فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ
Sungguh berbuat apa yang Dia kehendaki.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُfa'aalun li-maa yuriidusungguh berbuat apa yang Dia kehendaki
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَعَّالٌfa'aalunberbuat
- لِمَاli-maabagi apa yang
- يُرِيدُyuriiduDia kehendaki
Inti bacaan
Kehendak yang tak terbatasi apa pun: 'Maha Berbuat apa yang Dia kehendaki', penegasan kekuasaan mutlak yang tidak tunduk pada batasan eksternal, dasar bagi keyakinan bahwa keadilan bagi korban persekusi (Ashab al-Ukhdud) akan ditegakkan sesuai kehendak-Nya.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ, fa''aalun li-maa yuriid) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 11:107 dan 85:16. Di 11:107 rangkaian itu menutup penyebutan orang yang celaka di neraka selama langit dan bumi masih ada.
Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama persis, dan yang di 11:107 menutup penyebutan azab yang panjang sedangkan yang di sini menutup penyebutan sifat-Nya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata (فَعَّالٌ, fa''aal) berasal dari akar yang berarti berbuat. Akar itu muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7 dan ayat ini. Kesejajaran dengan 85:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perbuatan para pelaku atas orang beriman.
Jadi satu akar menamai perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang tidak terbatas. Yang di 85:7 dikerjakan di hadapan mata pelakunya sendiri, dan yang di sini dikerjakan menurut kehendak-Nya sendiri. Kata (فَعَّالٌ, fa''aal) di sini tidak bertakrif, berbeda dari gelar di 85:14.
Bentuk (فَعَّالٌ, fa''aal) berpola yang menyatakan kesungguhan dan keseringan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengerjakan melainkan terus mengerjakan. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan tidak ada kata tambahan yang menyatakannya.
Kata (لِمَا, li-maa) tersusun dari huruf lam dan kata sambung, sehingga yang dinyatakan sasaran perbuatan-Nya. Jadi yang dikerjakan-Nya diikat kepada kehendak-Nya, bukan kepada sebab di luar diri-Nya.
Kata kerja (يُرِيدُ, yuriid) berbentuk sekarang, sehingga kehendak-Nya dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi ia tidak disebut sebagai satu keputusan yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya.
Ayat ini menutup bagian tentang sifat Allah, dan sesudahnya 85:17 berpindah kepada pertanyaan tentang bala tentara. Jadi lima ayat sifat berhenti di sini, dan yang datang sesudahnya kisah yang sama sekali baru.
Kata (فَعَّالٌ, fa''aal) tidak bertakrif, sedangkan dua gelar di 85:14 bertakrif. Jadi dua ayat yang berdekatan memakai dua cara penakrifan yang berbeda untuk menyebut sifat-Nya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun di antaranya.
Kata (يُرِيدُ, yuriid) berasal dari akar yang berarti mencari dengan pelan. Akar itu dipakai di 139 ayat, antara lain 2:185, 4:26, 11:107, 33:33, dan 74:31. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat dipakai di sini untuk kehendak-Nya yang tidak dibatasi oleh apa pun di luar diri-Nya. Susunan itu membuat pembacanya membaca sifat perbuatan-Nya lebih dulu dan sasarannya belakangan, sehingga kehendak-Nya terbaca sebagai batas satu-satunya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang dikehendaki-Nya maupun apa yang dikerjakan-Nya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata di dalam ayat ini.
Tafsiran
Ayat ini menutup penyebutan sifat Allah dengan penegasan kebebasan penuh kehendak-Nya, dan rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 11:107 dan 85:16.
Di 11:107 rangkaian itu menutup penyebutan orang yang celaka di neraka selama langit dan bumi masih ada. Jadi dua tempat memakai rangkaian yang sama persis, dan yang di 11:107 menutup penyebutan azab yang panjang sedangkan yang di sini menutup penyebutan sifat-Nya.
Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7 dan ayat ini. Kesejajaran dengan 85:7 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perbuatan para pelaku atas orang beriman.
Jadi satu akar menamai perbuatan yang dikutuk dan perbuatan yang tidak terbatas. Yang di 85:7 dikerjakan di hadapan mata pelakunya sendiri, dan yang di sini dikerjakan menurut kehendak-Nya sendiri.
Bentuk kata pertamanya berpola yang menyatakan kesungguhan dan keseringan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengerjakan melainkan terus mengerjakan. Kata pertamanya tidak bertakrif, sedangkan dua gelar di 85:14 bertakrif. Jadi dua ayat yang berdekatan memakai dua cara penakrifan yang berbeda untuk menyebut sifat-Nya. Akar kata terakhirnya dipakai di 139 ayat, antara lain 2:185, 4:26, 11:107, 33:33, dan 74:31.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya berasal dari akar yang muncul di dua ayat di dalam surah ini, yaitu 85:7 dan 85:16. Di 85:7 akar yang sama dipakai untuk perbuatan para pelaku atas orang beriman. Jadi Allah memakai satu akar untuk perbuatan yang dikutuk dan untuk perbuatan-Nya yang tidak terbatas. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa tempatnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah maksud di balik pemakaian satu akar untuk dua pihak.
- Rangkaian tiga katanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 11:107 dan 85:16. Di 11:107 rangkaian itu menutup penyebutan orang yang celaka di neraka selama langit dan bumi masih ada, sedangkan di sini ia menutup penyebutan sifat Allah. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang menyambungkan keduanya cuma rangkaian katanya yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan dua tempat itu dengan satu kalimat pun. Kehendak yang tidak dibatasi apa pun disebut persis sebelum kisah dua kaum yang binasa.
- Bentuk kata pertamanya berpola yang menyatakan kesungguhan dan keseringan, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar mengerjakan melainkan terus mengerjakan. Jadi kadarnya terbawa di dalam pola katanya, dan Allah tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakannya. Yang bisa diperiksa cuma pola katanya, dan menyimpulkan tentang kadar perbuatan-Nya berarti menaruh keterangan yang tidak disediakan ayatnya sendiri. Pola yang membawa keseringan menyatakan bahwa perbuatan-Nya tidak berhenti.
- Kata keduanya tersusun dari huruf lam dan kata sambung, sehingga yang dinyatakan sasaran perbuatan-Nya. Jadi yang dikerjakan Allah diikat kepada kehendak-Nya, bukan kepada sebab di luar diri-Nya. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa keterangan tambahan. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah hubungan antara perbuatan dan kehendak yang mendasarinya. Kehendak yang tidak dibatasi apa pun disebut persis sebelum kisah dua kaum yang binasa.
- Kata terakhirnya berbentuk sekarang, sehingga kehendak Allah dinyatakan sebagai yang berlangsung terus. Jadi ia tidak disebut sebagai satu keputusan yang sudah selesai, dan perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa satu kata keterangan pun. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya, dan terjemahan yang memakai bentuk lampau akan mengubah kehendak yang berlangsung menjadi keputusan yang selesai. Pola yang membawa keseringan menyatakan bahwa perbuatan-Nya tidak berhenti.
- Ayat ini menutup bagian tentang sifat Allah, dan sesudahnya 85:17 berpindah kepada pertanyaan tentang bala tentara. Apa yang dikerjakan sebuah penegasan tentang kebebasan kehendak-Nya ketika ia ditaruh persis sebelum kisah dua kaum yang dibinasakan? Pembagian bagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan tempat berhentinya. Kehendak yang tidak dibatasi apa pun disebut persis sebelum kisah dua kaum yang binasa.