إِنَّهُ عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌ
Sesungguhnya Dia benar-benar kuasa untuk mengembalikannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُ عَلَىٰ رَجْعِهِ لَقَادِرٌinnahu 'alaa raj'ihi la-qaadirunsesungguhnya Dia benar-benar kuasa untuk mengembalikannya
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
- عَلَىٰ'alaaatas
- رَجْعِهِraj'ihimengembalikannya
- لَقَادِرٌla-qaadirunbenar-benar Mahakuasa
Inti bacaan
Argumen kebangkitan dari kemampuan penciptaan awal: 'sesungguhnya Dia benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup setelah mati)', logika bahwa yang mampu menciptakan dari proses sederhana pasti mampu mengulangi proses tersebut.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(Allah)" dan "(hidup setelah mati)" tidak dipakai. Kata (قَادِرٌ, qaadirun) berbentuk tak bertakrif bertanwin dan dipertahankan dengan huruf kecil sebagai "kuasa", konsisten dengan disiplin yang sama di seluruh proyek. Kata ganti di awal ayat tidak dinamai, dan penamaannya akan menambah sesuatu yang tidak ada di Arabnya.
Kata (رَجْعِهِ, raj'ihi) berasal dari akar yang berarti kembali. Akar itu dipakai di 103 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah pendek ini, yaitu di ayat ini dan di 86:11, dan kedua pemakaiannya berbeda maksudnya.
Di sini ia menyebut pengembalian manusia, dan di 86:11 ia menyebut sesuatu yang dimiliki langit. Jadi satu akar dipakai untuk pengembalian yang menyangkut manusia dan pengembalian yang berulang di langit. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan letak keduanya berjarak tiga ayat.
Kata ganti pada ujung (رَجْعِهِ, raj'ihi) berbentuk laki-laki tunggal, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang. Yang paling dekat letaknya manusia di 86:5, dan yang lain air di 86:6. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.
Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas pengembaliannya lebih dulu, baru kata yang menyatakan kuasa. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini bukan bahwa Dia kuasa melainkan atas apa kuasa-Nya tertuju. Kata (قَادِرٌ, qaadirun) karena itu jatuh di ujung kalimat, sesudah keterangan yang mendahuluinya.
Huruf inna di awal ayat huruf penegas, dan bersama huruf lam di depan kata terakhir ia membentuk dua penguatan sekaligus. Jadi (قَادِرٌ, qaadirun) dinyatakan dengan susunan yang paling kuat yang tersedia di dalam bahasanya. Susunan penguatan berlapis seperti itu dipakai juga di 86:4 dan 86:13, dan di ketiga tempat itu yang dikuatkan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata.
Bentuk (رَجْعِهِ, raj'ihi) kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perbuatannya sebagai perkara, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung. Jadi Al-Qur'an tidak berkata bahwa Dia akan mengembalikannya melainkan bahwa Dia kuasa atas pengembaliannya. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab yang dinyatakan kuasanya, dan waktunya tidak disebut sama sekali di dalam ayat ini.
Kata (قَادِرٌ, qaadirun) bentuk pelaku, bukan bentuk yang menyatakan berlebih-lebihan. Jadi yang dinyatakan kuasanya, bukan bahwa kuasa-Nya melebihi kuasa yang lain. Bandingkan dengan bentuk lain dari akar yang sama yang dipakai di tempat lain, dan pilihan bentuk di sini yang paling sederhana di antaranya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kuasa Allah membangkitkan kembali manusia yang telah diciptakan-Nya, dan kata yang menyebut pengembaliannya berasal dari akar yang dipakai di 103 ayat. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah pendek ini, yaitu di ayat ini dan di 86:11, dan kedua pemakaiannya berbeda maksudnya.
Di sini ia menyebut pengembalian manusia, dan di 86:11 ia menyebut sesuatu yang dimiliki langit. Jadi satu akar dipakai untuk pengembalian yang menyangkut manusia dan pengembalian yang berulang di langit. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan letak keduanya berjarak tiga ayat.
