بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌ

Bahkan itu Al-Qur'an yang luhur,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَجِيدٌbal huwa qur'aanun majiidunbahkan itu Al-Qur'an yang luhur

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. بَلْbalbahkan
  2. هُوَhuwaia
  3. قُرْآنٌqur'aanunbacaan
  4. مَجِيدٌmajiidunyang mulia

Inti bacaan

Status luhur sumber wahyu: 'bahkan, (yang didustakan itu) Al-Qur'an yang luhur', penegasan kualitas tinggi teks yang ditolak, kontras antara keluhuran sumber dan sikap meremehkan penerimanya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(yang didustakan itu)" tidak dipakai: "huwa" diterjemahkan literal "itu" tanpa penambahan rujukan interpretif. "Majiidun" di sini indefinit tanwin (memodifikasi "qur'aanun" yang juga indefinit), dipertahankan huruf kecil menjadi "luhur".

Kata (مَجِيدٌ, majiid) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 11:73 dan 85:21. Akarnya berarti mulia dan agung. Ia cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21, sehingga separuh pemakaiannya berada di dalam surah ini.

Kesejajaran dengan 85:15 patut dicatat, sebab di sana bentuk bertakrif dari akar yang sama dipakai untuk menyifati Pemilik Arasy. Jadi satu akar menyifati Allah di satu ayat dan kitab-Nya di ayat yang lain, dan keduanya berjarak enam ayat. Kata (مَجِيدٌ, majiid) di sini tidak bertakrif, berbeda dari bentuknya di 85:15.

Kata (قُرْآنٌ, qur-aan) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 36:69, 56:77, dan 85:21. Di 36:69 dan 56:77 kata itu juga disifati dengan kata yang menyatakan kemuliaan atau kehormatan.

Jadi ketiga tempat memakai bentuk tanpa takrif dan menyifatinya dengan sifat yang searah. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk katanya. Kata (قُرْآنٌ, qur-aan) mendahuluinya, dan ia juga tidak bertakrif sama sekali.

Rangkaian (بَلْ هُوَ, bal huwa) muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 21:5, 29:49, 34:27, 54:25, dan 85:21. Jadi rangkaian ini dipakai untuk membalikkan tuduhan, dan di sini ia membalikkan tuduhan tentang pendustaan di 85:19.

Kedua kata pokok di ayat ini tidak bertakrif, sedangkan dua gelar di 85:14 bertakrif. Jadi surah ini memakai dua cara penakrifan di dalam bagian yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Kata (بَلْ, bal) membuka ayatnya, dan ia huruf yang membalikkan arah pembicaraan.

Susunan ayat ini menaruh pembalikan lebih dulu dan penyifatan belakangan. Jadi Al-Qur'an membantah tuduhannya sebelum menyebut apa yang sebenarnya, dan urutan itu diulang dari susunan di 85:19.

Kata (هُوَ, huwa) kata ganti orang ketiga tunggal yang tidak menamai apa yang ditunjuknya. Jadi pembacanya harus melengkapinya dari 85:19, dan terjemahan ini membiarkannya kabur seperti aslinya. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama pun di dalam ayat ini.

Kata (قُرْآنٌ, qur-aan) berasal dari akar yang berarti membaca. Akar itu dipakai di 79 ayat, antara lain 10:61, 17:9, 20:114, 56:77, dan 96:1. Kesejajaran dengan 96:1 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perintah membaca, bukan untuk nama kitabnya. Susunan itu membuat pembacanya membaca pembalikan lebih dulu dan penyifatan belakangan, sehingga kitab itu terbaca sebagai bantahan atas tuduhan yang mendahuluinya. Al-Qur'an tidak menyebut apa yang ditunjuk kata gantinya di dalam ayat ini, dan pembacanya harus kembali ke dua ayat sebelumnya untuk menemukannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa yang didustakan itu sesungguhnya adalah Al-Qur'an yang luhur, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 11:73 dan 85:21.

Akarnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21, sehingga separuh pemakaiannya berada di dalam surah ini. Kesejajaran dengan 85:15 patut dicatat, sebab di sana bentuk bertakrif dari akar yang sama dipakai untuk menyifati Pemilik Arasy.

