وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Tidaklah mereka menyiksa orang-orang beriman itu, kecuali karena mereka beriman kepada Allah Sang Perkasa lagi Sang Terpuji,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِwa-maa naqamuu minhum illaa an yu'minuu bi-llaahi l-'aziizi l-hamiiditidaklah mereka menyiksa orang-orang beriman itu, kecuali karena mereka beriman kepada Allah Sang Perkasa lagi Sang Terpuji
Terjemahan per kata (9 kata)
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- نَقَمُواnaqamuumereka mencela
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- إِلَّاillaakecuali
- أَنْanbahwa
- يُؤْمِنُواyu'minuumereka beriman
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- الْعَزِيزِl-'aziiziSang Digdaya
- الْحَمِيدِl-hamiidiYang Maha Terpuji
Inti bacaan
Motif persekusi yang diungkap: 'tidaklah mereka menyiksa (membakar) orang-orang mukmin itu, kecuali karena mereka beriman kepada Allah Sang Digdaya lagi Sang Terpuji', pengungkapan bahwa satu-satunya 'kesalahan' korban adalah keimanan mereka, penegasan ketidakadilan mendasar dari persekusi berbasis keyakinan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(membakar)" tidak dipakai. "Al-aziizi l-hamiidi" gelar definit apositif setelah nama diri "Allah" dipertahankan "Sang Perkasa lagi Sang Terpuji", acuan sama dengan "al-azhiimi" menjadi Sang Agung (69:33/69:52).
Kata kerja (نَقَمُوا, naqamuu) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 9:74 dan 85:8. Di 9:74 kata yang sama dipakai untuk orang yang membalas dendam justru karena Allah dan rasul-Nya mencukupkan mereka dari karunia-Nya.
Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk kemarahan yang sasarannya justru kebaikan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk katanya yang sama persis. Kata (نَقَمُوا, naqamuu) di sini berbentuk lampau, bukan bentuk sekarang.
Rangkaian (الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ, al-'aziizi l-hamiid) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 14:1, 34:6, dan 85:8. Di 14:1 dan 34:6 rangkaian itu dipakai untuk menutup penyebutan jalan yang ditunjukkan dan kitab yang diturunkan.
Jadi rangkaian yang di dua tempat lain menutup penyebutan petunjuk, di sini menutup penyebutan iman yang disiksa. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata (إِلَّا, illaa) huruf pengecualian, dan ia datang sesudah pengingkaran di awal ayat. Jadi susunannya membatasi sebab penyiksaan kepada satu perkara saja, dan pembatasan itu terbawa di dalam susunan hurufnya.
Kata kerja (يُؤْمِنُوا, yu'minuu) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, ayat ini, 85:10, dan 85:11. Jadi akar itu yang paling sering muncul di dalam surahnya.
Nama (بِاللَّهِ, bi-llaah) disebut di ayat ini, dan nama-Nya berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 85:9, dan 85:20. Jadi Al-Qur'an menahan penyebutan nama-Nya sampai bagian ini, sesudah empat ayat kisah berlalu.
Kata (مِنْهُمْ, minhum) memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman, bukan para pelakunya. Jadi susunannya menyatakan bahwa kemarahan itu ditujukan kepada mereka, dan arah itu terbawa di dalam kata gantinya sendiri tanpa satu kata keterangan pun.
Bentuk (نَقَمُوا, naqamuu) berbentuk lampau, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang sudah selesai. Jadi ia sejajar dengan bentuk lampau di 85:4, dan dua ayat itu sama-sama menyebut perbuatan yang sudah terjadi, berbeda dari bentuk sekarang yang dipakai di 85:7. Susunan itu membuat pembacanya membaca pengingkaran lebih dulu dan pengecualiannya belakangan, sehingga sebab yang tunggal itu terbaca sesudah semua sebab lain ditutup. Al-Qur'an tidak menyebut apa bentuk kemarahan mereka maupun apa yang mereka tuntut, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma sembilan kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini mengungkap satu-satunya alasan penyiksaan tersebut: iman orang-orang mukmin kepada Allah, dan kata kerja keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 9:74 dan 85:8.
