إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُinna lladziina aamanuu wa-'amiluu sh-shaalihaati lahum jannaatun tajrii min tahtihaa l-anhaarusesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai
  2. ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُdzaalika l-fawzu l-kabiiruitulah kemenangan yang besar

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  3. آمَنُواaamanuuberiman
  4. وَعَمِلُواwa-'amiluudan beramal
  5. الصَّالِحَاتِsh-shaalihaatikebajikan
  6. لَهُمْlahumbagi mereka
  7. جَنَّاتٌjannaatuntaman-taman
  8. تَجْرِيtajriimengalir
  9. مِنْmindari
  10. تَحْتِهَاtahtihaabawahnya
  11. الْأَنْهَارُl-anhaarusungai-sungai
  12. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  13. الْفَوْزُl-fawzukemenangan
  14. الْكَبِيرُl-kabiiruMahabesar

Inti bacaan

Ganjaran bagi korban yang teguh: 'orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang besar', jaminan bahwa penderitaan yang dialami karena mempertahankan keyakinan tidak sia-sia, hasil akhir yang jauh melampaui kesulitan sementara.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (الْفَوْزُ الْكَبِيرُ, al-fauzu l-kabiir) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar yang berarti menang dan selamat itu dipakai di 27 ayat, antara lain 4:13, 9:72, 44:57, 57:12, dan 61:12, dan di sebagian besar tempat itu ia disifati dengan kata yang lain.

Jadi kemenangan disifati besar cuma di ayat ini, sedangkan di tempat lain ia disifati dengan sifat yang berbeda. Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan sifat itu dengan satu kalimat pun.

Kata kerja (آمَنُوا, aamanuu) berasal dari akar yang berarti aman dan percaya. Akar itu berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, 85:8, 85:10, dan ayat ini. Jadi akar itu yang paling sering muncul di dalam surahnya.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Akar yang sama menamai orang yang disiksa di 85:7, sebab penyiksaan di 85:8, korban di 85:10, dan penerima surga di ayat ini. Jadi satu akar mengikat seluruh kisah dari kekejaman sampai balasannya. Kata (الْفَوْزُ الْكَبِيرُ, al-fauzu l-kabiir) di sini bertakrif, sehingga yang disebut sudah tertentu.

Kata (إِنَّ, inna) diulang persis dari 85:10, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan huruf penegas yang sama. Jadi dua balasan yang berlawanan dinyatakan dengan penegasan yang setara.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 85:10: huruf penegas, lalu golongan yang disebut, lalu balasannya. Jadi dua ayat berturut-turut dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma isi golongan serta balasannya.

Kata ketiga dari belakang (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk kepada apa yang baru disebut, sehingga penilaian datang sesudah balasannya dilukiskan. Jadi Al-Qur'an melukiskan lebih dulu dan menamai kemudian, dan urutan itu tidak dipakai di 85:10.

Ayat ini menutup bagian tentang dua balasan, dan sesudahnya 85:12 berpindah kepada penyebutan sifat Allah. Jadi kisah paritnya berhenti di sini, dan sebelas ayat berikutnya tidak menyebutnya lagi sama sekali.

Kata (جَنَّاتٌ, jannaat) berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang dijanjikan taman-taman sebagai jenis, bukan satu taman tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa satu angka pun disebutkan.

Bentuk (تَجْرِي, tajrii) berbentuk sekarang, sehingga aliran sungainya dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi ia tidak disebut sebagai satu peristiwa melainkan sebagai keadaan yang tidak berhenti, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya tanpa kata keterangan. Susunan itu membuat pembacanya membaca golongan, lalu balasannya, lalu penilaian atas balasan itu, dan ketiganya dirangkai tanpa satu kata penjelas pun. Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak tamannya maupun siapa saja yang termasuk di dalamnya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma lima belas kata di dalam ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini menutup kontras balasan dengan kabar gembira bagi orang-orang beriman, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.

