الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Yang bagi-Nya kerajaan langit dan bumi; dan Allah atas segala sesuatu menyaksikan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِalladzii lahu mulku s-samaawaati wa-l-ardhiyang bagi-Nya kerajaan langit dan bumi
  2. وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌwa-llaahu 'alaa kulli syay'in syahiidundan Allah atas segala sesuatu menyaksikan

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. لَهُlahubaginya
  3. مُلْكُmulkukerajaan
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  6. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  7. عَلَىٰ'alaaatas
  8. كُلِّkullisegala
  9. شَيْءٍsyay'insesuatu
  10. شَهِيدٌsyahiidunmenyaksikan

Inti bacaan

Otoritas tertinggi sebagai saksi utama: 'yang bagi-Nya kerajaan langit dan bumi; dan Allah atas segala sesuatu Maha Menyaksikan', pengingat bahwa meski pelaku kekejaman menyaksikan penderitaan korban, otoritas tertinggi juga menyaksikan seluruh peristiwa dengan pengetahuan yang jauh lebih menyeluruh.

Penjelasan pilihan kata

Kata (شَهِيدٌ, syahiid) berasal dari akar yang berarti menyaksikan. Akar itu berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:3, 85:7, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling menyebar di dalam surahnya sesudah akar untuk iman.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Di 85:7 akar itu menamai para pelaku sebagai penyaksi kekejamannya sendiri, dan di sini ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Jadi satu akar dipakai untuk dua penyaksi yang paling berlawanan. Kata (شَهِيدٌ, syahiid) di sini tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan sifat.

Kata keempat (السَّمَاوَاتِ, as-samaawaat) berasal dari akar yang berarti tinggi menjulang. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:1 dan ayat ini. Jadi langit yang disumpahi di ayat pembuka disebut lagi di sini sebagai yang dimiliki.

Kata (الَّذِي, alladzii) menyambungkan ayat ini kepada nama Allah di 85:8, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkannya.

Rangkaian (كُلِّ شَيْءٍ, kulli syai-in) menyatakan cakupan yang tidak menyisakan apa pun. Jadi kesaksian-Nya tidak dibatasi kepada satu jenis perbuatan, dan mempersempitnya akan mengurangi apa yang dinyatakan susunan katanya.

Kata (شَهِيدٌ, syahiid) tidak bertakrif, sedangkan dua gelar di 85:8 bertakrif. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua cara penakrifan yang berbeda untuk menyebut sifat-Nya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Nama (وَاللَّهُ, wa-llaah) disebut untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 85:8, dan ia disebut sekali lagi di 85:20. Jadi nama-Nya berdiri di tiga ayat, dan dua di antaranya berturut-turut.

Susunan ayat ini menaruh kepemilikan lebih dulu dan kesaksian belakangan. Jadi kuasa disebut sebelum pengetahuan, dan urutan itu diulang dengan arah yang sama di 85:20 pada ujung surahnya. Kata (مُلْكُ, mulku) berasal dari akar yang berarti menguasai. Akar itu dipakai di 206 ayat, antara lain 2:107, 3:26, 5:17, 25:2, dan 67:1. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk menyatakan kepemilikan atas langit dan bumi sekaligus, bukan atas satu di antaranya.

Kata (لَهُ, lahu) didahulukan dari pokok kalimatnya, dan pendahuluan semacam itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar Dia memiliki melainkan cuma Dia yang memiliki, dan pembatasan itu terbawa di dalam urutan katanya tanpa satu kata tambahan. Susunan itu membuat pembacanya membaca kepemilikan-Nya sebelum kesaksian-Nya, dan urutan yang sama dipakai lagi di ayat penutup bagian berikutnya. Al-Qur'an tidak menyebut apa saja yang disaksikan-Nya maupun kapan kesaksian itu dinyatakan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma sepuluh kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kekuasaan mutlak dan pengetahuan Allah atas segala sesuatu, termasuk kekejaman yang terjadi, dan kata terakhirnya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:3, 85:7, dan ayat ini.

Di 85:7 akar itu menamai para pelaku sebagai penyaksi kekejamannya sendiri, dan di sini ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Jadi satu akar dipakai untuk dua penyaksi yang paling berlawanan.

Kata keempatnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:1 dan ayat ini. Jadi langit yang disumpahi di ayat pembuka disebut lagi di sini sebagai yang dimiliki.

Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada nama Allah di 85:8, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah.

Susunan ayat ini menaruh kepemilikan lebih dulu dan kesaksian belakangan, dan urutan itu diulang dengan arah yang sama di 85:20. Akar kata ketiganya dipakai di 206 ayat, antara lain 2:107, 3:26, 5:17, 25:2, dan 67:1. Kata keduanya didahulukan dari pokok kalimatnya, dan pendahuluan semacam itu menyatakan pembatasan. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar Dia memiliki melainkan cuma Dia yang memiliki. Susunan itu menaruh kepemilikan-Nya sebelum kesaksian-Nya, dan urutan yang sama dipakai lagi di 85:20 pada ujung bagian berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya berasal dari akar yang berdiri di tiga ayat di dalam surah ini, yaitu 85:3, 85:7, dan 85:9. Di 85:7 akar itu menamai para pelaku sebagai penyaksi kekejamannya sendiri, dan di sini ia menamai Allah sebagai yang menyaksikan segala sesuatu. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua pihak berlawanan. Kesaksian atas segala sesuatu tidak menyisakan satu perbuatan pun di luar jangkauannya.
  • Kata keempatnya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:1 dan 85:9. Jadi langit yang disumpahi di ayat pembuka disebut lagi di sini sebagai yang dimiliki Allah, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa benda yang disumpahi disebut lagi sebagai yang dimiliki. Kepemilikan atas langit dan bumi disebut tepat sesudah kekejaman yang terjadi di bumi.
  • Rangkaian dua kata menjelang ujungnya menyatakan cakupan yang tidak menyisakan apa pun. Jadi kesaksian Allah tidak dibatasi kepada satu jenis perbuatan, dan mempersempitnya akan mengurangi apa yang dinyatakan susunan katanya. Yang disaksikan-Nya karena itu termasuk apa yang dikerjakan di parit itu. Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan mempersempit cakupannya berarti mengurangi apa yang dinyatakan rangkaian dua katanya.
  • Kata terakhirnya tidak bertakrif, sedangkan dua gelar di 85:8 bertakrif. Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua cara penakrifan yang berbeda untuk menyebut sifat Allah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat berturut-turut memakai dua cara penakrifan yang berlainan. Kepemilikan atas langit dan bumi disebut tepat sesudah kekejaman yang terjadi di bumi.
  • Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada nama Allah di 85:8, sehingga dua ayat itu satu kalimat yang dipisah. Jadi membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang diterangkannya, dan pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa pihak yang sedang diterangkan susunannya. Kesaksian atas segala sesuatu tidak menyisakan satu perbuatan pun di luar jangkauannya.
  • Susunan ayat ini menaruh kepemilikan lebih dulu dan kesaksian belakangan. Jadi Allah menyebut kuasa sebelum pengetahuan, dan urutan itu diulang dengan arah yang sama di 85:20 pada ujung surahnya. Apa yang ditambahkan pengetahuan-Nya pada kuasa-Nya bagi orang yang sedang disiksa? Urutan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan urutan itu di kedua tempat. Kepemilikan atas langit dan bumi disebut tepat sesudah kekejaman yang terjadi di bumi.