وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ

Dan demi bumi yang memiliki rekahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِwa-l-ardhi dzaati sh-shad'idan demi bumi yang memiliki rekahan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  2. ذَاتِdzaatiyang memiliki
  3. الصَّدْعِsh-shad'irekahan

Inti bacaan

Kalimat kedua dan terakhir dari rangkaian yang dibuka di ayat sebelumnya, dengan susunan kata yang tidak diubah sedikit pun. Yang dipanggil sebagai saksi bukan ukurannya yang besar, melainkan satu retakan tipis pada permukaannya. Sesudah ini pembicaraan berpindah kepada perkataan, dan tidak ada satu kalimat pun yang menjembatani perpindahan itu.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الصَّدْعِ, ash-shad'i) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti membelah sampai tampak. Ia cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 15:94, 30:43, 56:19, 59:21, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.

Pemakaian di tiga ayat lainnya menerangkan luasnya. Di 15:94 tertulis (فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ, fa-shda' bimaa tu-maru), sampaikanlah secara terang apa yang diperintahkan kepadamu. Di 59:21 tertulis (مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ, mutashaddi'an min khasyyati llaahi), terpecah karena takut kepada Allah, tentang gunung. Di 56:19 akar itu dipakai untuk sakit kepala yang tidak menimpa penghuni surga.

Jadi satu akar yang cuma hidup di lima ayat memikul menyampaikan dengan terang, gunung yang terpecah, sakit kepala, dan rekahan bumi. Yang menyatukan seluruhnya terbelahnya sesuatu yang tadinya utuh. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (الصَّدْعِ, ash-shad'i) di sini memakai gambaran yang paling harfiah di antara kelimanya.

Susunan ayat ini sama dengan susunan 86:11: benda yang bertakrif, lalu kata yang berarti yang memiliki, lalu sifatnya. Dua ayat berturut-turut karena itu memakai rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma bendanya dan sifatnya. Kesejajaran serapat itu mengikat keduanya menjadi satu rangkaian sumpah. Kata (وَالْأَرْضِ, wa-l-ardhi) menggantikan kata untuk langit pada kedudukan yang sama persis.

Pasangan langit dan bumi di dua ayat ini juga patut dicatat. Pasangan yang sama muncul di 91:5 dan 91:6, dan di sana pun keduanya berdampingan sebagai isi sumpah. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan yang berbeda apa yang disebutkan tentang keduanya.

Kata (وَالْأَرْضِ, wa-l-ardhi) berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah, sama seperti kata pertama di 86:11. Jadi kedua ayat itu satu rangkaian sumpah, bukan dua sumpah yang terpisah. Huruf waw di depannya bisa dibaca sebagai huruf sumpah yang berulang atau sebagai kata sambung, dan Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang dimaksud, sehingga keduanya tetap terbuka.

Bentuk (الصَّدْعِ, ash-shad'i) kata benda tunggal bertakrif, dan ia tidak menyebut berapa banyak rekahan yang ada. Jadi yang dinyatakan sifatnya, bukan jumlahnya. Bandingkan dengan 86:11 yang juga memakai kata benda tunggal bertakrif untuk sesuatu yang berulang tanpa dihitung. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama menyebut sesuatu yang tidak terbilang dengan kata yang berbentuk tunggal.

Bentuk (وَالْأَرْضِ, wa-l-ardhi) berbentuk tunggal dan bertakrif, sama seperti kata untuk langit di 86:11. Jadi kedua benda itu disebut dengan bentuk yang sama persis, dan yang membedakan keduanya cuma sifat yang dilekatkan padanya. Kesamaan bentuk itu memperkuat ikatan antara kedua ayatnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sumpah demi bumi yang merekah bagi tumbuhnya tanaman, dan dengan itu ia menutup rangkaian sumpah yang kedua. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 15:94, 30:43, 56:19, 59:21, dan ayat ini.

Pemakaian di tiga ayat lainnya menerangkan luasnya. Di 15:94 akar itu dipakai untuk menyampaikan secara terang, di 59:21 untuk gunung yang terpecah karena takut kepada Allah, dan di 56:19 untuk sakit kepala yang tidak menimpa penghuni surga.

