إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya hantaman Tuhanmu benar-benar keras.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌinna bathsya rabbika la-syadiidunsesungguhnya hantaman Tuhanmu benar-benar keras

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. بَطْشَbathsyasiksaan
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. لَشَدِيدٌla-syadiidunbenar-benar keras

Inti bacaan

Peringatan tentang kekuatan pembalasan: 'sesungguhnya hantaman Tuhanmu benar-benar keras', penegasan bahwa konsekuensi bagi pelaku ketidakadilan bukan ancaman kosong, melainkan kekuatan yang nyata dan tidak main-main.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بَطْشَ, bathsya) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 44:16, 54:36, dan 85:12. Akarnya berarti menyergap dengan keras. Ia cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 7:195, 26:130, 28:19, 43:8, 44:16, 50:36, 54:36, dan 85:12.

Di 26:130 dan 28:19 akar itu dipakai untuk perbuatan manusia yang menghantam orang lain dengan bengis. Jadi akar yang menamai kebengisan manusia dipakai juga untuk hukuman Allah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pemakaian ganda itu. Kata (بَطْشَ, bathsya) di sini berbaris fathah karena dikenai huruf penegas.

Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Ayat ini datang sesudah kisah orang yang membakar orang beriman, dan kata yang dipilih untuk hukuman-Nya justru kata yang di tempat lain menamai kebengisan manusia. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kata pun.

Kata (لَشَدِيدٌ, la-syadiid) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 14:7, 85:12, dan 100:8. Di 14:7 kata yang sama dipakai untuk azab-Nya bagi orang yang mengingkari nikmat, dan di 100:8 ia dipakai untuk cinta manusia kepada harta.

Jadi satu kata dipakai untuk keras hukuman dan untuk kuat kecintaan. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiga tempat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk katanya yang sama persis. Kata (لَشَدِيدٌ, la-syadiid) menutup ayatnya, dan hurufnya huruf penegas yang kedua.

Huruf lam di dalam (لَشَدِيدٌ, la-syadiid) huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu dipakai lagi di 85:13.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) memakai kata ganti kepemilikan orang kedua tunggal, sehingga ayat ini menyapa satu orang. Jadi pembicaraan berpindah dari kisah kepada sapaan, dan Al-Qur'an tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun.

Ayat ini membuka bagian ketiga surah ini, sesudah tiga ayat sumpah dan delapan ayat kisah. Jadi lima ayat berikutnya seluruhnya tentang sifat Allah, dan kisah paritnya tidak disebut lagi sama sekali.

Kata (بَطْشَ, bathsya) berbaris fathah karena menjadi pokok kalimat yang dikenai huruf penegas di depannya. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan huruf itu, dan susunan yang sama dipakai di 85:10 dan 85:11 pada kata yang berbeda. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kalimat pun.

Kata (رَبِّكَ, rabbika) dipakai untuk menyebut Allah tanpa nama-Nya, sedangkan nama-Nya sendiri disebut di 85:8, 85:9, dan 85:20. Jadi surah ini memakai dua cara menyebut Dia, dan yang dipakai di ayat ini justru yang mengikat-Nya kepada orang yang disapa. Susunan itu membuat pembacanya membaca penegasan lebih dulu dan sifatnya belakangan, sehingga beratnya jatuh pada kata terakhir. Al-Qur'an tidak menyebut kepada siapa hukuman itu dijatuhkan di dalam ayat ini, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma empat kata beserta kisah yang mendahuluinya di sebelas ayat sebelumnya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kekerasan hukuman Allah bagi para pelaku kezaliman, dan kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 44:16, 54:36, dan 85:12.

Akarnya cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 7:195, 26:130, 28:19, 43:8, 44:16, 50:36, 54:36, dan 85:12. Di 26:130 dan 28:19 akar itu dipakai untuk perbuatan manusia yang menghantam orang lain dengan bengis.

