بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ
Demi langit dan yang datang di malam hari,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِwa-s-samaa'i wa-th-thaariqidemi langit dan yang datang di malam hari
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالسَّمَاءِwa-s-samaa'idan demi langit
- وَالطَّارِقِwa-th-thaariqidan yang datang di malam hari
Inti bacaan
Pembukaan At-Tariq dengan misteri malam: 'demi langit dan yang datang di malam hari', sumpah yang membangun rasa penasaran tentang fenomena spesifik yang akan dijelaskan.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (وَالطَّارِقِ, wa-th-thaariqi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengetuk dan datang malam. Ia dipakai di 11 ayat, antara lain 4:168, 20:63, 20:77, 23:17, dan 72:11.
Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata untuk jalan yang ditempuh, antara lain di 4:168, 20:63, dan 46:30. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut jalan, di sini dipakai untuk sesuatu yang datang pada malam hari. Kedua makna itu bertetangga, sebab yang datang malam hari menempuh jalan untuk sampai. Kata (وَالطَّارِقِ, wa-th-thaariqi) sendiri tidak dipakai untuk jalan di satu pun tempat lain.
Bentuk (وَالطَّارِقِ, wa-th-thaariqi) adalah bentuk pelaku, dan artinya yang mengetuk atau yang datang pada malam hari. Bahasa Indonesia menahannya dengan "yang datang di malam hari", memakai keterangan waktu untuk menahan muatan yang di dalam Arabnya terbawa oleh katanya sendiri.
Susunan sumpah di surah ini juga patut dicatat. Ia dibuka dua sumpah di 86:1, lalu berhenti untuk bertanya di 86:2 dan menjawab di 86:3, baru sesudah itu jawaban sumpahnya datang di 86:4. Jadi rangkaian sumpahnya dipotong di tengah oleh sebuah pertanyaan, dan pemotongan itu tidak terjadi di 91:1 sampai 91:7 maupun di 100:1 sampai 100:5.
Surah ini juga memuat dua rangkaian sumpah, bukan satu. Yang pertama di 86:1 dan yang kedua di 86:11 sampai 86:12, dan keduanya dibuka dengan kata untuk langit. Jadi kata (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) muncul dua kali sebagai pembuka sumpah di dalam satu surah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.
Letak surah ini di antara tetangganya juga patut dicatat. Surah 85 sebelumnya juga dibuka sumpah atas langit, dan kata (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) menjadi pembuka di keduanya. Jadi dua surah berurutan dibuka dengan sumpah atas benda yang sama, dan yang disandingkan dengannya berbeda: yang di 85:1 gugusan bintang, dan yang di sini sesuatu yang datang pada malam hari. Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berdampingan.
Huruf waw di depan (وَالسَّمَاءِ, wa-s-samaa-i) huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai di seluruh Al-Qur'an untuk membuka surah-surah pendek, antara lain di 89:1, 91:1, 92:1, 93:1, 95:1, dan 100:1. Jadi susunan pembuka surah ini bukan susunan yang berdiri sendiri, melainkan salah satu dari sederet pembuka yang memakai rangka yang sama.
Bentuk (وَالطَّارِقِ, wa-th-thaariqi) tidak menyebut jumlah, sehingga ia bisa dibaca sebagai satu atau sebagai jenis. Al-Qur'an tidak menutup salah satunya, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih memilihkan salah satu bagi pembacanya. Yang tertulis cuma bahwa ia datang pada malam hari dan bahwa ia sudah tertentu.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan dua sumpah sekaligus, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 4:168, 20:63, 20:77, 23:17, dan 72:11.
Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata untuk jalan yang ditempuh. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut jalan, di sini dipakai untuk sesuatu yang datang pada malam hari. Kedua makna itu bertetangga, sebab yang datang malam hari menempuh jalan untuk sampai.
Susunan sumpah di surah ini patut dicatat. Ia dibuka dua sumpah di ayat ini, lalu berhenti untuk bertanya di 86:2 dan menjawab di 86:3, baru sesudah itu jawaban sumpahnya datang di 86:4. Jadi rangkaian sumpahnya dipotong di tengah oleh sebuah pertanyaan, dan pemotongan itu tidak terjadi di 91:1 sampai 91:7 maupun di 100:1 sampai 100:5.