Jadi satu akar menyifati Allah di satu ayat dan kitab-Nya di ayat yang lain, dan keduanya berjarak enam ayat. Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 36:69, 56:77, dan 85:21.

Di 36:69 dan 56:77 kata itu juga disifati dengan kata yang menyatakan kemuliaan atau kehormatan. Jadi ketiga tempat memakai bentuk tanpa takrif dan menyifatinya dengan sifat yang searah.

Rangkaian dua kata pertamanya muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 21:5, 29:49, 34:27, 54:25, dan 85:21. Kata keduanya kata ganti orang ketiga tunggal yang tidak menamai apa yang ditunjuknya. Akar kata ketiganya dipakai di 79 ayat, antara lain 10:61, 17:9, 20:114, 56:77, dan 96:1. Kesejajaran dengan 96:1 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk perintah membaca. Susunan itu menaruh pembalikan lebih dulu dan penyifatan belakangan, sehingga kitab itu terbaca sebagai bantahan atas tuduhan yang mendahuluinya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 11:73, 50:1, 85:15, dan 85:21. Di 85:15 bentuk bertakrif dari akar yang sama dipakai untuk menyifati Pemilik Arasy. Jadi satu akar menyifati Allah di satu ayat dan kitab-Nya di ayat yang lain, dan keduanya berjarak enam ayat. Angka itu bisa diperiksa siapa pun dengan menghitung tempatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pemusatan separuh akarnya di dalam satu surah. Kata ganti yang dibiarkan kabur menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya.
  • Kata ketiganya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 36:69, 56:77, dan 85:21. Di 36:69 dan 56:77 kata itu juga disifati dengan kata yang menyatakan kemuliaan atau kehormatan. Jadi ketiga tempat memakai bentuk tanpa takrif dan menyifatinya dengan sifat yang searah. Yang menyambungkan ketiganya cuma bentuk katanya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat penjelas pun. Tuduhan dibalik bukan dengan bantahan melainkan dengan menyebut apa yang sebenarnya.
  • Rangkaian dua kata pertamanya muncul 9 kali di 9 surah, antara lain di 21:5, 29:49, 34:27, 54:25, dan 85:21. Jadi rangkaian ini dipakai Allah untuk membalikkan tuduhan, dan di sini ia membalikkan tuduhan tentang pendustaan yang disebut di 85:19. Yang bisa dicatat cuma di mana rangkaian itu dipakai, dan menyimpulkan tentang siapa yang dituduh berarti menaruh keterangan yang tidak tertulis di sini. Tuduhan dibalik bukan dengan bantahan melainkan dengan menyebut apa yang sebenarnya.
  • Kedua kata pokok di ayat ini tidak bertakrif, sedangkan dua gelar di 85:14 bertakrif. Jadi surah ini memakai dua cara penakrifan di dalam bagian yang berdekatan, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun di antaranya. Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa dua cara penakrifan dipakai di dalam bagian yang berdekatan letaknya. Kata ganti yang dibiarkan kabur menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya.
  • Susunan ayat ini menaruh pembalikan lebih dulu dan penyifatan belakangan. Jadi Allah membantah tuduhannya sebelum menyebut apa yang sebenarnya, dan urutan itu diulang dari susunan di 85:19 pada dua ayat sebelumnya. Urutan itu bisa diperiksa siapa pun dengan membandingkan dua ayatnya, dan yang tidak bisa diperiksa adalah alasan pengulangan urutan yang sama di keduanya. Tuduhan dibalik bukan dengan bantahan melainkan dengan menyebut apa yang sebenarnya.
  • Kata keduanya kata ganti yang tidak menamai apa yang ditunjuknya, dan terjemahan ini mempertahankannya apa adanya. Apa yang dijaga sebuah terjemahan ketika ia membiarkan kata ganti tetap kabur, alih-alih menggantinya dengan rujukan yang dianggapnya jelas? Ketiadaan nama itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan kabur oleh susunan katanya. Kata ganti yang dibiarkan kabur menuntut pembacanya kembali ke ayat sebelumnya.