خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ
Dia diciptakan dari air yang memancar,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍkhuliqa min maa'in daafiqindia diciptakan dari air yang memancar
Terjemahan per kata (4 kata)
- خُلِقَkhuliqadiciptakan
- مِنْmindari
- مَاءٍmaa'inair
- دَافِقٍdaafiqinyang memancar
Inti bacaan
Detail proses biologis: 'dia diciptakan dari air yang memancar', deskripsi konkret asal-usul fisik yang sederhana, pengingat tentang permulaan yang rendah hati.
Penjelasan pilihan kata
Kata (دَافِقٍ, daafiqin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti memancar deras. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Bentuknya bentuk pelaku, sehingga yang disebut air yang memancar, bukan air yang dipancarkan. Perbedaan itu perlu dijaga: bentuk pelaku menaruh geraknya pada bendanya sendiri. Bahasa Indonesia menahannya dengan "air yang memancar", memakai bentuk aktif untuk menahan bentuk aktif yang sama. Kata (دَافِقٍ, daafiqin) mengikuti bendanya dalam baris dan dalam ketakbertakrifannya.
Kata kerja (خُلِقَ, khuliqa) diulang dari 86:5, dan di kedua ayat ia berbentuk pasif tanpa menyebut pelakunya. Jadi pertanyaannya di 86:5 dan jawabannya di sini memakai kata kerja yang sama persis. Pengulangan utuh itu mengikat kedua ayat menjadi satu tarikan, dan jawabannya menempel langsung pada pertanyaannya.
Kata (مَاءٍ, maa-in) tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan air tertentu yang sudah dikenal melainkan air yang sesuai gambarannya. Ketiadaan kata sandang itu sejalan dengan seluruh susunannya, yang tidak memberi keterangan lebih dari yang perlu.
Yang disebut sebagai asal-usul manusia di ayat ini bukan sesuatu yang mulia menurut ukuran orang, melainkan sesuatu yang paling sederhana. Bandingkan dengan 86:8 yang menyebut kuasa mengembalikannya. Jadi surah ini menaruh asal yang paling rendah dan kuasa yang paling besar berdampingan dalam jarak dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Huruf min di depan kata (مَاءٍ, maa-in) menyatakan asal, sehingga yang dinyatakan bahannya, bukan tempatnya. Bandingkan dengan 86:7 yang memakai huruf lain untuk menyatakan tempat keluarnya. Jadi dua ayat berurutan memakai dua huruf yang berbeda untuk dua hubungan yang berbeda, dan pembacanya mendapat bahan lebih dulu dan tempatnya belakangan. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu.
Bentuk (دَافِقٍ, daafiqin) mengikuti kata sebelumnya dalam ketakbertakrifan dan dalam barisnya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi sifatnya tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada bendanya. Susunan benda tanpa takrif yang disusul sifat tanpa takrif dipakai juga di 86:4 dan 86:10, dan di ketiga tempat itu yang dinyatakan jenis, bukan sesuatu yang sudah dikenal namanya.
Kata (مَاءٍ, maa-in) dipakai di banyak tempat di dalam Al-Qur'an untuk air yang turun dari langit, antara lain di 2:22 dan 16:65. Jadi kata yang biasanya menyebut air yang menghidupkan bumi, di sini menyebut asal manusia. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pertanyaan di 86:5, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Bentuknya bentuk pelaku, sehingga yang disebut air yang memancar, bukan air yang dipancarkan. Perbedaan itu perlu dijaga: bentuk pelaku menaruh geraknya pada bendanya sendiri, dan terjemahannya menahan bentuk aktif yang sama.
Kata kerja pertamanya diulang dari 86:5, dan di kedua ayat ia berbentuk pasif tanpa menyebut pelakunya. Jadi pertanyaannya di 86:5 dan jawabannya di sini memakai kata kerja yang sama persis. Pengulangan utuh itu mengikat kedua ayat menjadi satu tarikan, dan jawabannya menempel langsung pada pertanyaannya.
Yang disebut sebagai asal-usul manusia di ayat ini bukan sesuatu yang mulia menurut ukuran orang, melainkan sesuatu yang paling sederhana. Bandingkan dengan 86:8 yang menyebut kuasa mengembalikannya. Jadi surah ini menaruh asal yang paling rendah dan kuasa yang paling besar berdampingan dalam jarak dua ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Huruf di depan kata untuk air menyatakan asal, sehingga yang dinyatakan bahannya, bukan tempatnya. Bandingkan dengan 86:7 yang memakai huruf yang sama untuk menyatakan tempat keluarnya, dan yang membedakannya kata kerja di depannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksud Allah dengannya. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk sekaligus sebagai akar tidak punya pembanding di dalam korpusnya, dan itu membuat pembacanya bergantung pada satu ayat saja.
- Bentuk kata terakhir bentuk pelaku, sehingga yang disebut air yang memancar, bukan air yang dipancarkan. Perbedaan itu perlu dijaga: bentuk pelaku menaruh geraknya pada bendanya sendiri. Terjemahannya menahan bentuk aktif yang sama, dan menggantinya dengan bentuk pasif akan memindahkan gerak itu kepada pihak yang tidak disebut. Bentuk pelaku menaruh geraknya pada bendanya sendiri, dan menggantinya dengan bentuk pasif akan memindahkan gerak itu kepada pihak yang tidak disebut sama sekali.
- Kata kerja pertama diulang dari 86:5, dan di kedua ayat ia berbentuk pasif tanpa menyebut pelakunya. Jadi pertanyaannya di ayat sebelumnya dan jawabannya di sini memakai kata kerja yang sama persis. Pengulangan utuh itu mengikat kedua ayat menjadi satu tarikan, dan jawabannya menempel langsung pada pertanyaannya tanpa jeda. Mengulang kata kerja yang sama persis di pertanyaan dan jawabannya mengikat keduanya menjadi satu tarikan yang tidak bisa dibaca terpisah.
- Yang disebut Allah sebagai asal-usul manusia bukan sesuatu yang mulia menurut ukuran orang, melainkan sesuatu yang paling sederhana. Bandingkan dengan 86:8 yang menyebut kuasa mengembalikannya. Jadi surah ini menaruh asal yang paling rendah dan kuasa yang paling besar berdampingan dalam jarak dua ayat, tanpa satu kalimat pun yang menghubungkannya. Menyandingkan asal yang paling rendah dengan kuasa yang paling besar dalam jarak dua ayat menaruh keduanya di dalam satu pandangan yang sama.
- Kata untuk air tidak bertakrif, sehingga yang disebut bukan air tertentu yang sudah dikenal melainkan air yang sesuai gambarannya. Ketiadaan kata sandang itu sejalan dengan seluruh susunannya, yang tidak memberi keterangan lebih dari yang perlu. Yang disebut cuma sifatnya, dan sifat itu memancarnya, bukan jumlahnya atau warnanya. Menyebut satu sifat saja dan meninggalkan yang lain membuat sifat itu yang tinggal, dan di sini sifat yang dipilih geraknya, bukan bentuk atau ukurannya.
- Perintah di 86:5 menyuruh memperhatikan, dan yang didapati sesudah memperhatikan ternyata sesuatu yang sederhana sekali. Apa yang berubah pada cara seseorang memandang dirinya ketika ia benar-benar menoleh kepada asal-usulnya? Allah menyuruh menoleh dan menyediakan jawabannya di ayat yang sama panjangnya, tanpa satu pun keterangan tambahan. Menoleh kepada asal-usul yang sederhana mengubah cara seseorang menimbang dirinya, dan itulah yang diminta perintah di ayat sebelumnya.