Di 9:74 kata yang sama dipakai untuk orang yang membalas dendam justru karena Allah dan rasul-Nya mencukupkan mereka dari karunia-Nya. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk kemarahan yang sasarannya justru kebaikan.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 14:1, 34:6, dan 85:8. Di 14:1 dan 34:6 rangkaian itu dipakai untuk menutup penyebutan jalan yang ditunjukkan dan kitab yang diturunkan.
Jadi rangkaian yang di dua tempat lain menutup penyebutan petunjuk, di sini menutup penyebutan iman yang disiksa. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Nama Allah disebut di ayat ini, dan nama-Nya berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu ayat ini, 85:9, dan 85:20. Kata ketiganya memakai kata ganti jamak yang menunjuk orang beriman, bukan para pelakunya. Jadi susunannya menyatakan bahwa kemarahan itu ditujukan kepada mereka. Bentuk kata keduanya berbentuk lampau, sehingga perbuatannya dinyatakan sebagai yang sudah selesai, sejajar dengan bentuk lampau di 85:4.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 9:74 dan 85:8. Di 9:74 kata yang sama dipakai untuk orang yang membalas dendam justru karena Allah dan rasul-Nya mencukupkan mereka dari karunia-Nya. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk kemarahan yang sasarannya justru kebaikan. Yang menyambungkan keduanya cuma bentuk katanya yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun di kedua tempatnya.
- Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 14:1, 34:6, dan 85:8. Di 14:1 dan 34:6 rangkaian itu dipakai Allah untuk menutup penyebutan jalan yang ditunjukkan dan kitab yang diturunkan, sedangkan di sini ia menutup penyebutan iman yang disiksa. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan rangkaian itu untuk ayat ini. Dua gelar tentang kuasa dan pujian disebut tepat ketika kuasa terlihat tidak dipakai.
- Kata keempatnya huruf pengecualian, dan ia datang sesudah pengingkaran di awal ayat. Jadi susunannya membatasi sebab penyiksaan kepada satu perkara saja, dan pembatasan itu terbawa di dalam susunan hurufnya. Apa yang dinyatakan sebuah kekejaman yang tidak punya sebab selain iman? Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menambahkan sebab lain berarti membatalkan pembatasan yang dibawa huruf pengecualiannya. Kemarahan yang sasarannya iman tidak punya sebab selain iman itu sendiri.
- Nama Allah disebut di ayat ini, dan nama-Nya berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:8, 85:9, dan 85:20. Jadi Al-Qur'an menahan penyebutan nama-Nya sampai bagian ini, sesudah empat ayat kisah berlalu tanpa satu penyebutan pun. Penahanan nama itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma di ayat mana saja nama-Nya berdiri di sepanjang surah ini. Kemarahan yang sasarannya iman tidak punya sebab selain iman itu sendiri. Dua gelar tentang kuasa dan pujian disebut tepat ketika kuasa terlihat tidak dipakai.
- Kata kerja keenamnya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, 85:8, 85:10, dan 85:11. Jadi akar itu yang paling sering muncul di dalam surahnya, dan Allah memakainya untuk sebab penyiksaan sekaligus untuk sebab pahala. Kesejajaran itu berlaku sampai ke akarnya, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat empat ayat yang berjauhan. Dua gelar tentang kuasa dan pujian disebut tepat ketika kuasa terlihat tidak dipakai.
- Dua kata terakhirnya gelar bertakrif yang berdiri sesudah nama Allah, dan keduanya dipertahankan sebagai Sang Perkasa lagi Sang Terpuji. Jadi kuasa dan pujian disebut berdampingan tepat di ayat yang menyebut orang beriman disiksa karena beriman kepada-Nya. Yang bisa dicatat cuma apa yang tertulis, dan menyimpulkan tentang maksud di balik pemasangan dua gelar itu berarti keluar dari apa yang disediakan ayatnya. Kemarahan yang sasarannya iman tidak punya sebab selain iman itu sendiri.