إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
Tidak ada satu jiwa pun melainkan atasnya ada penjaga.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنْ كُلُّ نَفْسٍ لَمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌin kullu nafsin lammaa 'alayhaa haafizhuntidak ada satu jiwa pun melainkan atasnya ada penjaga
Terjemahan per kata (6 kata)
- إِنْinjika
- كُلُّkullusetiap
- نَفْسٍnafsinjiwa
- لَمَّاlammaaketika
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- حَافِظٌhaafizhunpenjaga
Inti bacaan
Sistem pengawasan universal: 'tidak ada satu jiwa pun melainkan atasnya ada penjaga', jaminan bahwa setiap individu, tanpa kecuali, berada di bawah pengawasan yang konsisten, dasar bagi akuntabilitas menyeluruh.
Penjelasan pilihan kata
Kata (حَافِظٌ, haafizhun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk tak bertakrif ini. Akarnya berarti menjaga. Ia dipakai di 42 ayat, antara lain 2:238, 4:34, 6:61, 12:12, dan 15:9. Di 15:9 akar itu dipakai untuk penjagaan atas peringatan yang diturunkan, dan di 6:61 untuk penjaga-penjaga yang dikirim atas manusia.
Bentuknya bentuk pelaku dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan penjaga tertentu yang sudah dikenal melainkan penjaga mana pun yang sesuai gambarannya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga, sebab menyebutkannya sebagai yang tertentu akan menambah keterangan yang tidak ada di Arabnya. Kata (حَافِظٌ, haafizhun) tidak didahului kata sandang, dan ketiadaannya itu yang menentukan bacaannya.
Susunan kalimatnya juga patut dicatat. Ia berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada satu jiwa pun kecuali atasnya ada penjaga. Susunan yang menyatakan sesuatu lewat dua pengingkaran seperti itu lebih kuat daripada pernyataan biasa, sebab ia menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.
Kata (نَفْسٍ, nafsin) tidak bertakrif dan didahului kata yang berarti setiap. Jadi yang disebut tiap jiwa tanpa kecuali, bukan jiwa tertentu. Bandingkan dengan 91:7, tempat kata yang sama juga tidak bertakrif dan berdiri sebagai isi sumpah. Jadi dua surah memakai kata yang sama tanpa kata sandang untuk maksud yang sama, yaitu jiwa mana pun.
Ayat ini jawaban bagi sumpah di 86:1, dan letaknya sesudah pertanyaan dan jawabannya di 86:2 dan 86:3. Jadi yang disumpahkan benda langit, dan yang disumpahkan atasnya perkara di dalam diri manusia. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan antara keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya diletakkan berdampingan.
Huruf lam di depan kata terakhir huruf penegas, sehingga (حَافِظٌ, haafizhun) tidak cuma dinyatakan ada melainkan dinyatakan pasti ada. Jadi ayat ini memikul dua penguatan sekaligus: susunan pengingkaran yang disusul pengecualian, dan huruf penegas di depan kata terakhirnya. Dua penguatan di dalam satu ayat pendek jarang dipakai, dan yang dikuatkan di sini justru sesuatu yang tidak bisa dilihat siapa pun.
Kata (نَفْسٍ, nafsin) dan kata (حَافِظٌ, haafizhun) sama-sama tidak bertakrif dan berdiri berhadapan di dalam satu kalimat. Jadi setiap jiwa yang mana pun berhadapan dengan penjaga yang mana pun, dan tidak ada satu pun di antara keduanya yang dinamai. Al-Qur'an menyatakan hubungan itu tanpa menamai kedua pihaknya, dan yang dinyatakan cuma bahwa hubungan itu berlaku tanpa kecuali.
Bentuk (حَافِظٌ, haafizhun) berbentuk tunggal, sehingga yang dinyatakan satu penjaga bagi tiap jiwa, bukan beberapa. Bandingkan dengan 6:61 yang memakai bentuk jamak untuk penjaga-penjaga. Jadi Al-Qur'an memakai kedua bilangan itu di dua tempat, dan yang di sini memilih yang tunggal tanpa menerangkan mengapa.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa setiap jiwa senantiasa diawasi, dan ia menjadi jawaban bagi sumpah di 86:1. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk tak bertakrif ini. Akarnya dipakai di 42 ayat, antara lain 2:238, 4:34, 6:61, 12:12, dan 15:9.
