فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍ
Dalam lauh yang terpelihara.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِي لَوْحٍ مَحْفُوظٍfii lawhin mahfuuzhindalam lauh yang terpelihara
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيfiidalam
- لَوْحٍlawhinlembaran
- مَحْفُوظٍmahfuuzhinyang terjaga
Inti bacaan
Jaminan keaslian dan keterjagaan: 'dalam lauh yang terpelihara', penegasan bahwa sumber wahyu dilindungi dari perubahan atau kerusakan, dasar kepercayaan terhadap keotentikan pesan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (لَوْحٍ مَحْفُوظٍ, lauhin mahfuuzh) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata keduanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain mana pun.
Akar (لَوْحٍ, lauhin) berarti papan. Akar itu cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 7:145, 7:150, 7:154, 54:13, 74:29, dan 85:22. Di 7:145, 7:150, dan 7:154 akar itu dipakai untuk lempengan yang diberikan kepada Musa.
Jadi tiga dari enam pemakaiannya menamai lempengan yang dituliskan bagi seorang nabi, dan di sini ia menamai tempat tersimpannya Al-Qur'an. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Di 54:13 akar yang sama dipakai untuk papan pada bahtera, dan di 74:29 ia dipakai untuk sesuatu yang membakar kulit. Jadi satu akar menamai lempengan tulisan, papan kapal, dan pembakar kulit, dan yang menyambungkannya cuma huruf-hurufnya. Kata (مَحْفُوظٍ, mahfuuzh) di sini berbentuk penderita, bukan bentuk pelaku.
Akar (مَحْفُوظٍ, mahfuuzh) berarti menjaga. Akar itu dipakai di 42 ayat, antara lain 12:12, 15:9, 21:32, 50:4, dan 86:4. Kesejajaran dengan 15:9 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk penjagaan Al-Qur'an itu sendiri.
Bentuk (مَحْفُوظٍ, mahfuuzh) berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan lauh yang dijaga, bukan lauh yang menjaga. Jadi ada pihak yang menjaganya di balik kata itu, dan pihaknya tidak disebutkan di dalam ayatnya.
Kedua kata pokok di ayat ini tidak bertakrif, sehingga yang disebut lauh sebagai jenis, bukan satu lauh yang sudah dikenal. Jadi cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan menyisipkan penakrifan akan menambahkan apa yang tidak tertulis. Kata (لَوْحٍ, lauhin) mendahuluinya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif.
Ayat penutup ini bergantung pada 85:21, sebab huruf fii di awalnya menerangkan di mana Al-Qur'an itu berada. Jadi surah ini ditutup dengan keterangan tempat, dan dua ayat terakhirnya satu kalimat yang dipisah.
Kata (فِي, fii) di awal ayat menyatakan berada di dalam sesuatu, sama seperti huruf yang dipakai di 85:19. Jadi dua ayat di bagian penutup surah ini sama-sama memakai huruf yang menyatakan tempat, dan yang satu untuk pendustaan sedangkan yang lain untuk lauh.
Bentuk (لَوْحٍ, lauhin) berbaris kasrah karena berada sesudah huruf yang mendahuluinya, dan ia tidak bertakrif. Jadi tempat tersimpannya disebut tanpa penakrifan, dan Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa ia satu-satunya maupun bahwa ia sudah dikenal pembacanya. Susunan itu membuat pembacanya membaca tempatnya sesudah bendanya, sehingga keterangan tempat itu menutup seluruh surahnya. Al-Qur'an tidak menyebut di mana lauh itu berada maupun siapa yang menjaganya, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata beserta ayat yang mendahuluinya di 85:21.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menegaskan bahwa Al-Qur'an tersimpan dalam lauh yang terjaga dari perubahan, dan rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain mana pun. Akar kata keduanya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 7:145, 7:150, 7:154, 54:13, 74:29, dan 85:22.
Di 7:145, 7:150, dan 7:154 akar itu dipakai untuk lempengan yang diberikan kepada Musa. Jadi tiga dari enam pemakaiannya menamai lempengan yang dituliskan bagi seorang nabi, dan di sini ia menamai tempat tersimpannya Al-Qur'an.
