ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُ
Pemilik Arasy, Sang Mulia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيدُdzuu l-'arsyi l-majiiduPemilik Arasy, Sang Mulia
Terjemahan per kata (3 kata)
- ذُوdzuupemilik
- الْعَرْشِl-'arsyiArasy
- الْمَجِيدُl-majiiduSang Mulia
Inti bacaan
Penegasan otoritas dan keagungan tertinggi: 'Pemilik Arasy, Yang Luhur', penutup rangkaian sifat yang menegaskan kedudukan tertinggi yang menjadi sumber keadilan dan kasih sayang sekaligus.
Penjelasan pilihan kata
"Al-majiidu" gelar definit apositif diterjemahkan "Sang Mulia" (bukan "Yang Luhur" pada draf), konsisten pola fa'iil-intensif menjadi Sang X sama dengan al-azhiim dan al-hamiid.
Kata (الْمَجِيدُ, al-majiid) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mulia dan agung. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21. Jadi separuh pemakaian akar yang jarang ini berada di dalam surah ini.
Kesejajaran dengan 85:21 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyifati Al-Qur'an, sedangkan di sini ia dipakai untuk menyifati Pemilik Arasy. Jadi satu akar menyifati Allah dan kitab-Nya di dalam satu surah pendek. Kata (الْمَجِيدُ, al-majiid) di sini bertakrif, sehingga yang disebut sudah tertentu.
Di 50:1 akar itu juga dipakai untuk menyifati Al-Qur'an, dan di 11:73 ia dipakai di dalam pujian kepada Allah. Jadi keempat pemakaiannya terbagi rata: dua untuk Allah dan dua untuk kitab-Nya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembagian itu. Kata (ذُو الْعَرْشِ, dzu l-'arsy) mendahuluinya, dan keduanya satu rangkaian kepemilikan.
Rangkaian (ذُو الْعَرْشِ, dzu l-'arsy) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 40:15 dan 85:15. Di 40:15 rangkaian itu disusul kata yang menyatakan Dia melemparkan wahyu kepada siapa yang Dia kehendaki.
Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama, dan yang di 40:15 mengikatnya kepada wahyu sedangkan yang di sini mengikatnya kepada kemuliaan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Akar (الْعَرْشِ, al-'arsy) berarti bangunan yang ditinggikan. Akar itu dipakai di 32 ayat, antara lain 7:54, 20:5, 23:86, 69:17, dan 81:20. Kesejajaran dengan 81:20 patut dicatat, sebab surah itu juga berada di juz yang sama dengan surah ini.
Susunan ayat ini menaruh kepemilikan lebih dulu dan sifat belakangan, sama seperti susunan di 85:9. Jadi dua ayat di surah ini dibangun dengan urutan yang sama: apa yang dimiliki-Nya lalu sifat yang menyertainya.
Kata (ذُو, dzu) berarti yang mempunyai, dan ia sejenis dengan kata yang dipakai di 85:1 serta 85:5 dengan bentuk perempuan. Jadi surah ini memakai kata sejenis itu tiga kali: dua untuk benda dan satu untuk Allah, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Kata (الْمَجِيدُ, al-majiid) berbaris damah, sehingga ia menerangkan kata pertama, bukan kata keduanya. Jadi yang disifati mulia Pemilik Arasy, bukan Arasynya, dan perbedaan itu terbawa di dalam barisnya sendiri tanpa satu kata penjelas pun. Susunan itu membuat pembacanya membaca kepemilikan lebih dulu dan sifatnya belakangan, sehingga yang disifati terbaca sebagai pemiliknya. Al-Qur'an tidak menerangkan apa itu Arasy maupun di mana ia berada, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta satu ayat lain yang memakai rangkaian yang sama.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan penyebutan sifat Allah sebagai Pemilik Arasy yang mulia, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21.
Jadi separuh pemakaian akar yang jarang ini berada di dalam surah ini. Kesejajaran dengan 85:21 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk menyifati Al-Qur'an, sedangkan di sini ia dipakai untuk menyifati Pemilik Arasy.
Di 50:1 akar itu juga dipakai untuk menyifati Al-Qur'an, dan di 11:73 ia dipakai di dalam pujian kepada Allah. Jadi keempat pemakaiannya terbagi rata: dua untuk Allah dan dua untuk kitab-Nya.
Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 40:15 dan 85:15. Di 40:15 rangkaian itu disusul kata yang menyatakan Dia melemparkan wahyu kepada siapa yang Dia kehendaki.
Susunan ayat ini menaruh kepemilikan lebih dulu dan sifat belakangan, sama seperti susunan di 85:9. Kata pertamanya berarti yang mempunyai, dan ia sejenis dengan kata yang dipakai di 85:1 serta 85:5 dengan bentuk perempuan. Jadi surah ini memakai kata sejenis itu tiga kali: dua untuk benda dan satu untuk Allah, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Susunan itu menaruh kepemilikan lebih dulu dan sifatnya belakangan, sehingga yang disifati terbaca sebagai pemiliknya, bukan miliknya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21. Jadi separuh pemakaian akar yang jarang ini berada di dalam surah ini, dan Allah memakainya sekali untuk diri-Nya dan sekali untuk kitab-Nya di dalam satu surah pendek. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan separuh akarnya di dalam satu surah pendek. Satu akar yang menyifati Allah dan kitab-Nya menaruh keduanya dalam satu kemuliaan.
- Di 50:1 akar kata terakhirnya dipakai untuk menyifati Al-Qur'an, dan di 11:73 ia dipakai di dalam pujian kepada Allah. Jadi keempat pemakaiannya terbagi rata: dua untuk Allah dan dua untuk kitab-Nya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pembagian itu dengan satu kalimat pun. Pembagian itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keempat tempatnya terbagi rata antara dua sasaran yang berbeda jenisnya. Pemilik Arasy disebut mulia, dan yang disifati pemiliknya, bukan singgasananya.
- Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 40:15 dan 85:15. Di 40:15 rangkaian itu disusul kata yang menyatakan Allah melemparkan wahyu kepada siapa yang Dia kehendaki. Jadi yang di sana mengikatnya kepada wahyu, dan yang di sini mengikatnya kepada kemuliaan. Yang menyambungkan keduanya cuma rangkaian katanya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua tempat itu dengan satu kalimat pun. Satu akar yang menyifati Allah dan kitab-Nya menaruh keduanya dalam satu kemuliaan.
- Akar kata keduanya dipakai Allah di 32 ayat, antara lain 7:54, 20:5, 23:86, 69:17, dan 81:20. Kesejajaran dengan 81:20 patut dicatat, sebab surah itu berada di juz yang sama dengan surah ini, dan akar yang sama muncul di keduanya tanpa satu kalimat penghubung. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa dua surah di juz yang sama memakai akar yang sama. Satu akar yang menyifati Allah dan kitab-Nya menaruh keduanya dalam satu kemuliaan.
- Susunan ayat ini menaruh kepemilikan lebih dulu dan sifat belakangan, sama seperti susunan di 85:9. Jadi dua ayat di surah ini dibangun Allah dengan urutan yang sama: apa yang dimiliki-Nya lalu sifat yang menyertainya, dan kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun. Urutan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan urutan yang sama di keduanya.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu tempat lain pun yang memakai bentuk itu untuk dibandingkan. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika sebuah gelar Allah cuma diucapkan sekali, dan tidak ada ayat lain yang menerangkannya? Yang tersedia bagi pembacanya cuma ayat ini sendiri, dan menerangkan gelarnya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalamnya. Pemilik Arasy disebut mulia, dan yang disifati pemiliknya, bukan singgasananya.