Di 15:9 akar itu dipakai untuk penjagaan atas peringatan yang diturunkan, dan di 6:61 untuk penjaga-penjaga yang dikirim atas manusia. Jadi akar yang sama menyebut penjagaan atas yang diturunkan dan penjagaan atas yang menerimanya.
Susunan kalimatnya berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada satu jiwa pun kecuali atasnya ada penjaga. Susunan yang menyatakan sesuatu lewat dua pengingkaran seperti itu lebih kuat daripada pernyataan biasa, sebab ia menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.
Yang disumpahkan di 86:1 benda langit, dan yang disumpahkan atasnya perkara di dalam diri manusia. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan antara keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya diletakkan berdampingan. Yang paling jauh dipakai sebagai saksi bagi yang paling dekat.
Huruf lam di depan kata terakhir huruf penegas, sehingga penjaga itu tidak cuma dinyatakan ada melainkan dinyatakan pasti ada. Jadi ayat ini memikul dua penguatan sekaligus, dan susunan berlapis yang sama dipakai di 86:8 dan 86:13.
Renungan dan Hikmah
- Susunan kalimatnya berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada satu jiwa pun kecuali atasnya ada penjaga. Susunan yang menyatakan sesuatu lewat dua pengingkaran seperti itu lebih kuat daripada pernyataan biasa, sebab ia menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan seseorang. Menutup kemungkinan sebelum ia dibayangkan berbeda dari membantahnya sesudah ia diucapkan, dan yang pertama tidak meninggalkan celah untuk dibantah.
- Bentuk kata terakhir bentuk pelaku dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan penjaga tertentu yang sudah dikenal melainkan penjaga mana pun yang sesuai gambarannya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga, sebab menyebutkannya sebagai yang tertentu akan menambah keterangan yang tidak ada di Arabnya. Allah menyebut adanya, bukan siapanya. Menyebut adanya tanpa menyebut siapanya menjaga pernyataannya tetap berlaku tanpa bergantung pada pengenalan pembacanya terhadap pihak yang dimaksud.
- Akar kata terakhir dipakai di 42 ayat, antara lain 2:238, 4:34, 6:61, 12:12, dan 15:9. Di 15:9 Allah memakainya untuk penjagaan atas peringatan yang diturunkan, dan di 6:61 untuk penjaga-penjaga yang dikirim atas manusia. Jadi akar yang sama menyebut penjagaan atas yang diturunkan dan penjagaan atas yang menerimanya. Satu akar yang menjaga yang diturunkan dan yang menerimanya sekaligus menerangkan bahwa penjagaan itu berlaku pada dua arah, bukan pada satu arah saja.
- Kata untuk jiwa tidak bertakrif dan didahului kata yang berarti setiap. Jadi yang disebut tiap jiwa tanpa kecuali. Bandingkan dengan 91:7, tempat kata yang sama juga tidak bertakrif dan berdiri sebagai isi sumpah. Jadi dua surah memakai kata yang sama tanpa kata sandang untuk maksud yang sama, yaitu jiwa mana pun yang membacanya. Kata tanpa kata sandang yang didahului kata yang berarti setiap menutup seluruh kemungkinan pengecualian, dan penutupan itu dikerjakan bentuk katanya sendiri.
- Yang disumpahkan di ayat pertama benda langit, dan yang disumpahkan atasnya perkara di dalam diri manusia. Allah tidak menerangkan hubungan antara keduanya dengan satu kalimat pun. Yang paling jauh dipakai sebagai saksi bagi yang paling dekat, dan pembacanya sendiri yang harus mencari apa yang menyatukan keduanya. Menyandingkan yang terjauh dengan yang terdekat tanpa kata penghubung memaksa pembacanya menimbang sendiri apa yang menyatukan keduanya di dalam satu ayat.
- Kata yang dipakai Allah berarti menjaga, dan akar yang sama dipakai untuk memelihara sesuatu supaya tidak hilang. Menjaga berbeda dari mengawasi: yang mengawasi mencari kesalahan, dan yang menjaga menahan supaya tidak rusak. Apa yang berubah pada rasa seseorang ketika ia tahu ada yang menjaganya, bukan cuma ada yang mengawasinya? Perbedaan antara menjaga dan mengawasi terbawa di dalam akar katanya, dan perbedaan itu menentukan bagaimana pernyataan ini diterima oleh yang membacanya.