فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ
Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَfa-l-yanzhuri l-insaanu mimma khuliqamaka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَلْيَنْظُرِfa-l-yanzhurimaka hendaklah memperhatikan
- الْإِنْسَانُl-insaanumanusia
- مِمَّmimmadari apa
- خُلِقَkhuliqadiciptakan
Inti bacaan
Ajakan refleksi tentang asal-usul: 'maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa dia diciptakan', undangan merenungkan proses penciptaan diri sendiri sebagai dasar kerendahan hati.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri) berbentuk perintah lewat huruf lam, bukan perintah langsung. Bentuk itu dipakai untuk menyuruh pihak ketiga, sehingga yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan manusia yang dibicarakan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "hendaklah manusia", memakai kata hendaklah untuk menahan bentuk yang sama.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaanu) memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 99:3, 100:6, dan 95:4, dan di keempat tempat itu pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya.
Rangkaian (مِمَّ خُلِقَ, mimma khuliqa) berbentuk pertanyaan yang menjadi objek bagi kata kerja pertamanya. Jadi yang diperintahkan bukan sekadar memperhatikan melainkan memperhatikan jawaban atas sebuah pertanyaan. Susunan itu menaruh perintah dan pertanyaan di dalam satu kalimat pendek.
Kata kerja (خُلِقَ, khuliqa) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menciptakannya. Bentuk yang sama diulang di awal 86:6, dan di sana pun pelakunya tidak disebut. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut penciptaan tanpa menyebut Yang menciptakan, dan nama-Nya baru terbaca dari 86:8 lewat kata ganti.
Yang diperintahkan di ayat ini menoleh ke belakang, bukan ke depan. Bandingkan dengan 86:8 dan 86:9 yang menoleh ke depan, kepada pengembalian dan hari diuji. Jadi surah ini menyuruh memperhatikan asal-usul lebih dulu, dan baru sesudah itu menyebut apa yang akan datang. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun.
Huruf fa di depan kata kerja pertama menyambungkan ayat ini kepada 86:4, sehingga (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri) terbaca sebagai akibat dari pernyataan sebelumnya. Jadi perintah memperhatikan itu datang karena ada penjaga atas tiap jiwa, bukan berdiri sendiri. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan sebab itu dengan kalimat tersendiri, dan yang menandainya cuma satu huruf di awal ayat.
Kata (الْإِنْسَانُ, al-insaanu) di sini menjadi pelaku, berbeda dari kedudukannya di 86:4 yang tidak disebut sama sekali. Jadi ayat sebelumnya berbicara tentang jiwa dan ayat ini tentang manusia, dan kedua kata itu tidak dipertukarkan. Perbedaan pilihan kata di dua ayat berurutan patut dicatat, sebab yang pertama menyebut bagian yang tersembunyi dan yang kedua menyebut wujudnya yang utuh.
Bentuk (خُلِقَ, khuliqa) berbentuk lampau, sehingga yang ditanyakan sesuatu yang sudah selesai terjadi. Jadi yang diperintahkan memperhatikan perkara yang tidak bisa diubah lagi, bukan perkara yang masih berlangsung. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam bentuk katanya dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Akar kata kerja pertamanya berarti memandang. Akar itu dipakai di 115 ayat, antara lain 6:11, 7:185, 50:6, 80:24, dan 88:17. Di 6:11 dan 50:6 akar itu dipakai untuk perintah memperhatikan sesuatu yang terbentang di luar diri, sedangkan bentuk (فَلْيَنْظُرِ, fa-l-yanzhuri) di sini mengarahkannya ke dalam. Jadi akar yang biasanya menyuruh menoleh ke sekeliling, di sini menyuruh menoleh kepada asal-usul yang membaca sendiri.
Tafsiran
Ayat ini memerintahkan manusia memperhatikan asal-usulnya, dan bentuk perintahnya lewat huruf lam, bukan perintah langsung. Bentuk itu dipakai untuk menyuruh pihak ketiga, sehingga yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan manusia yang dibicarakan.
Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis, bukan satu orang tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 95:4, 99:3, dan 100:6, dan di keempat tempat itu pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya.