Jadi satu akar yang cuma hidup di lima ayat memikul menyampaikan dengan terang, gunung yang terpecah, sakit kepala, dan rekahan bumi. Yang menyatukan seluruhnya terbelahnya sesuatu yang tadinya utuh. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Susunan ayat ini sama dengan susunan 86:11, dan dua ayat berturut-turut memakai rangka yang sama persis. Pasangan langit dan bumi di dua ayat ini juga muncul di 91:5 dan 91:6, dan di sana pun keduanya berdampingan sebagai isi sumpah. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan yang berbeda apa yang disebutkan tentang keduanya.

Kata pertamanya berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah, sama seperti kata pertama di 86:11. Jadi kedua ayat itu satu rangkaian sumpah, bukan dua sumpah yang terpisah, dan bacaannya menyambung dari yang satu ke yang lain.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 15:94, 30:43, 56:19, 59:21, dan 86:12. Jadi ia salah satu akar yang paling jarang dipakai Allah, dan pembacanya cuma punya empat tempat lain untuk membandingkannya. Kelangkaan itu menahan perhatian pada tiap pemakaiannya. Akar yang cuma hidup di lima ayat menahan perhatian pada tiap pemakaiannya, sebab tidak ada banyak tempat lain yang bisa melunakkan gambarannya.
  • Di 15:94 akar itu dipakai untuk menyampaikan secara terang, di 59:21 untuk gunung yang terpecah karena takut kepada Allah, dan di 56:19 untuk sakit kepala yang tidak menimpa penghuni surga. Jadi satu akar memikul menyampaikan dengan terang, gunung yang terpecah, sakit kepala, dan rekahan bumi, dan yang menyatukan seluruhnya terbelahnya sesuatu yang tadinya utuh. Satu akar yang memikul empat gambaran yang berjauhan menerangkan bahwa yang tetap padanya bentuknya, yaitu terbelahnya sesuatu yang tadinya utuh.
  • Susunan ayat ini sama dengan susunan 86:11: bendanya yang bertakrif, lalu kata yang berarti yang memiliki, lalu sifatnya. Dua ayat berturut-turut karena itu memakai rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma bendanya dan sifatnya. Kesejajaran serapat itu mengikat keduanya menjadi satu rangkaian sumpah yang tidak bisa dipecah. Dua ayat berturut-turut yang memakai rangka yang sama persis terbaca sebagai satu satuan, dan memecahnya akan menghilangkan kesejajarannya.
  • Pasangan langit dan bumi di dua ayat ini muncul juga di 91:5 dan 91:6, dan di sana pun keduanya berdampingan sebagai isi sumpah. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan yang berbeda apa yang disebutkan tentang keduanya. Di 91 yang disebut pembuatnya, dan di sini yang disebut sifat yang dimilikinya. Dua surah yang memakai pasangan langit dan bumi dengan keterangan yang berbeda menerangkan bahwa pasangannya tetap dan isinya yang berubah.
  • Rekahan pada bumi yang membuat tumbuhan bisa keluar darinya. Jadi yang disumpahkan Allah bukan keutuhan bumi melainkan terbelahnya. Sesuatu yang utuh dan rapat tidak menumbuhkan apa pun, dan yang terbelah justru yang memungkinkan kehidupan keluar. Apa yang bisa tumbuh dari sesuatu yang tidak pernah retak sedikit pun? Sesuatu yang utuh dan rapat tidak menumbuhkan apa pun, dan yang terbelah justru yang memungkinkan kehidupan keluar dari dalamnya.
  • Yang disumpahkan di 86:11 dan 86:12 dua benda terbesar yang dikenal manusia, dan yang disebut tentang keduanya bukan besarnya melainkan sifat yang dimilikinya. Jadi Allah menyumpahkan bukan keberadaannya melainkan apa yang berulang padanya. Yang berulang lebih menerangkan daripada yang cuma ada, sebab yang berulang menunjukkan ada yang mengaturnya. Yang berulang lebih menerangkan daripada yang cuma ada, sebab yang berulang menunjukkan ada yang mengaturnya dan bukan cuma yang mengadakannya.