وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ
Dan tahukah engkau apakah yang datang di malam hari itu?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُwa-maa adraaka maa th-thaariqudan tahukah engkau apakah yang datang di malam hari itu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَمَاwa-maadan tahukah
- أَدْرَاكَadraakamemberitahumu
- مَاmaaapakah
- الطَّارِقُth-thaariquyang datang malam
Inti bacaan
Pertanyaan yang memperdalam misteri: 'dan tahukah engkau apakah yang datang di malam hari itu?', teknik retoris yang menegaskan signifikansi fenomena sebelum penjelasan diberikan.
Penjelasan pilihan kata
Kata "itu" di dalam terjemahan mengikuti pola formula baku (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka) yang diikuti pengulangan nama yang sedang dibicarakan, bandingkan dengan 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, dan 83:19. Rangkaian itu dipakai 12 kali di 10 surah, yaitu di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan 104:5.
Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan sekadar tahukah engkau. Perbedaannya menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Yang ditanya karena itu tidak sedang diuji melainkan sedang diberi tahu bahwa ia belum punya bahan untuk menjawab. Rangkaian (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka) memakai bentuk itu di seluruh dua belas kemunculannya.
Yang khas di sini adalah bahwa jawabannya datang tepat di ayat berikutnya, dan cuma dua kata. Bandingkan dengan 101:3 dan 101:10, tempat rangkaian yang sama dipakai dua kali di dalam satu surah, dan dengan 97:2 yang jawabannya datang di 97:3. Jadi penundaannya di sini yang paling pendek, yaitu satu ayat saja.
Kata (الطَّارِقُ, ath-thaariqu) diulang utuh, bukan diganti kata ganti. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut dengan kata ganti supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Pola yang sama dipakai di 101:3 dan 104:5, sedangkan 101:10 justru memakai kata ganti.
Bentuk kata di sini berbaris dammah, berbeda dari bentuk di 86:1 yang berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah. Jadi satu kata muncul dua kali dalam dua ayat berurutan dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda. Sebagai kata ia disebut dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Kata (الطَّارِقُ, ath-thaariqu) di sini berkedudukan sebagai pokok kalimat, dan itulah sebab barisnya berubah.
Kedudukan ayat ini di dalam susunan surahnya juga patut dicatat. Ia menyela di antara sumpah di 86:1 dan jawabannya di 86:4, dan selaan itu tidak terjadi di 91:1 sampai 91:7 maupun di 100:1 sampai 100:5. Jadi kata (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka) di sini bukan cuma menandai sesuatu yang tak terjangkau, melainkan sekaligus menahan jawaban sumpahnya selama dua ayat sebelum ia datang.
Bentuk kata kerjanya berorang kedua tunggal, sehingga (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka) menyapa seseorang secara langsung. Ini berbeda dari 86:5 yang memakai bentuk perintah kepada pihak ketiga, dan berbeda pula dari 86:9 yang memakai bentuk pasif tanpa pelaku. Jadi tiga ayat di surah ini memakai tiga cara menyapa yang berlainan, dan pergantian itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Bentuk (وَمَا أَدْرَاكَ, wa-maa adraaka) dipakai selalu dalam bentuk lampau di dua belas kemunculannya, tidak pernah dalam bentuk sekarang. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia tidak akan tahu melainkan bahwa sampai saat itu belum ada yang memberitahunya. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini memakai formula yang dipakai 12 kali di 10 surah, yaitu di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan 104:5. Bentuk kata kerjanya berarti apa yang membuatmu tahu, bukan sekadar tahukah engkau.
Perbedaan itu menentukan. Yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Yang ditanya karena itu tidak sedang diuji melainkan sedang diberi tahu bahwa ia belum punya bahan untuk menjawab.
Yang khas di sini adalah bahwa jawabannya datang tepat di ayat berikutnya, dan cuma dua kata. Bandingkan dengan 101:3 dan 101:10, tempat rangkaian yang sama dipakai dua kali di dalam satu surah, dan dengan 97:2 yang jawabannya datang di 97:3. Jadi penundaannya di sini yang paling pendek, yaitu satu ayat saja.