Surah ini juga memuat dua rangkaian sumpah, bukan satu. Yang pertama di ayat ini dan yang kedua di 86:11 sampai 86:12, dan keduanya dibuka dengan kata untuk langit. Jadi kata itu muncul dua kali sebagai pembuka sumpah di dalam satu surah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.
Surah 85 sebelumnya juga dibuka sumpah atas langit, sehingga dua surah berurutan dibuka dengan sumpah atas benda yang sama. Yang disandingkan dengannya berbeda: yang di 85:1 gugusan bintang, dan yang di sini sesuatu yang datang pada malam hari.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kedua dipakai di 11 ayat, antara lain 4:168, 20:63, 20:77, 23:17, dan 72:11. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu memberi kata untuk jalan yang ditempuh. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut jalan, di sini dipakai Allah untuk sesuatu yang datang pada malam hari, dan kedua makna itu bertetangga sebab yang datang malam hari menempuh jalan untuk sampai. Akar yang berpindah maknanya seperti ini tidak bisa diterangkan dengan menyebut satu ayat saja, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma sebelas tempat pemakaiannya.
- Rangkaian sumpah di surah ini dipotong di tengah oleh sebuah pertanyaan. Ia dibuka dua sumpah di ayat ini, lalu berhenti untuk bertanya di 86:2 dan menjawab di 86:3, baru sesudah itu jawaban sumpahnya datang di 86:4. Pemotongan itu tidak terjadi di 91:1 sampai 91:7 maupun di 100:1 sampai 100:5, sehingga susunan ini khas bagi surahnya. Susunan yang menahan jawabannya selama dua ayat membuat pembacanya menunggu, dan penantian itu bagian dari cara ayat-ayat ini bekerja atas orang yang membacanya.
- Surah ini memuat dua rangkaian sumpah, bukan satu. Yang pertama di 86:1 dan yang kedua di 86:11 sampai 86:12, dan keduanya dibuka Allah dengan kata untuk langit. Jadi kata itu muncul dua kali sebagai pembuka sumpah di dalam satu surah, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Pengulangan tanpa keterangan seperti ini menyerahkan penimbangannya kepada pembacanya, dan Al-Qur'an tidak menyediakan satu kalimat pun untuk menutupnya.
- Bentuk kata kedua bentuk pelaku, dan artinya yang mengetuk atau yang datang pada malam hari. Yang datang malam hari selalu tidak diduga, sebab malam waktu orang berhenti menunggu. Allah menyumpahkan sesuatu yang datang justru ketika tidak ada yang bersiap menerimanya, dan pilihan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Sesuatu yang datang tanpa diduga menuntut kesiapan yang tidak bisa disiapkan pada saat kedatangannya, dan itulah yang membuat penyebutannya di sini menahan perhatian. Apa yang disiapkan seseorang untuk sesuatu yang justru datang ketika ia berhenti bersiap?
- Yang disumpahkan lebih dulu langit, baru sesudah itu yang datang pada malam hari. Jadi Allah menyebut tempatnya lebih dulu dan isinya belakangan. Susunan yang sama dipakai lagi di 86:11 dan 86:12, tempat langit disebut lebih dulu dan bumi menyusul. Yang besar mendahului yang kecil di kedua rangkaian sumpah surah ini. Menyebut yang besar lebih dulu dan yang kecil belakangan membuat pembacanya bergerak dari yang luas ke yang tertentu, bukan sebaliknya, di kedua rangkaian sumpah ini.
- Kata kedua bertakrif, sehingga yang disumpahkan bukan sembarang yang datang malam hari melainkan yang sudah tertentu. Tetapi apa dia belum diterangkan di ayat ini, dan keterangannya baru datang di 86:3. Jadi Allah menyebut namanya lebih dulu dan menerangkannya belakangan, dan penundaan itu menahan perhatian pembacanya pada kata yang menjadi nama surah ini. Menunda keterangan sesudah menyebut nama membuat namanya sendiri yang tinggal di ingatan, dan nama itulah yang kemudian dipakai untuk menamai seluruh surahnya.