وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ
Dan Dialah Sang Pengampun lagi Sang Penyayang,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُwa-huwa l-ghafuuru l-waduududan Dialah Sang Pengampun lagi Sang Penyayang
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَهُوَwa-huwadan Dia
- الْغَفُورُl-ghafuuruMaha Pengampun
- الْوَدُودُl-waduuduMaha Pengasih
Inti bacaan
Dua sifat yang menyeimbangkan keadilan: 'Dialah Sang Pengampun lagi Sang Penyayang', pengingat bahwa di balik ketegasan konsekuensi, tetap ada dimensi kasih sayang dan kesediaan mengampuni bagi yang bertobat.
Penjelasan pilihan kata
"Huwa + definite adjective epitset" dipertahankan "Sang X", konsisten pola baku proyek.
Kata (الْوَدُودُ, al-waduud) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mencintai. Ia dipakai di 28 ayat, antara lain 2:105, 4:89, 11:90, 19:96, dan 60:7, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai keinginan atau kesukaan, bukan gelar.
Di 11:90 akar itu memberi bentuk lain yang juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di sana ia berdiri sebagai gelar tanpa takrif. Jadi akar ini memberi dua bentuk gelar yang masing-masing cuma dipakai sekali, dan keduanya berjauhan tempatnya. Kata (الْوَدُودُ, al-waduud) di sini bertakrif, sama seperti gelar yang mendahuluinya.
Kata (الْغَفُورُ, al-ghafuur) muncul 11 kali di 11 surah, antara lain di 10:107, 15:49, 39:53, 67:2, dan 85:14. Jadi gelar yang sering dipakai berdampingan dengan gelar yang tidak berulang, dan pasangan itu tidak muncul di tempat lain mana pun.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Ayat ini datang tepat sesudah 85:12 yang menyebut hukuman-Nya keras. Jadi dua sifat yang berlawanan arah ditaruh berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya dengan satu kata penghubung pun.
Kata (وَهُوَ, wa huwa) di awal ayat menyambungkannya kepada 85:13, sehingga dua ayat itu satu rangkaian. Jadi penyebutan sifat-Nya berjalan tanpa putus dari 85:12 sampai 85:16, dan lima ayat itu satu bagian.
Kedua gelar di ayat ini bertakrif, sedangkan gelar di 85:9 tidak bertakrif. Jadi surah ini memakai dua cara penakrifan untuk menyebut sifat-Nya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Susunan ayat ini menaruh pengampunan lebih dulu dan kasih belakangan. Jadi yang disebut pertama sikap terhadap kesalahan, dan yang menyusul sikap yang tidak bergantung pada kesalahan, dan urutan itu tidak diterangkan.
Bentuk (الْوَدُودُ, al-waduud) berpola yang menyatakan kesungguhan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengasihi melainkan mengasihi dengan penuh. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya di dalam ayatnya.
Kata (وَهُوَ, wa huwa) di awal ayat pokok kalimat, dan dua gelar sesudahnya keterangannya. Jadi susunannya menyatakan bahwa Dia sendiri yang menyandang keduanya, dan pembatasan itu terbawa di dalam susunan katanya tanpa satu kata pembatas pun. Susunan itu membuat pembacanya membaca pokok kalimatnya lebih dulu dan dua gelar belakangan, sehingga keduanya terbaca sebagai satu pasangan. Al-Qur'an tidak menyebut kepada siapa pengampunan itu diberikan maupun kepada siapa kasih itu ditujukan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menyeimbangkan penegasan kekerasan hukuman dengan sifat pengampun dan penyayang Allah, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:105, 4:89, 11:90, 19:96, dan 60:7, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai keinginan atau kesukaan, bukan gelar. Di 11:90 akar itu memberi bentuk lain yang juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Jadi akar ini memberi dua bentuk gelar yang masing-masing cuma dipakai sekali, dan keduanya berjauhan tempatnya. Kata kedua dari belakang muncul 11 kali di 11 surah, antara lain di 10:107, 15:49, 39:53, 67:2, dan 85:14.
Jadi gelar yang sering dipakai berdampingan dengan gelar yang tidak berulang, dan pasangan itu tidak muncul di tempat lain mana pun.
Ayat ini datang tepat sesudah 85:12 yang menyebut hukuman-Nya keras, sehingga dua sifat yang berlawanan arah ditaruh berdekatan. Bentuk kata terakhirnya berpola yang menyatakan kesungguhan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengasihi melainkan mengasihi dengan penuh. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya di dalam ayatnya sendiri. Susunan itu menaruh pokok kalimatnya lebih dulu dan dua gelar belakangan, sehingga keduanya terbaca sebagai satu pasangan yang utuh.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan di 11:90 akarnya memberi bentuk lain yang juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi akar ini memberi dua bentuk gelar Allah yang masing-masing cuma dipakai sekali, dan keduanya berjauhan tempatnya. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan dua bentuk yang masing-masing sekali. Gelar yang cuma sekali diucapkan tidak punya ayat lain yang bisa menerangkannya.
- Kata kedua dari belakang muncul 11 kali di 11 surah, antara lain di 10:107, 15:49, 39:53, 67:2, dan 85:14, sedangkan kata terakhirnya cuma sekali. Jadi gelar Allah yang sering dipakai berdampingan dengan gelar yang tidak berulang, dan pasangan itu tidak muncul di tempat lain mana pun. Yang menyambungkan keduanya cuma akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua gelar itu dengan satu kalimat pun di kedua tempatnya. Kasih yang disebut dua ayat sesudah ancaman mengubah bunyi seluruh bagiannya.
- Ayat ini datang tepat sesudah 85:12 yang menyebut hukuman Allah keras. Jadi dua sifat yang berlawanan arah ditaruh berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan keduanya dengan satu kata penghubung pun. Apa yang berubah pada sebuah ancaman ketika kasih disebut dua ayat sesudahnya? Jarak dua ayat itu bisa dihitung siapa pun, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik penempatan dua sifat berlawanan yang berdekatan. Gelar yang cuma sekali diucapkan tidak punya ayat lain yang bisa menerangkannya.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 28 ayat, antara lain 2:105, 4:89, 11:90, 19:96, dan 60:7, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menamai keinginan atau kesukaan, bukan gelar. Jadi akar yang biasanya menamai kemauan manusia di sini menamai sifat-Nya sendiri. Yang bisa diperiksa cuma di mana akar itu dipakai, dan menyimpulkan tentang kadar kasih-Nya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya. Kasih yang disebut dua ayat sesudah ancaman mengubah bunyi seluruh bagiannya.
- Kata pertamanya menyambungkan ayat ini kepada 85:13, sehingga dua ayat itu satu rangkaian. Jadi penyebutan sifat Allah berjalan tanpa putus dari 85:12 sampai 85:16, dan lima ayat itu satu bagian yang tidak dipotong satu kata penghubung pun. Pembagian bagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan batas-batasnya. Kasih yang disebut dua ayat sesudah ancaman mengubah bunyi seluruh bagiannya.
- Susunan ayat ini menaruh pengampunan lebih dulu dan kasih belakangan. Jadi yang disebut Allah pertama sikap terhadap kesalahan, dan yang menyusul sikap yang tidak bergantung pada kesalahan, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa pengampunan disebut lebih dulu daripada kasih di dalam susunan ayatnya. Gelar yang cuma sekali diucapkan tidak punya ayat lain yang bisa menerangkannya.