إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan cobaan terhadap mukmin laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertobat, mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab yang membakar.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُواinna lladziina fatanuu l-mu'miniina wa-l-mu'minaati tsumma lam yatuubuusesungguhnya orang-orang yang menimpakan cobaan terhadap mukmin laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertobat
  2. فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِfa-lahum 'adzaabu jahannama wa-lahum 'adzaabu l-hariiqimereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab yang membakar

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. فَتَنُواfatanuumereka menyiksa
  4. الْمُؤْمِنِينَl-mu'miniinaorang-orang beriman
  5. وَالْمُؤْمِنَاتِwa-l-mu'minaatidan perempuan-perempuan beriman
  6. ثُمَّtsummakemudian
  7. لَمْlamtidak
  8. يَتُوبُواyatuubuumereka bertobat
  9. فَلَهُمْfa-lahummaka bagi mereka
  10. عَذَابُ'adzaabuazab
  11. جَهَنَّمَjahannamaJahanam
  12. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  13. عَذَابُ'adzaabuazab
  14. الْحَرِيقِl-hariiqiapi yang membakar

Inti bacaan

Konsekuensi bagi pelaku persekusi yang tidak bertobat: 'orang-orang yang menimpakan cobaan (siksa) terhadap mukmin laki-laki dan perempuan, lalu mereka tidak bertobat, mereka akan mendapat azab Jahanam', penegasan bahwa keadilan akan ditegakkan bagi korban persekusi agama, dengan pintu tobat yang tetap terbuka bagi pelaku sebelum terlambat.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَتَنُوا, fatanuu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menguji dengan api. Ia dipakai di 58 ayat, antara lain 2:191, 8:25, 21:35, 29:2, dan 74:31, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai ujian atau cobaan.

Jadi akar yang di puluhan ayat menamai ujian yang datang dari Allah, di sini menamai penyiksaan yang dikerjakan manusia atas manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata (فَتَنُوا, fatanuu) di sini berbentuk lampau, bukan bentuk sekarang.

Rangkaian (الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ, al-mu'miniina wa-l-mu'minaat) muncul 7 kali di 5 surah, yaitu di 9:72, 33:35, 33:58, 33:73, 48:5, 57:12, dan 85:10. Di sebagian besar tempat itu rangkaian ini dipakai untuk menyebut penerima janji dan ampunan.

Jadi rangkaian yang di tempat lain menamai penerima janji, di sini menamai korban penyiksaan. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu, dan yang bisa dicatat cuma bahwa rangkaian yang sama dipakai untuk dua keadaan yang berjauhan.

Kata (الْحَرِيقِ, al-hariiq) muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:181, 8:50, 22:9, 22:22, dan 85:10. Jadi kata itu selalu dipakai untuk azab, dan di sini ia dipakai untuk orang yang membakar orang lain.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Mereka membakar di dunia dan disebut menerima azab yang membakar. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung pun, dan yang menyambungkannya cuma kata yang sama.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menyatakan urutan yang berjarak, sehingga kesempatan bertobat dinyatakan datang sesudah perbuatannya. Jadi ayat ini menyebut pintu yang masih terbuka di tengah ancamannya sendiri.

Kata (عَذَابُ, 'adzaab) disebut dua kali di dalam ayat ini, dan pengulangan sepadat itu tidak ada di ayat lain mana pun di dalam surah ini. Jadi azabnya disebut berlapis, dan lapisannya dinyatakan lewat pengulangan katanya.

Bentuk (فَتَنُوا, fatanuu) berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang yang diingkari. Jadi perbuatannya disebut sudah selesai dan tobatnya disebut belum terjadi, dan perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk kedua katanya sendiri.

Kata (عَذَابُ, 'adzaab) berasal dari akar yang berarti menyiksa. Akar itu dipakai di 322 ayat, antara lain 2:7, 4:56, 22:22, 44:11, dan 88:24. Kesejajaran dengan 88:24 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dan memakai akar itu untuk menutup surahnya. Susunan itu membuat pembacanya membaca perbuatan, lalu syarat tobatnya, lalu dua azabnya, dan ketiganya dirangkai tanpa satu kata penjelas pun. Al-Qur'an tidak menyebut berapa lama kesempatan tobat itu terbuka maupun apa bedanya dua azab yang disebut, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat belas kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini mengancam para pelaku penganiayaan dengan azab berganda jika tidak bertobat, dan kata kerja ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 58 ayat, antara lain 2:191, 8:25, 21:35, 29:2, dan 74:31.

Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ujian atau cobaan. Jadi akar yang di puluhan ayat menamai ujian yang datang dari Allah, di sini menamai penyiksaan yang dikerjakan manusia atas manusia.

Rangkaian dua kata sesudahnya muncul 7 kali di 5 surah, yaitu di 9:72, 33:35, 33:58, 33:73, 48:5, 57:12, dan 85:10. Di sebagian besar tempat itu rangkaian ini dipakai untuk menyebut penerima janji dan ampunan, sedangkan di sini ia menamai korban penyiksaan.

Kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:181, 8:50, 22:9, 22:22, dan 85:10. Jadi kata itu selalu dipakai untuk azab, dan di sini ia dipakai untuk orang yang membakar orang lain.

Kata keenamnya menyatakan urutan yang berjarak, sehingga kesempatan bertobat dinyatakan datang sesudah perbuatannya. Bentuk kata kerja ketiganya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja sesudahnya berbentuk sekarang yang diingkari. Jadi perbuatannya disebut sudah selesai dan tobatnya disebut belum terjadi. Akar kata untuk azab dipakai di 322 ayat, antara lain 2:7, 4:56, 22:22, 44:11, dan 88:24.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:181, 8:50, 22:9, 22:22, dan 85:10. Jadi kata itu selalu dipakai Allah untuk azab, dan di sini ia dipakai untuk orang yang membakar orang lain. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung pun. Yang menyambungkan keduanya cuma kata yang sama, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata penghubung pun di dalam ayatnya. Ancaman yang menyisipkan syarat tobat masih membuka pintu di tengah kalimatnya.
  • Kata kerja ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 58 ayat, antara lain 2:191, 8:25, 21:35, 29:2, dan 74:31. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menamai ujian yang datang dari Allah, dan di sini ia menamai penyiksaan yang dikerjakan manusia. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang biasanya menamai ujian. Ancaman yang menyisipkan syarat tobat masih membuka pintu di tengah kalimatnya.
  • Rangkaian dua kata sesudahnya muncul 7 kali di 5 surah, yaitu di 9:72, 33:35, 33:58, 33:73, 48:5, 57:12, dan 85:10. Di sebagian besar tempat itu rangkaian ini dipakai Allah untuk menyebut penerima janji dan ampunan, sedangkan di sini ia menamai korban penyiksaan. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa rangkaian yang sama dipakai untuk dua keadaan berjauhan. Azab yang disebut dua kali menaruh lapisan tanpa satu kata penambah pun.
  • Kata keenamnya menyatakan urutan yang berjarak, sehingga kesempatan bertobat dinyatakan datang sesudah perbuatannya. Jadi Allah menyebut pintu yang masih terbuka di tengah ancaman-Nya sendiri. Apa yang dinyatakan sebuah ancaman yang menyisipkan syarat tobat di dalam kalimatnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma susunan katanya, dan menghapus syarat tobatnya berarti mengubah ancaman bersyarat menjadi keputusan yang sudah tetap. Azab yang disebut dua kali menaruh lapisan tanpa satu kata penambah pun.
  • Kata untuk azab disebut dua kali di dalam ayat ini, dan pengulangan sepadat itu tidak ada di ayat lain mana pun di dalam surah ini. Jadi Allah menyebut azabnya berlapis, dan lapisannya dinyatakan lewat pengulangan katanya sendiri tanpa kata penambah. Perbedaan itu terbawa di dalam pengulangan katanya sendiri, dan terjemahan yang menyatukan keduanya akan kehilangan lapisan yang dinyatakan susunannya. Azab yang disebut dua kali menaruh lapisan tanpa satu kata penambah pun.
  • Ayat ini dan 85:11 dua ayat yang paling panjang di dalam surah ini, dan 85:11 lebih panjang satu kata. Jadi dua ayat terpanjang di surah ini berturut-turut, dan Allah memakai keduanya untuk dua balasan yang berlawanan arah. Panjangnya bisa dihitung ulang siapa pun, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan mengapa dua balasan yang berlawanan diberi ruang yang hampir sama. Ancaman yang menyisipkan syarat tobat masih membuka pintu di tengah kalimatnya.