Akar kata kedua dari belakang dipakai di 27 ayat, antara lain 4:13, 9:72, 44:57, 57:12, dan 61:12, dan di sebagian besar tempat itu ia disifati dengan kata yang lain. Jadi kemenangan disifati besar cuma di ayat ini.

Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, 85:8, 85:10, dan ayat ini. Akar yang sama menamai orang yang disiksa di 85:7, sebab penyiksaan di 85:8, korban di 85:10, dan penerima surga di sini.

Jadi satu akar mengikat seluruh kisah dari kekejaman sampai balasannya, dan Al-Qur'an tidak menandai ikatan itu dengan satu kalimat pun.

Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 85:10: huruf penegas, lalu golongan yang disebut, lalu balasannya. Kata ketujuhnya berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang dijanjikan taman-taman sebagai jenis, bukan satu taman tertentu. Bentuk kata sesudahnya berbentuk sekarang, sehingga aliran sungainya dinyatakan sebagai yang berlangsung terus, bukan sebagai satu peristiwa yang selesai. Susunan itu menaruh golongan, lalu balasannya, lalu penilaian atas balasan itu, dan ketiganya dirangkai tanpa satu kata penjelas pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja ketiganya berasal dari akar yang berdiri di empat ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7, 85:8, 85:10, dan 85:11. Akar yang sama menamai orang yang disiksa, sebab penyiksaannya, korbannya, dan penerima surga. Jadi satu akar mengikat seluruh kisah dari kekejaman sampai balasan Allah. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat empat ayat dari kekejaman sampai balasannya.
  • Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akar kata kedua dari belakang dipakai Allah di 27 ayat, antara lain 4:13, 9:72, 44:57, 57:12, dan 61:12. Jadi kemenangan disifati besar cuma di ayat ini, sedangkan di tempat lain ia disifati dengan sifat yang berbeda. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan sifat itu untuk kemenangan di ayat ini. Kabar gembira yang ditaruh sesudah ancaman menutup bagiannya dengan arah yang berlawanan.
  • Susunan ayat ini sejajar dengan susunan 85:10: huruf penegas, lalu golongan yang disebut, lalu balasannya. Jadi dua ayat berturut-turut dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma isi golongan serta balasannya. Kesejajaran itu membuat perbandingannya terbaca tanpa kata pembanding. Kesejajaran rangka itu berlaku sampai ke huruf pembukanya, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat dibangun dengan urutan yang sama persis. Kemenangan yang disifati besar disebut cuma sekali di seluruh Al-Qur'an.
  • Kata pertamanya diulang persis dari 85:10, sehingga dua ayat berturut-turut sama-sama dibuka dengan huruf penegas yang sama. Jadi Allah menyatakan dua balasan yang berlawanan dengan penegasan yang setara, dan tidak satu pun disebut lebih pasti dari yang lain. Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua balasan yang berlawanan dibuka dengan huruf penegas yang sama. Kemenangan yang disifati besar disebut cuma sekali di seluruh Al-Qur'an.
  • Kata ketiga dari belakang menunjuk kepada apa yang baru disebut, sehingga penilaian datang sesudah balasannya dilukiskan. Jadi Allah melukiskan lebih dulu dan menamai kemudian, dan urutan itu tidak dipakai di 85:10 pada ayat sebelumnya. Urutan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan urutan yang berbeda di keduanya. Kabar gembira yang ditaruh sesudah ancaman menutup bagiannya dengan arah yang berlawanan.
  • Ayat ini menutup bagian tentang dua balasan, dan sesudahnya 85:12 berpindah kepada penyebutan sifat Allah. Jadi kisah paritnya berhenti di sini, dan sebelas ayat berikutnya tidak menyebutnya lagi sama sekali. Apa yang tersisa dari sebuah kisah ketika ia ditinggalkan tanpa penutup? Yang tersedia bagi pembacanya cuma sebelas ayat sesudahnya, dan tidak satu pun di antaranya menyebut parit itu lagi walau sekali. Kabar gembira yang ditaruh sesudah ancaman menutup bagiannya dengan arah yang berlawanan.