بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ
Bahkan orang-orang yang kufur berada dalam pendustaan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍbali lladziina kafaruu fii takdziibinbahkan orang-orang yang kufur berada dalam pendustaan
Terjemahan per kata (5 kata)
- بَلِbalibahkan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَفَرُواkafaruukufur
- فِيfiidalam
- تَكْذِيبٍtakdziibinpendustaan
Inti bacaan
Diagnosis kondisi menetap penolakan: 'bahkan orang-orang yang kufur berada dalam pendustaan', pengakuan bahwa penolakan bukan sekadar sikap sesaat, melainkan kondisi yang dipertahankan secara konsisten.
Penjelasan pilihan kata
Kata (تَكْذِيبٍ, takdziib) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti berdusta. Ia dipakai di 271 ayat, antara lain 3:11, 6:39, 54:9, 78:28, dan 91:11, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul.
Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini. Kelangkaan bentuk dan keseringan akar bertemu di dalam satu kata, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu. Kata (تَكْذِيبٍ, takdziib) di sini tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya.
Kata (بَلِ, bal) huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia dipakai lagi di 85:21. Jadi dua ayat di bagian penutup surah ini sama-sama dibuka dengan huruf pembalik, dan keduanya berselang satu ayat.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Yang di sini membalik kepada keadaan orang yang mengingkari, dan yang di 85:21 membalik kepada keadaan Al-Qur'an sendiri. Jadi satu huruf dipakai untuk membalik ke dua arah yang berlawanan.
Kata (فِي, fii) menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga pendustaan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai perbuatan. Jadi mereka disebut berada di dalamnya, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf.
Bentuk (تَكْذِيبٍ, takdziib) berbentuk kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan keadaan yang tetap. Jadi pendustaan tidak disebut sebagai perbuatan yang berlangsung melainkan sebagai keadaan yang melingkupi mereka.
Kata (تَكْذِيبٍ, takdziib) tidak bertakrif, sehingga yang disebut pendustaan sebagai jenis, bukan satu pendustaan tertentu. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan mempersempitnya akan mengurangi apa yang tertulis.
Ayat ini membuka bagian penutup surah ini, dan tiga ayat berikutnya menutupnya. Jadi empat ayat terakhir seluruhnya tentang orang yang mendustakan dan tentang kitab yang didustakan, dan kisah dua kaum tidak disebut lagi.
Kata (كَفَرُوا, kafaruu) berasal dari akar yang berarti menutupi dan menolak. Akar itu dipakai di 464 ayat, antara lain 2:6, 3:10, 18:105, 47:1, dan 98:6, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an.
Bentuk (كَفَرُوا, kafaruu) berbentuk lampau, sedangkan keadaan yang dilukiskan sesudahnya tidak memakai kata kerja sama sekali. Jadi perbuatannya disebut sudah terjadi dan keadaannya disebut tetap, dan perbedaan itu terbawa di dalam susunan ayatnya sendiri. Susunan itu membuat pembacanya membaca pembalikan lebih dulu dan keadaannya belakangan, sehingga keadaan mereka terbaca sebagai bantahan atas pelajaran yang baru disebut. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang mereka dustakan di dalam ayat ini, dan sasarannya baru disebut dua ayat sesudahnya dengan huruf pembalik yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa orang-orang kufur tetap dalam pendustaan meski telah ada pelajaran dari sejarah, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akarnya dipakai di 271 ayat, antara lain 3:11, 6:39, 54:9, 78:28, dan 91:11, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali.
Kata pertamanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia dipakai lagi di 85:21. Jadi dua ayat di bagian penutup surah ini sama-sama dibuka dengan huruf pembalik, dan keduanya berselang satu ayat.
Yang di sini membalik kepada keadaan orang yang mengingkari, dan yang di 85:21 membalik kepada keadaan Al-Qur'an sendiri. Jadi satu huruf dipakai untuk membalik ke dua arah yang berlawanan.
Kata keempatnya menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga pendustaan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai perbuatan. Akar kata ketiganya dipakai di 464 ayat, antara lain 2:6, 3:10, 18:105, 47:1, dan 98:6, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya berbentuk lampau, sedangkan keadaan yang dilukiskan sesudahnya tidak memakai kata kerja sama sekali. Susunan itu menaruh pembalikan lebih dulu dan keadaannya belakangan, sehingga keadaan mereka terbaca sebagai bantahan atas pelajaran sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata keempatnya menyatakan berada di dalam sesuatu, sehingga pendustaan dilukiskan sebagai tempat, bukan sebagai perbuatan. Jadi Allah menyebut mereka berada di dalamnya, dan gambaran itu terbawa di dalam satu huruf saja tanpa satu kata keterangan pun. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf saja, dan terjemahan yang menggantinya akan mengubah keadaan yang melingkupi menjadi perbuatan yang dikerjakan. Pendustaan yang dilukiskan sebagai tempat membuat mereka terbaca berada di dalamnya.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 271 ayat, antara lain 3:11, 6:39, 54:9, 78:28, dan 91:11. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat memberi satu bentuk yang cuma dipakai sekali, dan bentuk itu berdiri di ayat ini. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan bentuk yang cuma sekali dipakai. Pendustaan yang dilukiskan sebagai tempat membuat mereka terbaca berada di dalamnya.
- Kata pertamanya huruf yang membalikkan arah pembicaraan, dan ia dipakai Allah lagi di 85:21. Yang di sini membalik kepada keadaan orang yang mengingkari, dan yang di 85:21 membalik kepada keadaan Al-Qur'an sendiri. Jadi satu huruf dipakai untuk membalik ke dua arah yang berlawanan. Yang menyambungkan keduanya cuma huruf yang sama, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara dua pembalikan itu dengan satu kalimat pun. Huruf pembalik menaruh keadaan mereka berhadapan dengan pelajaran yang baru disebut.
- Bentuk kata terakhirnya berbentuk kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan keadaan yang tetap. Jadi pendustaan tidak disebut Allah sebagai perbuatan yang berlangsung melainkan sebagai keadaan yang melingkupi mereka tanpa batas waktu. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan terjemahan yang memakai kata kerja akan mengubah keadaan yang tetap menjadi perbuatan yang bergerak. Huruf pembalik menaruh keadaan mereka berhadapan dengan pelajaran yang baru disebut.
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut pendustaan sebagai jenis, bukan satu pendustaan tertentu. Apa yang berubah pada sebuah tuduhan ketika Allah tidak menyebut apa yang didustakan, melainkan membiarkan cakupannya terbuka? Ketiadaan penakrifan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan mempersempit apa yang sengaja dibiarkan terbuka susunannya. Pendustaan yang dilukiskan sebagai tempat membuat mereka terbaca berada di dalamnya.
- Ayat ini membuka bagian penutup surah ini, dan tiga ayat berikutnya menutupnya. Jadi empat ayat terakhir seluruhnya tentang orang yang mendustakan dan tentang kitab yang didustakan, dan Allah tidak menyebut kisah dua kaum itu lagi sama sekali. Pembagian bagian itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemilihan tempat peralihannya. Huruf pembalik menaruh keadaan mereka berhadapan dengan pelajaran yang baru disebut.