يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
Yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِyakhruju min bayni sh-shulbi wa-t-taraa'ibiyang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَخْرُجُyakhrujukeluar
- مِنْmindari
- بَيْنِbayniantara
- الصُّلْبِsh-shulbitulang sulbi
- وَالتَّرَائِبِwa-t-taraa'ibidan tulang dada
Inti bacaan
Lokasi spesifik yang detail: 'yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada', presisi anatomis yang menegaskan pengetahuan mendalam tentang proses biologis, bukan deskripsi kasar tanpa detail.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الصُّلْبِ, ash-shulbi) berasal dari akar yang berarti tulang punggung. Akar itu dipakai di 8 ayat, yaitu 4:23, 4:157, 5:33, 7:124, 12:41, 20:71, 26:49, dan ayat ini. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa enam di antaranya memakai akar itu untuk menyalib, yaitu di 4:157, 5:33, 7:124, 12:41, 20:71, dan 26:49.
Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut penyaliban, di sini dipakai untuk tulang punggung. Cuma 4:23 dan ayat ini yang memakainya begitu, dan di 4:23 tertulis (أَصْلَابِكُمْ, ashlaabikum) dalam pembicaraan tentang keturunan. Yang menyatukan kedua makna itu keras dan tegaknya sesuatu, sebab tulang punggung yang menegakkan tubuh dan kayu yang dipakai menyalib sama-sama keras.
Kata (وَالتَّرَائِبِ, wa-t-taraa-ibi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti tanah dan debu. Ia dipakai di 22 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia memberi kata untuk tanah, antara lain di 3:59, 13:5, 18:37, dan 22:5. Jadi akar yang hampir selalu menyebut tanah, di sini dipakai untuk tulang dada.
Kesejajaran itu patut dicatat. Di 3:59 dan 22:5 tanah disebut sebagai asal penciptaan manusia, dan di sini akar yang sama menyebut bagian tubuh yang darinya sesuatu keluar. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya.
Kata kerja (يَخْرُجُ, yakhruju) berbentuk sekarang, berbeda dari (خُلِقَ, khuliqa) di 86:5 dan 86:6 yang keduanya berbentuk lampau dan pasif. Jadi ayat ini berpindah dari yang sudah terjadi kepada yang berlangsung terus. Perubahan itu tidak diterangkan, dan yang bisa dicatat cuma bahwa penciptaan disebut sebagai selesai sedangkan keluarnya disebut sebagai berulang.
Huruf min di depan (الصُّلْبِ, ash-shulbi) menyatakan tempat keluar, berbeda dari huruf yang sama di 86:6 yang menyatakan bahan. Jadi satu huruf dipakai untuk dua hubungan yang berlainan di dua ayat berurutan, dan yang membedakannya kata kerja di depannya. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan pembacanya sampai kepadanya lewat kata kerja yang mendahuluinya.
Bentuk (وَالتَّرَائِبِ, wa-t-taraa-ibi) berbentuk jamak, sedangkan kata sebelumnya berbentuk tunggal. Jadi yang disebut satu bagian di satu sisi dan beberapa bagian di sisi lain. Perbedaan bilangan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan. Bahasa Indonesia menahannya dengan bentuk jamak pada kata keduanya, mengikuti apa yang tertulis.
Bentuk (يَخْرُجُ, yakhruju) berbentuk sekarang dan berorang ketiga tunggal, dan pelakunya air yang disebut di 86:6. Jadi kalimat di ayat ini menyambung langsung kepada ayat sebelumnya tanpa mengulang bendanya. Penyambungan lewat bentuk kata seperti itu mengikat kedua ayat menjadi satu kalimat panjang.
Tafsiran
Ayat ini merinci sumber air tersebut secara anatomis, dan kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 8 ayat, yaitu 4:23, 4:157, 5:33, 7:124, 12:41, 20:71, 26:49, dan ayat ini. Enam di antaranya memakai akar itu untuk menyalib.
Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut penyaliban, di sini dipakai untuk tulang punggung. Cuma 4:23 dan ayat ini yang memakainya begitu. Yang menyatukan kedua makna itu keras dan tegaknya sesuatu, sebab tulang punggung yang menegakkan tubuh dan kayu yang dipakai menyalib sama-sama keras.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 22 ayat. Di sebagian besar pemakaiannya ia memberi kata untuk tanah, antara lain di 3:59, 13:5, 18:37, dan 22:5. Jadi akar yang hampir selalu menyebut tanah, di sini dipakai untuk tulang dada.
Kesejajaran itu patut dicatat. Di 3:59 dan 22:5 tanah disebut sebagai asal penciptaan manusia, dan di sini akar yang sama menyebut bagian tubuh yang darinya sesuatu keluar. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya sendiri.
Kata keduanya berbentuk jamak, sedangkan kata sebelumnya berbentuk tunggal. Jadi yang disebut satu bagian di satu sisi dan beberapa bagian di sisi lain, dan perbedaan bilangan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa kata tambahan.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata pertama dipakai di 8 ayat, yaitu 4:23, 4:157, 5:33, 7:124, 12:41, 20:71, 26:49, dan 86:7. Enam di antaranya memakai akar itu untuk menyalib. Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut penyaliban, di sini dipakai Allah untuk tulang punggung, dan yang menyatukan keduanya keras dan tegaknya sesuatu. Satu akar yang hampir selalu berarti hal lain dan sekali berarti hal ini menerangkan bahwa gambaran akarnya lebih pokok daripada padanan katanya.
- Kata kedua muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 22 ayat. Di sebagian besar pemakaiannya ia memberi kata untuk tanah, antara lain di 3:59, 13:5, 18:37, dan 22:5. Jadi akar yang hampir selalu menyebut tanah, di sini dipakai untuk tulang dada, dan di 3:59 serta 22:5 tanah itu sendiri disebut sebagai asal penciptaan manusia. Kesejajaran antara kata untuk tanah dan bagian tubuh ini tidak dinyatakan Al-Qur'an, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berbagi satu akar.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, berbeda dari kata kerja di 86:5 dan 86:6 yang keduanya berbentuk lampau dan pasif. Jadi ayat ini berpindah dari yang sudah terjadi kepada yang berlangsung terus. Allah menyebut penciptaan sebagai selesai dan keluarnya sebagai berulang, dan perubahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Berpindah dari bentuk lampau ke bentuk sekarang memindahkan pembicaraan dari yang selesai kepada yang masih berjalan, dan perpindahan itu tidak diterangkan.
- Yang disebut dua bagian tubuh yang saling berhadapan, yaitu yang di belakang dan yang di depan. Jadi Allah menyebut tempatnya dengan menyebut dua batas yang mengapitnya, bukan dengan menyebut satu titik. Menyebut sesuatu lewat dua batasnya menerangkan letaknya tanpa perlu menamainya, dan cara itu dipakai justru pada perkara yang paling tersembunyi. Menyebut sesuatu lewat dua batas yang mengapitnya menerangkan letaknya tanpa perlu menamainya, dan cara itu menjaga penyebutannya tetap terang.
- Kedua kata pokok di ayat ini berasal dari akar yang di tempat lain hampir selalu berarti hal lain: yang pertama menyalib dan yang kedua tanah. Jadi Allah memakai dua akar yang sudah punya makna tetap di seluruh Al-Qur'an untuk menyebut dua bagian tubuh. Apa yang membuat sebuah akar bisa dipindahkan maknanya tanpa kehilangan gambarannya? Sebuah akar bisa dipindahkan maknanya tanpa kehilangan gambarannya, sebab yang tetap bukan padanan katanya melainkan bentuk yang dibayangkan olehnya.
- Ayat ini menyebut perkara yang paling tersembunyi pada manusia dengan kata-kata yang terang dan tanpa kiasan. Allah tidak memakai perumpamaan dan tidak memakai sindiran. Yang paling tidak dibicarakan orang disebut apa adanya, dan penyebutan yang terang itu bagian dari perintah memperhatikan di 86:5 yang mendahuluinya. Menyebut yang paling tersembunyi dengan kata yang terang menjadikannya bahan pemikiran, bukan bahan pembicaraan yang harus disamarkan.