فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ

Maka baginya tidak ada lagi kekuatan dan tidak ada penolong.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَمَا لَهُ مِنْ قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍfa-maa lahu min quwwatin wa-laa naashirinmaka baginya tidak ada lagi kekuatan dan tidak ada penolong

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. فَمَاfa-maamaka tidak ada
  2. لَهُlahubaginya
  3. مِنْmindari
  4. قُوَّةٍquwwatinkekuatan
  5. وَلَاwa-laadan tidak pula
  6. نَاصِرٍnaashirinpenolong

Inti bacaan

Ketidakberdayaan total pada momen tersebut: 'maka, baginya tidak ada lagi kekuatan dan tidak (pula) ada penolong', pengakuan bahwa pada saat pengungkapan rahasia, tidak ada sumber daya internal atau eksternal yang bisa diandalkan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(manusia)" dan "(pula)" tidak dipakai. Kata ganti di dalam ayat ini tidak dinamai, dan yang paling dekat letaknya manusia di 86:5. Menyisipkan nama akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka, dan menambahkan kata penghubung akan menambah sesuatu yang tidak ada di Arabnya. Kata (نَاصِرٍ, naashirin) pun tidak menyebut siapa yang seharusnya menolongnya.

Kata (نَاصِرٍ, naashirin) berasal dari akar yang berarti menolong. Akar itu dipakai di 137 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut pertolongan Allah kepada hamba-Nya, antara lain di 3:126, 8:10, dan 47:7. Jadi akar yang hampir selalu menyebut pertolongan yang diberikan, di sini dipakai untuk menyatakan ketiadaannya.

Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) dan kata (نَاصِرٍ, naashirin) keduanya tidak bertakrif dan keduanya berada di dalam pengingkaran. Jadi yang dinyatakan bukan ketiadaan kekuatan tertentu atau penolong tertentu melainkan ketiadaan keduanya sama sekali. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian.

Susunan ayat ini menyebut dua hal yang berbeda jenisnya: yang pertama dari dalam dirinya dan yang kedua dari luar. Jadi Al-Qur'an menutup dua arah pertolongan sekaligus, yaitu yang bisa diusahakan sendiri dan yang bisa diminta dari orang lain. Tidak ada arah ketiga yang disebut.

Letak ayat ini juga menerangkan. Ia datang tepat sesudah 86:9 yang menyebut hari diuji, sehingga ketiadaan kekuatan dan penolong itu berlaku pada hari itu, bukan pada hari-hari sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyatakan pembatasan waktu itu dengan kata tersendiri, dan yang menandainya cuma letak ayatnya.

Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) berbentuk tunggal dan tidak bertakrif, dan huruf min di depannya menguatkan pengingkarannya. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar tidak ada kekuatan melainkan tidak ada satu pun kekuatan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai juga di 86:14 dengan huruf yang berbeda, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya, bukan sebagiannya saja.

Bentuk (نَاصِرٍ, naashirin) bentuk pelaku tunggal, sehingga yang diingkari bukan pertolongannya melainkan orang yang menolongnya. Jadi Al-Qur'an tidak berkata bahwa tidak ada pertolongan melainkan bahwa tidak ada penolong. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama meniadakan perbuatannya, dan yang kedua meniadakan pihak yang bisa mengerjakannya, dan yang kedua lebih menutup daripada yang pertama.

Kata (قُوَّةٍ, quwwatin) disebut lebih dulu dan (نَاصِرٍ, naashirin) menyusul, sehingga yang dari dalam disebut sebelum yang dari luar. Urutan itu sejalan dengan urutan di 86:5 sampai 86:7 yang menyebut asal-usul sebelum tempat keluarnya. Jadi surah ini berulang kali bergerak dari yang di dalam ke yang di luar.

Tafsiran

Ayat ini menutup bagian tengah surahnya dengan menyatakan ketiadaan dua hal, dan keduanya tidak bertakrif serta berada di dalam pengingkaran. Jadi yang dinyatakan bukan ketiadaan kekuatan tertentu atau penolong tertentu melainkan ketiadaan keduanya sama sekali.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 137 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut pertolongan Allah kepada hamba-Nya, antara lain di 3:126, 8:10, dan 47:7. Jadi akar yang hampir selalu menyebut pertolongan yang diberikan, di sini dipakai untuk menyatakan ketiadaannya.

