إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ
Sesungguhnya ia benar-benar perkataan pemutus,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌinnahu la-qawlun fashlunsesungguhnya ia benar-benar perkataan pemutus
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
- لَقَوْلٌla-qawlunbenar-benar perkataan
- فَصْلٌfashlunpemisah
Inti bacaan
Penegasan sifat tegas wahyu: 'sesungguhnya ia benar-benar perkataan pemutus', karakteristik wahyu yang memisahkan secara tegas antara kebenaran dan kebatilan, tidak ambigu atau bisa ditawar.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (لَقَوْلٌ فَصْلٌ, la-qaulun fashlun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (فَصْلٌ, fashlun) berasal dari akar yang berarti memisahkan dan memutuskan. Akar itu dipakai di 42 ayat, antara lain 6:57, 32:25, 42:21, 60:3, dan 78:17. Artinya memisahkan sesuatu dari yang lain sehingga keduanya tidak bercampur lagi.
Di 78:17 akar itu dipakai untuk hari pemisahan, dan di 42:21 untuk keputusan yang memisahkan. Jadi akar yang sama menyebut hari yang memisahkan dan perkataan yang memisahkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (فَصْلٌ, fashlun) di sini melekat pada perkataan, sedangkan di 78:17 ia melekat pada hari.
Kata ganti di awal ayat tidak dinamai, dan yang paling dekat letaknya tidak ada di ayat-ayat sebelumnya. Jadi rujukannya harus dicari dari luar susunan kalimatnya, dan yang paling masuk akal apa yang sedang dibacakan. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama. Rangkaian (لَقَوْلٌ فَصْلٌ, la-qaulun fashlun) menjadi berita bagi kata ganti itu tanpa menamainya.
Kedua kata di dalam rangkaian ini tidak bertakrif, dan huruf penegas di depan yang pertama menyatakan kepastian. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia perkataan pemutus yang tertentu melainkan bahwa ia sungguh-sungguh perkataan yang memutuskan. Ketiadaan kata sandang menyingkirkan pembacaan bahwa yang dimaksud satu perkataan yang sudah dikenal namanya. Kata (فَصْلٌ, fashlun) pun tanpa kata sandang, sehingga keduanya sejajar dalam hal itu.
Ayat ini jawaban bagi sumpah di 86:11 dan 86:12. Jadi langit yang punya pengembalian dan bumi yang punya rekahan disumpahkan untuk menyatakan sifat sebuah perkataan. Yang disumpahkan benda yang terbelah dan berulang, dan yang dinyatakan perkataan yang memisahkan. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Huruf inna di awal ayat dan huruf lam di depan kata (لَقَوْلٌ فَصْلٌ, la-qaulun fashlun) membentuk dua penguatan sekaligus. Jadi susunan yang paling kuat yang tersedia di dalam bahasanya dipakai untuk menyatakan sifat sebuah perkataan. Susunan berlapis yang sama dipakai di 86:4 dan 86:8, dan di ketiga tempat itu yang dikuatkan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata.
Kata (فَصْلٌ, fashlun) berbentuk kata benda, bukan kata sifat, meskipun kedudukannya menerangkan kata sebelumnya. Menerangkan sesuatu dengan kata benda lebih kuat daripada menerangkannya dengan kata sifat, sebab ia menyamakan keduanya alih-alih cuma melekatkan sifat padanya. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa perkataan itu memisahkan, melainkan bahwa ia pemisahan itu sendiri.
Kata (لَقَوْلٌ فَصْلٌ, la-qaulun fashlun) memakai kata yang berarti perkataan, bukan kata yang berarti bacaan atau kitab. Jadi yang dinyatakan sifatnya sebagai sesuatu yang diucapkan, bukan sebagai sesuatu yang dituliskan. Pilihan kata itu menaruh tekanannya pada apa yang didengar, bukan pada apa yang dibaca.
Tafsiran
Ayat ini menjadi jawaban bagi sumpah di 86:11 dan 86:12, dan rangkaian yang dipakai muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 42 ayat, dan artinya memisahkan sesuatu dari yang lain sehingga keduanya tidak bercampur lagi.