Kata kerja keduanya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menciptakannya. Bentuk yang sama diulang di awal 86:6, dan di sana pun pelakunya tidak disebut. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut penciptaan tanpa menyebut Yang menciptakan, dan nama-Nya baru terbaca dari 86:8 lewat kata ganti.
Yang diperintahkan di ayat ini menoleh ke belakang, bukan ke depan. Bandingkan dengan 86:8 dan 86:9 yang menoleh ke depan, kepada pengembalian dan hari diuji. Jadi surah ini menyuruh memperhatikan asal-usul lebih dulu, dan baru sesudah itu menyebut apa yang akan datang. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu dengan satu kalimat pun.
Huruf di depan kata kerja pertama menyambungkan ayat ini kepada 86:4, sehingga perintah memperhatikan itu datang sebagai akibat dari pernyataan sebelumnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan sebab itu dengan kalimat tersendiri.
Renungan dan Hikmah
- Bentuk perintah di ayat ini lewat huruf lam, bukan perintah langsung. Bentuk itu dipakai Allah untuk menyuruh pihak ketiga, sehingga yang disuruh bukan orang yang sedang disapa melainkan manusia yang dibicarakan. Sebuah perintah yang dialamatkan kepada jenis, bukan kepada seseorang, tidak bisa dianggap ditujukan kepada orang lain oleh siapa pun yang membacanya. Perintah yang dialamatkan kepada jenis tidak menyediakan celah bagi siapa pun untuk menganggapnya ditujukan kepada orang lain yang bukan dirinya.
- Yang diperintahkan Allah di ayat ini menoleh ke belakang, bukan ke depan. Bandingkan dengan 86:8 dan 86:9 yang menoleh ke depan, kepada pengembalian dan hari diuji. Jadi surah ini menyuruh memperhatikan asal-usul lebih dulu, dan baru sesudah itu menyebut apa yang akan datang. Apa yang lebih menerangkan tentang tujuan seseorang daripada dari mana ia berasal? Menoleh ke belakang lebih dulu menyiapkan pembacanya menerima apa yang disebut di depan, dan urutan itu berulang di beberapa surah pendek lainnya.
- Kata kerja keduanya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menciptakannya. Bentuk yang sama diulang di awal 86:6, dan di sana pun pelakunya tidak disebut. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut penciptaan tanpa menyebut Yang menciptakan, dan nama-Nya baru terbaca dari 86:8 lewat kata ganti yang menunjuk kepada-Nya. Menyembunyikan pelaku di dalam bentuk pasif menahan perhatian pada perbuatannya, dan penahanan itu berlangsung selama empat ayat berturut-turut.
- Rangkaian terakhir ayat ini berbentuk pertanyaan yang menjadi objek bagi kata kerja pertamanya. Jadi yang diperintahkan bukan sekadar memperhatikan melainkan memperhatikan jawaban atas sebuah pertanyaan. Allah menaruh perintah dan pertanyaan di dalam satu kalimat pendek, dan pembacanya harus menjawab dulu sebelum bisa melaksanakannya. Menaruh perintah dan pertanyaan di dalam satu kalimat pendek membuat keduanya tidak bisa dikerjakan terpisah oleh siapa pun yang membacanya.
- Kata untuk manusia memakai kata sandang, sehingga yang disebut manusia sebagai jenis. Bentuk yang sama dipakai Allah di 95:4, 99:3, dan 100:6, dan di keempat tempat itu pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya. Jadi tidak ada satu pun golongan yang dikecualikan dari perintah memperhatikan asal-usulnya sendiri. Kata sandang pada kata untuk manusia membuat pernyataannya berlaku bagi seluruh jenisnya, dan tidak ada satu pun golongan yang dikecualikan darinya.
- Kata kerja yang dipakai berarti memperhatikan dengan mata dan pikiran, bukan sekadar mengetahui. Yang diperintahkan Allah bukan menambah pengetahuan melainkan menoleh kepada sesuatu yang sudah diketahui semua orang. Yang sudah diketahui dan tidak pernah diperhatikan berbeda dari yang belum diketahui, dan yang pertama justru lebih sulit digerakkan. Yang sudah diketahui dan tidak pernah diperhatikan lebih sulit digerakkan daripada yang belum diketahui, sebab pengetahuan tentangnya sudah dianggap selesai.