Akar kata terakhirnya dipakai di 42 ayat, antara lain 12:12, 15:9, 21:32, 50:4, dan 86:4. Kesejajaran dengan 15:9 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk penjagaan Al-Qur'an itu sendiri.
Ayat penutup ini bergantung pada 85:21, sebab kata pertamanya menerangkan di mana Al-Qur'an itu berada. Kata pertamanya menyatakan berada di dalam sesuatu, sama seperti huruf yang dipakai di 85:19. Jadi dua ayat di bagian penutup surah ini sama-sama memakai huruf yang menyatakan tempat, dan yang satu untuk pendustaan sedangkan yang lain untuk lauh yang terjaga.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata keduanya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 7:145, 7:150, 7:154, 54:13, 74:29, dan 85:22. Di 7:145, 7:150, dan 7:154 akar itu dipakai untuk lempengan yang diberikan Allah kepada Musa. Jadi tiga dari enam pemakaiannya menamai lempengan yang dituliskan bagi seorang nabi. Angka itu bisa dihitung ulang siapa pun dengan memeriksa daftarnya, dan yang tidak bisa dihitung adalah alasan pemilihan akar yang hampir tidak dipakai. Dua dari tiga kata di ayat penutup tidak punya satu pembanding pun di tempat lain.
- Di 54:13 akar kata keduanya dipakai untuk papan pada bahtera, dan di 74:29 ia dipakai untuk sesuatu yang membakar kulit. Jadi satu akar menamai lempengan tulisan, papan kapal, dan pembakar kulit, dan yang menyambungkan ketiganya cuma huruf-huruf akarnya sendiri. Yang menyambungkan ketiganya cuma huruf-huruf akarnya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan antara tempat-tempat itu dengan satu kalimat pun. Dua dari tiga kata di ayat penutup tidak punya satu pembanding pun di tempat lain.
- Bentuk kata terakhirnya berbentuk penderita, sehingga yang dinyatakan lauh yang dijaga, bukan lauh yang menjaga. Jadi ada pihak yang menjaganya di balik kata itu, dan Allah tidak menyebutkan pihaknya di dalam ayat penutup ini sama sekali. Ketiadaan pelaku itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab menyisipkannya akan menutup apa yang sengaja dibiarkan terbuka oleh bentuk katanya. Kitab yang tersimpan di tempat terjaga tidak bergantung pada penerimaan pembacanya.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 42 ayat, antara lain 12:12, 15:9, 21:32, 50:4, dan 86:4. Kesejajaran dengan 15:9 patut dicatat, sebab di sana akar yang sama dipakai untuk penjagaan Al-Qur'an itu sendiri, sedangkan di sini ia dipakai untuk tempat tersimpannya. Kesejajaran itu tidak ditandai satu kata pun, dan pembacanya sendiri yang harus melihat bahwa satu akar mengikat penjagaan kitab dan tempat simpanannya. Kitab yang tersimpan di tempat terjaga tidak bergantung pada penerimaan pembacanya.
- Rangkaian dua katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata terakhirnya juga muncul 1 kali. Apa yang tersisa bagi pembaca ketika dua dari tiga kata di ayat penutup sebuah surah tidak punya satu pembanding pun di tempat lain? Yang tersedia bagi pembacanya cuma tiga kata itu, dan menerangkannya lewat sumber lain berarti keluar dari apa yang tertulis di dalam ayat penutupnya. Dua dari tiga kata di ayat penutup tidak punya satu pembanding pun di tempat lain.
- Ayat penutup ini bergantung pada 85:21, sebab kata pertamanya menerangkan di mana Al-Qur'an itu berada. Jadi Allah menutup surah ini dengan keterangan tempat, dan dua ayat terakhirnya satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Pemisahan itu tidak ditandai satu kata pun, dan membaca ayat ini sendirian meninggalkan pembacanya tanpa benda yang sedang diterangkan tempatnya. Kitab yang tersimpan di tempat terjaga tidak bergantung pada penerimaan pembacanya.