Nama yang ditanyakan diulang utuh, bukan diganti kata ganti. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut dengan kata ganti supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Pola yang sama dipakai di 101:3 dan 104:5, sedangkan 101:10 justru memakai kata ganti. Jadi Al-Qur'an memakai kedua cara itu, dan yang di sini menahan perhatian pada namanya sendiri.
Bentuk kata kerjanya berorang kedua tunggal, sehingga ia menyapa seseorang secara langsung. Ini berbeda dari 86:5 yang memakai bentuk perintah kepada pihak ketiga, dan berbeda pula dari 86:9 yang memakai bentuk pasif tanpa pelaku.
Renungan dan Hikmah
- Jawaban pertanyaan ini datang tepat di ayat berikutnya, dan cuma dua kata. Bandingkan dengan 101:3 dan 101:10, tempat rangkaian yang sama dipakai dua kali di dalam satu surah, dan dengan 97:2 yang jawabannya datang di 97:3. Jadi penundaannya di sini yang paling pendek di antara ketiganya, yaitu satu ayat saja. Penundaan yang sependek itu berbeda dari penundaan panjang di surah lain, dan perbedaannya terasa pada kecepatan pembacanya sampai kepada jawabannya.
- Bentuk kata kerja yang dipakai Allah berarti apa yang membuatmu tahu, bukan sekadar tahukah engkau. Perbedaannya menentukan: yang pertama menyatakan bahwa tidak ada jalan yang tersedia untuk mengetahuinya, sedangkan yang kedua cuma menanyakan sudah tahu atau belum. Yang ditanya tidak sedang diuji melainkan sedang diberi tahu bahwa ia belum punya bahan untuk menjawab. Menyatakan bahwa seseorang belum punya bahan untuk menjawab berbeda dari menyalahkannya karena tidak tahu, dan yang dikerjakan ayat ini yang pertama.
- Nama yang ditanyakan diulang utuh, bukan diganti kata ganti. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut dengan kata ganti supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Pola yang sama dipakai Allah di 101:3 dan 104:5, sedangkan 101:10 justru memakai kata ganti, sehingga kedua cara itu sama-sama terpakai di dalam Al-Qur'an. Mengulang nama alih-alih memakai kata ganti menahan perhatian pada namanya, dan penahanan itu terasa justru karena bahasa biasanya menghematnya.
- Bentuk kata di ayat ini berbaris dammah, berbeda dari bentuk di 86:1 yang berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah. Jadi satu kata muncul dua kali dalam dua ayat berurutan dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda. Sebagai kata ia disebut dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar. Perbedaan baris pada satu kata yang sama menerangkan kedudukannya di dalam kalimat, dan itulah sebabnya angka bentuk dan angka kata bisa berbeda tanpa saling menyalahkan.
- Rangkaian ini dipakai 12 kali di 10 surah, yaitu di 69:3, 74:27, 77:14, 82:17, 83:8, 83:19, 86:2, 90:12, 97:2, 101:3, 101:10, dan 104:5. Di semua kemunculannya ia mendahului sesuatu yang tidak bisa dicapai dengan membandingkannya kepada yang sudah dikenal. Jadi Allah memakainya untuk menandai hal yang berada di luar jangkauan pengalaman pembacanya, dan di sini yang ditandai justru sebuah benda langit yang bisa dilihat setiap malam. Menandai sesuatu sebagai berada di luar jangkauan membuat pembacanya berhenti menganggapnya sudah dikenali, sekalipun ia melihatnya setiap malam.
- Yang ditanyakan di ayat ini sesuatu yang bisa dilihat siapa pun pada malam hari, bukan perkara akhirat seperti di 101:10 dan 104:5. Mengapa sesuatu yang terlihat setiap malam masih perlu ditandai sebagai yang tidak terjangkau pengetahuan? Allah tidak menjawabnya, dan jawabannya di 86:3 justru menambah satu sifat, bukan satu keterangan. Sesuatu yang terlihat tiap malam justru paling mudah dilewatkan, dan penandaan di ayat ini menaruhnya kembali ke tempat yang menuntut perhatian.