Kata ganti di awal ayat tidak dinamai, dan penamaannya akan menambah sesuatu yang tidak ada di Arabnya. Kata ganti pada ujung kata keduanya juga tidak dinyatakan dengan terang rujukannya. Yang paling dekat letaknya manusia di 86:5, dan yang lain air di 86:6. Al-Qur'an membiarkan keduanya terbuka.
Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas pengembaliannya lebih dulu, baru kata yang menyatakan kuasa. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan bukan bahwa Dia kuasa melainkan atas apa kuasa-Nya tertuju.
Kata yang menyebut pengembaliannya kata benda, bukan kata kerja, sehingga yang dinyatakan perbuatannya sebagai perkara, bukan sebagai peristiwa yang sedang berlangsung. Waktunya tidak disebut sama sekali di dalam ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata yang menyebut pengembalian dipakai di 103 ayat, dan ia muncul dua kali di dalam surah pendek ini, yaitu di 86:8 dan 86:11. Di sini ia menyebut pengembalian manusia, dan di 86:11 sesuatu yang dimiliki langit. Jadi satu akar dipakai Allah untuk dua pengembalian yang berbeda, dan letak keduanya berjarak tiga ayat. Satu akar yang dipakai dua kali di dalam surah sependek ini menahan perhatian pada perbedaan maksudnya, sebab jaraknya cuma tiga ayat.
- Kata ganti pada ujung kata keduanya berbentuk laki-laki tunggal, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang. Yang paling dekat letaknya manusia di 86:5, dan yang lain air di 86:6. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan. Membiarkan rujukan sebuah kata ganti terbuka menjaga kedua pembacaan tetap mungkin, dan menutupnya akan memilihkan salah satunya bagi pembacanya.
- Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas pengembaliannya lebih dulu, baru kata yang menyatakan kuasa. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan, dan yang ditegaskan bukan bahwa Dia kuasa melainkan atas apa kuasa-Nya tertuju. Urutan katanya sendiri yang mengerjakan penegasan itu. Mendahulukan keterangan atas kata yang diterangkannya adalah cara menegaskan yang dikerjakan urutan katanya sendiri, bukan kata tambahan.
- Kata terakhir berbentuk tak bertakrif bertanwin dan dipertahankan dengan huruf kecil, konsisten dengan disiplin yang sama di seluruh proyek. Jadi ia dibaca sebagai sifat, bukan sebagai nama. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab menuliskannya sebagai nama akan menambah kedudukan yang tidak dinyatakan bentuk katanya sendiri. Membaca sebuah kata sebagai sifat atau sebagai nama menentukan apa yang dinyatakan, dan bentuk katanya sendiri yang menentukan pembacaan mana yang benar.
- Dua ayat sebelumnya menyebut asal-usul yang paling sederhana, dan ayat ini menyebut kuasa mengembalikan. Jadi Allah menaruh asal yang paling rendah dan kuasa yang paling besar berdampingan dalam jarak dua ayat. Apa yang lebih sulit bagi seseorang: memercayai bahwa ia berasal dari sesuatu yang sesederhana itu, atau memercayai bahwa ia akan dikembalikan? Menyandingkan asal yang sederhana dengan kuasa yang besar menaruh dua hal yang paling berjauhan ukurannya di dalam jarak yang paling dekat.
- Empat ayat sebelumnya berjalan tanpa menyebut siapa yang mengerjakan, dengan kata kerja pasif di 86:5 dan 86:6. Baru di ayat ini kata ganti yang menunjuk kepada-Nya muncul. Jadi Allah menahan penunjukan itu selama empat ayat, dan itu pun cuma berupa kata ganti, bukan nama. Nama-Nya tidak disebut sama sekali di seluruh surah ini. Menahan penunjukan selama empat ayat lalu menyebutnya lewat kata ganti saja adalah cara menghadirkan tanpa menamai, dan itu berlaku di seluruh surah ini.