperti kata terakhir di 85:6.
Kata kerja (يَفْعَلُونَ, yaf'aluun) berasal dari akar yang berarti berbuat. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 85:16. Jadi satu akar menamai perbuatan para pelaku dan perbuatan Allah.
Kesejajaran dengan 85:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Jadi perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang bebas sepenuhnya dinamai dengan akar yang sama. Kata (يَفْعَلُونَ, yaf'aluun) mendahuluinya, dan bentuknya menyatakan yang berlangsung.
Kata (بِالْمُؤْمِنِينَ, bi-l-mu'miniin) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 85:8, 85:10, dan 85:11. Jadi ia akar yang paling sering muncul di dalam surahnya.
Bentuk (يَفْعَلُونَ, yaf'aluun) berbentuk sekarang, sedangkan ayat sebelumnya melukiskan keadaan. Jadi perbuatannya dinyatakan sebagai yang sedang berlangsung di hadapan mata mereka sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.
Kata (وَهُمْ, wa hum) diulang dari 85:6, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan kata ganti yang menunjuk mereka. Jadi pelakunya disebut tanpa nama dua kali beruntun.
Susunan ayat ini menaruh keterangan tentang yang mereka perbuat di tengah, dan kata yang menyatakan mereka menyaksikan di ujung. Jadi kesaksian mereka atas perbuatannya sendiri terbaca paling akhir, sesudah perbuatannya disebut.
Kata (مَا, maa) di ayat ini kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi ia menunjuk perbuatan yang dikerjakan tanpa menamainya, dan perbuatan itu tidak pernah dirinci di dalam surah ini. Al-Qur'an menyebut bahwa ada yang mereka perbuat dan berhenti di situ.
Bentuk (شُهُودٌ, syuhuud) berbentuk jamak, sama seperti bentuk kata terakhir di 85:6. Jadi dua ayat berturut-turut sama-sama ditutup dengan kata benda jamak yang menyatakan keadaan, dan kesejajaran itu mengikat keduanya menjadi satu lukisan yang tidak terputus. Susunan itu membuat pembacanya membaca perbuatan mereka sebelum kesaksiannya, dan kesaksian itu ditaruh di ujung sebagai penutup. Al-Qur'an tidak merinci apa yang mereka perbuat maupun berapa banyak korbannya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma enam kata yang menyebut perbuatan tanpa menamainya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa para pelaku menyaksikan sendiri kekejaman yang mereka lakukan terhadap orang beriman, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya sudah dipakai di 85:3 dan akan dipakai lagi di 85:9, sehingga akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini. Di 85:3 ia menamai penyaksi yang tidak dinamai, di sini para pelaku, dan di 85:9 Allah sendiri.
Kata kerjanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini dan 85:16. Kesejajaran dengan 85:16 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki.
Jadi perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang bebas sepenuhnya dinamai dengan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 85:8, 85:10, dan 85:11. Kata ketiganya kata sambung yang berarti apa yang, bukan huruf pengingkaran. Jadi ia menunjuk perbuatan yang dikerjakan tanpa menamainya, dan perbuatan itu tidak pernah dirinci di dalam surah ini. Al-Qur'an menyebut bahwa ada yang mereka perbuat dan berhenti di situ. Susunan itu menaruh perbuatan mereka sebelum kesaksiannya, dan kesaksian itu ditaruh di ujung ayat sebagai penutupnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7 dan 85:16. Di 85:16 akar yang sama dipakai untuk menyatakan bahwa Allah mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Jadi perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang bebas sepenuhnya dinamai dengan akar yang sama. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar dipakai di dua ayat yang berjauhan letaknya. Satu akar untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah menaruh keduanya di satu timbangan.
- Kata kelimanya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, 85:8, 85:10, dan 85:11. Jadi akar untuk iman yang paling sering muncul di dalam surahnya, dan Allah memakainya untuk yang disiksa serta untuk yang dijanjikan surga. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemusatan akar itu di dalam satu surah. Menyaksikan perbuatan sendiri menutup jalan bagi alasan tidak tahu.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:3, 85:7, dan 85:9. Apa yang ditambahkan sebuah kekejaman ketika pelakunya tidak sekadar mengerjakannya melainkan duduk menyaksikannya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan merinci apa yang mereka perbuat berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis di dalam ayatnya. Menyaksikan perbuatan sendiri menutup jalan bagi alasan tidak tahu.
- Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, sedangkan ayat sebelumnya melukiskan keadaan. Jadi Allah menyatakan perbuatannya sebagai yang sedang berlangsung di hadapan mata mereka sendiri, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya tanpa kata keterangan. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang meratakannya akan kehilangan pertentangan antara keadaan dan perbuatan. Satu akar untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah menaruh keduanya di satu timbangan.
- Kata pertamanya diulang dari 85:6, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan kata ganti yang menunjuk mereka. Jadi Allah menyebut pelakunya tanpa nama dua kali beruntun, sama seperti Dia menamai mereka lewat paritnya di 85:4. Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mengurung peristiwanya kepada satu kumpulan yang sudah ditentukan. Satu akar untuk perbuatan manusia dan perbuatan Allah menaruh keduanya di satu timbangan.
- Susunan ayat ini menaruh keterangan tentang yang mereka perbuat di tengah, dan kata yang menyatakan mereka menyaksikan di ujung. Jadi kesaksian mereka atas perbuatannya sendiri terbaca paling akhir, sesudah perbuatannya disebut Allah lebih dulu. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa kesaksian mereka ditaruh paling akhir di dalam susunan ayatnya. Menyaksikan perbuatan sendiri menutup jalan bagi alasan tidak tahu.