Jadi akar yang menamai kebengisan manusia dipakai juga untuk hukuman Allah. Ayat ini datang sesudah kisah orang yang membakar orang beriman, dan kata yang dipilih untuk hukuman-Nya justru kata yang di tempat lain menamai kebengisan manusia.

Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 14:7, 85:12, dan 100:8. Di 14:7 kata yang sama dipakai untuk azab-Nya bagi orang yang mengingkari nikmat, dan di 100:8 ia dipakai untuk cinta manusia kepada harta.

Ayat ini membuka bagian ketiga surah ini, sesudah tiga ayat sumpah dan delapan ayat kisah. Kata keduanya berbaris fathah karena menjadi pokok kalimat yang dikenai huruf penegas di depannya. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan huruf itu. Kata ketiganya dipakai untuk menyebut Allah tanpa nama-Nya, sedangkan nama-Nya sendiri disebut di 85:8, 85:9, dan 85:20. Susunan itu menaruh penegasan lebih dulu dan sifatnya belakangan, sehingga berat kalimatnya jatuh pada kata yang terakhir.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata keduanya cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 7:195, 26:130, 28:19, 43:8, 44:16, 50:36, 54:36, dan 85:12. Di 26:130 dan 28:19 akar itu dipakai untuk perbuatan manusia yang menghantam orang lain dengan bengis. Jadi Allah memakai kata yang menamai kebengisan manusia untuk hukuman-Nya sendiri. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan kata yang menamai kebengisan manusia.
  • Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 14:7, 85:12, dan 100:8. Di 14:7 kata itu dipakai untuk azab Allah bagi orang yang mengingkari nikmat, dan di 100:8 ia dipakai untuk cinta manusia kepada harta. Jadi satu kata dipakai untuk keras hukuman dan untuk kuat kecintaan. Yang menyambungkan ketiganya cuma bentuk katanya yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan tempat-tempat itu dengan satu kalimat pun. Kata yang menamai kebengisan manusia dipakai untuk hukuman yang membalasnya.
  • Huruf di dalam kata terakhirnya huruf penegas, dan ia bekerja bersama huruf penegas di awal kalimatnya. Jadi satu ayat pendek memuat dua penegas sekaligus, dan susunan sepadat itu dipakai Allah lagi di 85:13 pada ayat sesudahnya. Susunan sepadat itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua ayat berturut-turut sama-sama memuat dua penegas sekaligus. Dua penegas di dalam satu ayat pendek menaruh seluruh beratnya pada satu pernyataan.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti kepemilikan orang kedua tunggal, sehingga ayat ini menyapa satu orang. Jadi pembicaraan berpindah dari kisah kepada sapaan, dan Allah tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun di antara dua ayatnya. Peralihan itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus menyadari bahwa yang disapa sekarang satu orang, bukan kumpulan. Kata yang menamai kebengisan manusia dipakai untuk hukuman yang membalasnya.
  • Ayat ini membuka bagian ketiga surah ini, sesudah tiga ayat sumpah dan delapan ayat kisah. Jadi lima ayat berikutnya seluruhnya tentang sifat Allah, dan kisah paritnya tidak disebut lagi sama sekali sampai ujung surahnya. Pembagian bagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan tempat peralihannya. Kata yang menamai kebengisan manusia dipakai untuk hukuman yang membalasnya. Dua penegas di dalam satu ayat pendek menaruh seluruh beratnya pada satu pernyataan.
  • Kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 44:16, 54:36, dan 85:12, dan ayat ini datang tepat sesudah kisah orang yang membakar orang beriman. Apa yang dinyatakan sebuah hukuman ketika Allah menamainya dengan kata yang sama seperti kebengisan yang dihukumnya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma kata yang dipilih, dan menggantinya dengan kata yang lebih halus akan menghapus kesejajaran yang dibawa pilihan itu. Dua penegas di dalam satu ayat pendek menaruh seluruh beratnya pada satu pernyataan.