Susunan ayat ini menyebut dua hal yang berbeda jenisnya: yang pertama dari dalam dirinya dan yang kedua dari luar. Jadi Al-Qur'an menutup dua arah pertolongan sekaligus, yaitu yang bisa diusahakan sendiri dan yang bisa diminta dari orang lain. Tidak ada arah ketiga yang disebut.

Letak ayat ini juga menerangkan. Ia datang tepat sesudah 86:9 yang menyebut hari diuji, sehingga ketiadaan kekuatan dan penolong itu berlaku pada hari itu, bukan pada hari-hari sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyatakan pembatasan waktu itu dengan kata tersendiri, dan yang menandainya cuma letak ayatnya.

Kata keduanya bentuk pelaku tunggal, sehingga yang diingkari bukan pertolongannya melainkan orang yang menolongnya. Perbedaan itu perlu dijaga: meniadakan pihak yang bisa mengerjakan lebih menutup daripada meniadakan perbuatannya.

Renungan dan Hikmah

  • Susunan ayat ini menyebut dua hal yang berbeda jenisnya: yang pertama dari dalam dirinya dan yang kedua dari luar. Jadi Allah menutup dua arah pertolongan sekaligus, yaitu yang bisa diusahakan sendiri dan yang bisa diminta dari orang lain. Tidak ada arah ketiga yang disebut, dan ketiadaan arah ketiga itu sendiri sudah menyatakan sesuatu. Menutup dua arah sekaligus tanpa menyebut arah ketiga membuat ketiadaan arah ketiga itu sendiri terbaca sebagai bagian dari pernyataannya.
  • Kata kedua berasal dari akar yang dipakai di 137 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut pertolongan Allah kepada hamba-Nya, antara lain di 3:126, 8:10, dan 47:7. Jadi akar yang hampir selalu menyebut pertolongan yang diberikan, di sini dipakai untuk menyatakan ketiadaannya. Satu akar yang di mana-mana menyebut pertolongan yang diberikan dan di sini menyatakan ketiadaannya membuat pernyataannya terasa lebih tajam.
  • Kedua kata di dalam ayat ini tidak bertakrif dan keduanya berada di dalam pengingkaran. Jadi yang dinyatakan Allah bukan ketiadaan kekuatan tertentu atau penolong tertentu melainkan ketiadaan keduanya sama sekali. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan oleh pembacanya.
  • Ayat ini datang tepat sesudah 86:9 yang menyebut hari diuji, sehingga ketiadaan kekuatan dan penolong itu berlaku pada hari itu, bukan pada hari-hari sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyatakan pembatasan waktu itu dengan kata tersendiri, dan yang menandainya cuma letak ayatnya. Sebelum hari itu, keduanya masih ada dan masih bisa diusahakan. Pembatasan waktu yang tidak dinyatakan dengan kata tersendiri tetap terbaca dari letak ayatnya, dan letak itu yang menjaga pernyataannya tidak berlebihan.
  • Kata ganti di dalam ayat ini tidak dinamai Allah, dan yang paling dekat letaknya manusia di 86:5. Menyisipkan nama akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka. Yang tidak dinamai tetap terbaca dari letaknya, dan pembacanya sampai kepada rujukannya tanpa perlu diberi tahu. Ketelitian itu menjaga agar tidak ada keterangan yang ditambahkan. Yang tidak dinamai tetap terbaca dari letaknya, dan menahan diri dari menamainya menjaga agar tidak ada keterangan yang ditambahkan ke dalam ayatnya.
  • Dua hal yang dinyatakan tidak ada di ayat ini justru dua hal yang paling diandalkan orang selama hidupnya: kemampuannya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Apa yang tersisa bagi seseorang ketika kedua-duanya dinyatakan tidak ada pada hari yang sama? Allah tidak menyediakan jawabannya di ayat ini, dan surahnya berpindah ke sumpah yang kedua. Dua hal yang paling diandalkan orang selama hidupnya dinyatakan tidak ada pada hari yang sama, dan ayat ini tidak menyebut apa yang menggantikannya.