Di 78:17 akar itu dipakai untuk hari pemisahan, dan di 42:21 untuk keputusan yang memisahkan. Jadi akar yang sama menyebut hari yang memisahkan dan perkataan yang memisahkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun.
Kedua kata di dalam rangkaian ini tidak bertakrif, dan huruf penegas di depan yang pertama menyatakan kepastian. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia perkataan pemutus yang tertentu melainkan bahwa ia sungguh-sungguh perkataan yang memutuskan.
Langit yang punya pengembalian dan bumi yang punya rekahan disumpahkan untuk menyatakan sifat sebuah perkataan. Yang disumpahkan benda yang terbelah dan berulang, dan yang dinyatakan perkataan yang memisahkan. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya diletakkan berdampingan.
Kata keduanya berbentuk kata benda, bukan kata sifat, meskipun kedudukannya menerangkan kata sebelumnya. Menerangkan sesuatu dengan kata benda lebih kuat, sebab ia menyamakan keduanya alih-alih cuma melekatkan sifat padanya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kedua berasal dari akar yang dipakai di 42 ayat, dan artinya memisahkan sesuatu dari yang lain sehingga keduanya tidak bercampur lagi. Jadi yang dinyatakan Allah bukan bahwa perkataan itu jelas melainkan bahwa ia memisahkan. Sesuatu yang jelas bisa didengar lalu ditinggalkan; sesuatu yang memisahkan menaruh yang mendengarnya di salah satu sisi. Sesuatu yang jelas bisa didengar lalu ditinggalkan, dan sesuatu yang memisahkan menaruh yang mendengarnya di salah satu sisi tanpa menyediakan sisi ketiga.
- Di 78:17 akar yang sama dipakai untuk hari pemisahan, dan di 42:21 untuk keputusan yang memisahkan. Jadi akar yang sama menyebut hari yang memisahkan dan perkataan yang memisahkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya sendiri. Satu akar yang menamai hari sekaligus menamai perkataan menerangkan bahwa yang dikerjakan keduanya sama, yaitu memisahkan yang bercampur.
- Kedua kata di dalam rangkaian ini tidak bertakrif, dan huruf penegas di depan yang pertama menyatakan kepastian. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia perkataan pemutus yang tertentu melainkan bahwa ia sungguh-sungguh perkataan yang memutuskan. Ketiadaan kata sandang menyingkirkan pembacaan bahwa yang dimaksud satu perkataan yang sudah dikenal namanya. Ketiadaan kata sandang menyingkirkan pembacaan bahwa yang dimaksud satu perkataan yang sudah dikenal namanya, dan itu memperluas cakupannya.
- Kata ganti di awal ayat tidak dinamai Allah, dan yang paling dekat letaknya tidak ada di ayat-ayat sebelumnya. Jadi rujukannya harus dicari dari luar susunan kalimatnya, dan yang paling masuk akal apa yang sedang dibacakan. Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya. Rujukan yang harus dicari dari luar susunan kalimatnya membuat pembacanya menoleh kepada apa yang sedang dibacanya sendiri pada saat itu.
- Langit yang punya pengembalian dan bumi yang punya rekahan disumpahkan untuk menyatakan sifat sebuah perkataan. Yang disumpahkan benda yang terbelah dan berulang, dan yang dinyatakan perkataan yang memisahkan. Apa yang lebih pantas menjadi saksi bagi sesuatu yang memisahkan selain benda yang sendirinya terbelah? Benda yang sendirinya terbelah berdiri sebagai saksi bagi sesuatu yang memisahkan, dan kesejajaran itu tidak ditunjuk dengan satu kalimat pun.
- Rangkaian sumpah yang kedua cuma dua ayat, dan jawabannya datang di ayat ini, tepat satu ayat sesudahnya. Jadi kedua rangkaian sumpah di surah ini sama-sama pendek. Allah tidak menahan jawabannya lama di kedua tempat, berbeda dari 91:1 sampai 91:7 yang menahannya tujuh ayat penuh sebelum jawabannya datang. Sumpah yang jawabannya datang cepat bekerja berbeda dari sumpah yang menahan jawabannya lama, dan surah ini memakai yang pertama di kedua rangkaiannya.