النَّجْمُ الثَّاقِبُ
Bintang yang menembus,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- النَّجْمُ الثَّاقِبُan-najmu ts-tsaaqibubintang yang menembus
Terjemahan per kata (2 kata)
- النَّجْمُan-najmubintang
- الثَّاقِبُts-tsaaqibuyang menembus
Inti bacaan
Identifikasi fenomena kosmik: '(yaitu) bintang yang menembus (cahayanya)', pengungkapan bahwa objek yang dimaksud adalah bintang dengan cahaya yang mampu menembus kegelapan, citra ketajaman dan daya tembus.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(Yaitu)" dan "(cahayanya)" tidak dipakai. Kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari pertanyaan di 86:2, dan menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis.
Kata (الثَّاقِبُ, ats-tsaaqibu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menembus. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 37:10 dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai. Di 37:10 tertulis (شِهَابٌ ثَاقِبٌ, syihaabun tsaaqibun), bintang menyala yang menembus, dalam kalimat tentang yang mengejar pencuri pendengaran.
Jadi kedua pemakaian akar ini menyebut benda langit yang menembus. Yang di 37:10 mengejar sesuatu, dan yang di sini disumpahkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua ayat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang cuma hidup di dua tempat. Kata (الثَّاقِبُ, ats-tsaaqibu) di sini melekat pada bendanya, sedangkan yang di 37:10 melekat pada nyala.
Kata (النَّجْمُ, an-najmu) bertakrif, dan bersama kata sifatnya ia menjawab pertanyaan di 86:2. Jawaban itu cuma dua kata, dan keduanya berbentuk kata benda tanpa kata kerja. Jadi jawaban atas pertanyaan yang menyatakan ketidakterjangkauan ternyata sependek dua kata, dan tidak satu pun di antaranya menerangkan mengapa ia tidak terjangkau.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut menembus apa, tidak disebut dari mana ia datang, dan tidak disebut ke mana ia pergi. Yang disebut cuma sifatnya. Sebuah jawaban yang menambah sifat tanpa menambah keterangan meninggalkan pertanyaannya hampir sebagaimana semula, dan itulah yang dikerjakannya.
Kedua kata di dalam jawaban ini bertakrif, yaitu (النَّجْمُ, an-najmu) dan kata sifatnya. Jadi yang disebut bukan sembarang benda langit melainkan yang sudah tertentu, dan ketertentuan itu sejalan dengan ketertentuan pada namanya di 86:1 dan 86:2. Tiga ayat berturut-turut karena itu seluruhnya memakai kata sandang, dan tidak ada satu pun kata tanpa takrif di dalam ketiganya kecuali yang berada di dalam pertanyaan.
Susunan jawaban ini berupa kata benda yang disusul kata sifat, tanpa kata kerja sama sekali. Kata (النَّجْمُ, an-najmu) berdiri sebagai penjelas bagi nama yang ditanyakan di 86:2, dan kata sifatnya menerangkannya lagi. Jadi keterangan bertingkat dua diberikan dalam dua kata, dan tidak ada satu pun peristiwa yang diceritakan di dalamnya. Yang diberikan gambaran, bukan kejadian.
Bentuk (الثَّاقِبُ, ats-tsaaqibu) bentuk pelaku, sehingga yang disebut yang menembus, bukan yang ditembus. Perbedaan itu perlu dijaga: bentuk pelaku menaruh perbuatannya pada bendanya sendiri. Bahasa Indonesia menahannya dengan bentuk aktif, mengikuti apa yang tertulis alih-alih membaliknya menjadi bentuk yang dikenai.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan di 86:2, dan jawabannya cuma dua kata. Kata sifatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 37:10 dan ayat ini.
Di 37:10 akar yang sama dipakai untuk bintang menyala yang menembus, dalam kalimat tentang yang mengejar pencuri pendengaran. Jadi kedua pemakaian akar ini menyebut benda langit yang menembus. Yang di 37:10 mengejar sesuatu, dan yang di sini disumpahkan.
Kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari pertanyaan di 86:2, dan menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis. Jawabannya menempel langsung pada pertanyaannya tanpa jeda.
Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebut menembus apa, tidak disebut dari mana ia datang, dan tidak disebut ke mana ia pergi. Yang disebut cuma sifatnya. Sebuah jawaban yang menambah sifat tanpa menambah keterangan meninggalkan pertanyaannya hampir sebagaimana semula, dan itulah yang dikerjakannya di sini.
Kedua kata di dalam jawaban ini bertakrif, sehingga yang disebut bukan sembarang benda langit melainkan yang sudah tertentu. Ketertentuan itu sejalan dengan ketertentuan pada namanya di 86:1 dan 86:2, dan tiga ayat berturut-turut seluruhnya memakai kata sandang.
Renungan dan Hikmah
- Kata sifat di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 37:10 dan 86:3. Di 37:10 Allah memakainya untuk bintang menyala yang menembus, dalam kalimat tentang yang mengejar pencuri pendengaran. Jadi kedua pemakaian akar ini menyebut benda langit yang menembus, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kelangkaan sebuah akar membuat tiap pemakaiannya lebih berbobot, sebab tidak ada banyak tempat lain yang bisa dipakai untuk melunakkan gambarannya.
- Jawaban atas pertanyaan di ayat sebelumnya cuma dua kata, dan keduanya berbentuk kata benda tanpa kata kerja. Jadi jawaban atas pertanyaan yang menyatakan ketidakterjangkauan ternyata sependek itu, dan tidak satu pun di antaranya menerangkan mengapa ia tidak terjangkau. Yang ditambahkan Allah sifat, bukan keterangan. Jawaban yang sependek dua kata menuntut pembacanya menimbang tiap katanya, sebab tidak ada kata lain di dalamnya yang bisa dipakai sebagai penyangga.
- Allah tidak menyebutkan menembus apa, tidak menyebutkan dari mana ia datang, dan tidak menyebutkan ke mana ia pergi. Yang disebut cuma sifatnya. Sebuah jawaban yang menambah sifat tanpa menambah keterangan meninggalkan pertanyaannya hampir sebagaimana semula. Apa yang sebenarnya bertambah pada pengetahuan seseorang ketika ia diberi satu sifat saja? Menyebut sifat tanpa menyebut keterangan membuat pertanyaannya tetap hidup sesudah dijawab, dan itu berbeda dari jawaban yang menutup pertanyaannya.
- Kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari pertanyaan di ayat sebelumnya, dan menambahkan kata pembuka yang tidak ada di Arabnya akan mengubah hubungan antarayat menjadi lebih longgar daripada yang tertulis. Jawabannya menempel langsung pada pertanyaannya tanpa jeda, dan kerapatan itu bagian dari caranya bekerja. Kalimat yang menempel langsung tanpa kata sambung terbaca lebih rapat daripada kalimat yang dipisahkan, dan kerapatan itu bagian dari susunannya.
- Di 37:10 benda yang memakai kata sifat ini digambarkan mengejar sesuatu, dan di sini ia disumpahkan Allah. Jadi satu jenis benda berdiri sebagai pengejar di satu tempat dan sebagai saksi di tempat lain. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua kedudukan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa akarnya cuma hidup di dua ayat. Satu benda yang berdiri di dua kedudukan berbeda di dua tempat menerangkan bahwa yang menentukan bukan bendanya melainkan letaknya di dalam kalimat.
- Ayat ini menutup bagian pertama surahnya. Tiga ayat pertama seluruhnya tentang benda langit, dan mulai 86:4 pembicaraannya berpindah kepada jiwa manusia. Allah tidak memberi satu pun kalimat penghubung untuk perpindahan itu. Yang di langit dan yang di dalam diri diletakkan berdampingan, dan pembacanya sendiri yang harus mencari sambungannya. Perpindahan dari langit kepada diri manusia tanpa kata penghubung membuat pembacanya sendiri yang harus mencari sambungan antara keduanya.